
Pagi ini Arif dengan tergesa-gesa dipanggil oleh Bos nya siapa lagi kalau bukan Arya.
Arif juga tidak tahu masalah apa yang membuatnya dipanggil oleh Pak Arya.
Memang sejak beberapa bulan lalu Arif tidak lagi sebagai asisten Arya, karena Arya menempatkan Arif sebagai staf di HRD.
Lantas kenapa Arya memanggil Arif?
"Selamat Pagi Pak Arya,"Arif masuk ke ruang Arya.
Arya memberikan kode Arif untuk duduk.
"Ada apa Pak Arya memanggil Saya?" Arif langsung to the point.
"Mulai besok kamu Saya tugaskan sebagai Manager HRD menggantikan Pak Agus yang sudah pensiun.
"Baik Pak Arya, Terima kasih. Kalau begitu Saya permisi." Arif beranjak akan keluar ruangan Arya.
"Wait, " Arya kembali memerintahkan Arif duduk.
"Ada apa lagi Pak?" Arif bertanya.
"Rekrut 1 pegawai untuk membantu kamu, karena posisi kamu sebelumnya kosong." Arya memerintahkan merekrut 1 pegawai untuk menjadi Staf Arif.
"Baik Pak. Maaf Perempuan atau laki-laki Pak?" Arif bertanya
"Terserah Kau Rif, senyaman Kamu saja." Arya sering geleng-geleng kepala karena mantan asistennya ini pria yang pendiem dan tanpa ekspresi.
"Baik Pak, Saya balik ke ruangan."Arif meninggalkan ruangan Arya.
.
"Ada apa pak Arif, tumben Saya lihat kamu senyum, biasanya lempeng aja kayak jalan tol." Tari melihat ada senyum di wajah Arif yang merupakan moment langka.
"Maaf Mbak Pak Arya menugaskan Saya sebagai Manager HRD." Arif menjawab jujur.
"Wihhhhh, selamat Arif, keren." Tari memberikan jempol.
Ada apa sih berisik betul Tari sedang membicarakan apa dengan Arif? Arya melihat dari kaca ruangannya.
Arif hendak bergegas menuju ruangannya namun dia balik lagi ke meja Tari.
"Ada apa pak Arif kok balik lagi, ada perlu sama Pak Arya?" Tanya Tari heran.
" Begini Mbak Tari, Pak Arya meminta saya merekrut 1 pegawai sebagai staff di HRD, karena Saya menggantikan Pak Agus, maka tempat saya kosong. Mbak Tari ada kenalan untuk bisa direkrut?" Arif menanyakan pada Tari.
Tari berpikir sejenak " Butuh laki-laki atau perempuan?"
"Apa saja mbak, yang penting bisa bekerja sama dengan Saya." Arif menjawab.
Pak Arif ini Tari kenal pribadinya pendiam, sulit berekpresi dan berwajah lempeng. Sepertinya dia butuh partner yang bisa membuat suasana hidup.
"Kalo gitu Saya balik ke ruangan ya Mbak."
"Benter pak Arif, kalau perempuan Mbak ada teman kebetulan dia juga sedang mencari pekerjaan, bagaimana?" Tari menawarkan.
Arif berpikir cepat "Boleh Mbak, suruh datang kesini aja mbak, biar bertemu Saya."
__ADS_1
"Kamu bisa nya kapan? Sekarang atau besok?" Tari bertanya.
"Kalo yang bersangkutan hari ini bisa lebih baik." Arif memang sangat cepat dan efisien tak heran Arya mempercayakan Arif menjadi Manager HRD.
"Oke, Nanti Saya hubungi teman Saya, untuk datang kesini." Tari tersenyum segera dia mengambil HP dan menelpon temannya.
...****************...
"Halo, ada apa Ri, Lo ga ngantor? Tumben jam segini telpon gw?" Dian sahabat Tari pemilik Cafe tempat Tari dulu bekerja. Masih ingatkan kalian?
"Di, Lo serius mau kerja?" Tari menegaskan.
"Serius Ri, Gw udah ga mau handle Cafe apalagi sekarang tuh orang yang mau dijodohin bokap gw ada di cafe, males gw ngeliat tuh orang. Makanya gw mau cari kerja aja." Dian yang bete dengan perjodohan yang orang tuanya lakukan.
"Ok, kalo gitu Lo sekarang juga dateng ke kantor gw, Pas ada lowongan untuk staf HRD. Pake baju yang rapi dandan yang cantik ya. jangan asal. 1 jam gw tunggu ya." Tari kemudian menutup telponnya.
Dian yang masih bingung mendapat kabar dari Tari. Segera iya bersiap-siap.
Dian sebetulnya senang dan mau ketika diminta mengelola Cafe oleh orang tuanya. Namun Sejak ada pria di Cafe itu yang dijodohkan oleh dirinya, Dian menjadi malas ke Cafe.
Pria yang dijodohkannya itu adalah anak teman papanya. Dian tidak senang dengan apa yang dilakukan orang tuanya.
Maka Dian menerima tawaran Tari kali ini.
.
Dian datang dengan pakaian layaknya pelamar kerja dan membawa CVnya bergegas masuk ke lobby perusahaan. Lalu iya naik ke lantai 5 dimana Ruang HRD berada.
Dian menghubungi Tari sambil menunggu Lift.
"Ri, gw lagi di depan Lift nih. Gw naik ke lantai 5 ya?" Dian bertanya
Pintu Lift terbuka Dian keluar Lift bersama dengan Pria yang berjalan melewatinya,
Rambut panjang Tari tersangkut pada kancing baju pria itu.
Gerakan pria itu cepat membuat Dian terseret karena rambutnya tertarik mengikuti pria itu.
Dian yang keseimbangannya goyah jatuh dengan tangan Dian menarik lengan hendak melepas rambutnya. Sayangnya pria tersebut juga jatuh.
Tari yang memang menunggu Dian berjalan menuju Lift lantai 5 terkejut melihat Pak Arif dan Dian sahabatnya sedang jatuh tersungkur, dan keduanya sedang cekcok.
"Hei, kalian kenapa jatuh terus ribut disini." Tari heran dengan apa yang terjadi dengan keduanya.
"Mbak Tari, "Ri! Kedua saling melihat dan berdiri.
Keduanya bingung dan Tari menggiring mereka ke ruang HRD.
" Pak Arif, ini teman daya Dian yang saya ceritakan tadi." Dian ini Pak Arif manager HRD disini yang akan merekrut Staf HRD." Tari mengenalkan 1 sama lain.
Tari menyolek Dian kode untuk memberikan CV nya kepada Arif.
" Pak ini CV Saya." Dian sebetulnya masih kesal tapi ia tidak enak dengan Tari sahabatnya.
"Kalo bukan karena Mbak Tari kekasih Pak Arya, bakal gw tolak nih perempuan petasan banting." Arif dalam hati.
"Kalau gitu saya tinggal dulu ya Pak Arif, Saya titip temen saya ya Pak." Tari meninggalkan kedua nya agar lebih nyaman.
__ADS_1
"Sebelumnya pernah bekerja?" Arif bertanya.
"Saya mengelola Cafe Pak." Jawab Dian.
"Kenapa memutuskan sebagai pegawai, bukannya lebih fleksibel." Arif bertanya dengan wajah tanpa ekspresi.
Sumpah ini orang padahal ganteng tapi kayak tembok lempeng banget! batin Tari.
"Saya mau punya pengalaman baru pak." Dian menjawab.
"Kerja dikantor ada jam dan wakrunya, jadi apakah anda terbiasa dengan tekanan, maksudnya tidak bisa seenaknya sendiri, dan ada atasan yang akan menilai Anda. Bagaimana?" Arif menekankan.
"Huhhhhh, bilang aja dendam tadi gw katain muka tembok. sekarang mulai nunjukin taring. Oke siapa takut, Dian ditantang.!" Dian bergumam dalam hati bakal menerima tantangan ini.
"Saya siap pak!." Dian masih dengan mode mulai ngegas.
"Ok kalau gitu, saya akan coba selama 1 minggu, kalau saya lihat kamu punya progres bagus, saya akan lanjutkan, tapi kalau tidak mohon maaf." Arif memang tegas dan saklek.
"Baik Pak. Kapan saya mulai bekerja?" Dian bertanya.
"Saya rasa hari ini. Anda tentu ga punya kesibukan!" Arif dengan Nada sinis.
"Kurang ajar nie si muka tembok. Gw bakal buktiin ke dia kalo gw bisa kerja. Awas aja muka tembok!" batin Dian kesal.
"Oh iya siapa nama kamu?" Arif bertanya.
"Halahhhhhh, nie orang budek kali ya, atau amnesia. Baca donk di CV." batin Dian emosi.
"Dian Pak" jawab Dian.
"Dian, ikut saya." Arif membawa Dian untuk dikenalkan pada staf lain di bagian HRD.
"Perhatian semuanya, hari ini kita memiliki personil baru di HRD nama nya Dian. Saya harap Dian kamu bisa menyesuaikan dengan keadaan disini." Arif menjelaskan.
"Oh iya satu lagi, Tolong yang ditelinga kamu dilepas ya, Disini Kantor Bukan Cafe!" Arif sinis.
Arif meminta Dian melepas tindikan telinga yang sedikit banyak. Dian sering mengagumi Tasya Farasya dengan tindik telinga yang lebih dari semestinya.
Kira-kira seperti inilah telinga Dian.
"Sabar-sabar sama si muka tembok.
"Kamu kenapa bengong. Cepet ikuti saya!" Arif dengan suara tinggi.
Dian berjalan mengikuti Arif dengan kekesalannya sambil dalam hati menggerutu.
"Jangan coba-coba kamu mengumpat saya Dian!" Arif tahu Dian sedang merutukinya.
"Sialan Muka Tembok kok bisa tahu ya!" Dian curiga dia punya mata di belakang kepala.
"La, tadi siapa anak baru staf HRD yang sama Pak Arif." Wita lupa namanya waktu diperkenalkan.
"Dian.!" Jawab Lula.
"Tuh cewek salah apa ya sampe Pak Arif marah gitu. Baru kali ini gw lihat Pak Arif Marah begitu, biasanya lurus aja mukanya." Wita seperti akan segera mencari sumber Dian siapa dan bagaimana biasa kerja disini.
__ADS_1
Sementara Lula malah bete ternyata ada anak baru yang langsung bisa deket dengan Pak Arif.
...****************...