Bidadari Surga Untukku

Bidadari Surga Untukku
Part 11


__ADS_3

Hari-hari telah berlalu. Kini Saras dan Wildan sedang berada pada sebuah butik untuk fitting baju pengantin. 6 hari lagi adalah pernikahan mereka. Dan mulai besok Saras dan Wildan harus sudah di pingit.


"Ras, hari ini fitting terakhir, dan besok mulai di pingit.. Semoga aku tahan rindu ya nggak ketemu kamu 5 hari kedepan," ucap Wildan sambil merapikan jas pengantinnya.


"Apaan sih? Cuma 5 hari doang nggak lama kali," jawab Saras dengan wajah yang sudah memerah karena gombalan dari Wildan. Untung saja wajahnya tertutup cadar, sehingga Wildan tak dapat melihat wajahnya yang bersemu merah itu.


"Saras, aku udah nggak sabar deh nunggu hari itu. Hari di mana kita mengucap janji suci di depan Allah," ucap Wildan lagi. Saras terdiam. Gadis itu masih belum menyangka bahwa lelaki yang ada di hadapannya akan menjadi imamnya.


"Nanti sebelum pulang, kita mampir ke makam Abah sama Umi aku ya," Ujar Saras dan dijawab anggukan dari Wildan.


Usai dari butik, mereka langsung menuju pemakaman di mana kedua orang tua Saras dikebumikan.

__ADS_1


"Assalamualaikum Abah, Umi. Saras datang. Maafkan Saras baru sempat kesini. Abah, Umi kenalin ini Mas Wildan. Calon suami Saras. Kita akan segera menikah. Semoga Abah dan Umi merestui Saras dan Mas Wildan," ucap Saras menabur bunga pada kedua makam orang tuanya yang bersebelahan. Setetes air mata berhasil meluncur dengan mulus pada pipinya saat mengucap itu.


"Assalamualaikum Abah, Umi," sambung Wildan juga. Melihat Saras menangis rasanya ia sangat tidak tega.


Mereka lalu memanjatkan doa dipimpin oleh Wildan. Selesai berdoa Saras mengusap kedua nisah orang tuanya yang bersebelahan. Tak dapat dipungkiri ia sedih, karena menjelang pernikahannya, kedua orang tuanya tak menemani Saras.


"Ayo kita pulang," ajak Wildan yang tak ingin melihat Saras terus-terusan menangisi takdir. Ia tak tega, ingin rasanya memeluk Saras namun mereka belum halal.


"Abah, Umi. Saras pamit dulu, Abah sama Umi jangan lupa doain Saras ya," ucap Saras tersenyum menatap kedua batu nisan bergantian, seakan ia sedang berbicara dengan kedua orang tuanya. Saras beranjak dan disusul Wildan.


"Assalamualaikum," Saras mengucap salam lalu pergi. Begitupun dengan Wildan, ia mengucap salam dengan lirih namun menyusul langkah Saras yang sudah menjauh menuju mobil.

__ADS_1


Sepanjang jalan Saras hanya diam, walaupun wajahnya tertutup cadar, namun Wildan dapat merasakan bahwa Saras sedang murung sejak dari pemakaman tadi. Tak berapa lama kemudian mobil masuk ke tempat parkir apartemen Saras.


Wildan langsung berpamitan usai mengantar Saras, ia harus segera kembali ke kantor. Saras masuk ke apartemennya dan disambut oleh kakaknya dan dua keponakannya. Saras langsung masuk ke dalam kamarnya, suasana moodnya sedang tak baik. Mungkin bawaan tamu bulanan.


🌼🌼🌼🌼


Hai-hai, mohon maaf sekali author jarang up. Karena bener-bener lagi sibuk dan kurang semangat juga (semangatin author dong, hehe)..


Mohon maaf juga kalau judul novelnya author ubah, soalnya setelah dipikir-pikir judul itu kurang pas dengan alur yang ada di imajinasi author.. Tapi nggak ada cerita diubah kok, cuma judul aja. Jadi mohon dipahami yaaa,


Tetep dukung karya author dengan like dan komen yang positif yaaa.. Author sayang kalian semuaaa😚 aaaamiiccuuu💜

__ADS_1


__ADS_2