Bidadari Surga Untukku

Bidadari Surga Untukku
Part 16


__ADS_3

Hingga malam hari, Saras masih terdiam di kamarnya. Dari siang ia belum makan, ia juga mengunci kamarnya tak membiarkan siapapun masuk. Mila yang khawatir dengan keadaan adiknya itu berbicara kepada Fikri, suaminya yang baru tiba dari Bandung. Ia sangat terkejut mendengar kabar bahwa pernikahan Saras diundur atas keinginan Wildan.


"Kita harus gimana Mas? Haruskah kita menghubungi Wildan? Kita juga harus tau alasan kenapa Wildan mengundur pernikahannya," tanya Mila meminta pendapat suaminya.


"Jangan sayang, Mas tau pasti Wildan punya alasan tersendiri kenapa dia mengambil tindakan ini. Kita juga harus menghargai keputusan Wildan," jawab Fikri. Mila hanya diam.


"Tapi Mas, aku nggak tega lihat Saras seperti ini. Kamu tau seberapa tertutupnya Saras sama orang lain, tapi giliran Saras mencoba buka hati malah disia-siain. Aku nggak bisa terima adik aku harus merasakan sakit Mas," ucap Mila lagi, ia menangis membayangkan bagaimana hancurnya hati Saras. Fikri yang melihat istrinya menangis segera memeluknya untuk memberi ketenangan.


Sementara di kamar Saras..


Jam sudah menunjukkan pukul 02.45 dini hari. Terlihat Saras sedang duduk di atas sajadahnya. Ia baru selesai menunaikan sholat tahajud. Matanya bengkak karena semalaman ia menangis tiada henti. Ia sempat tertidur beberapa menit lalu kembali terbangun.


"Ya Allah, kuatkan lah hamba. Lapangkanlah dada hamba untuk menerima keputusan ini Ya Allah. Jika Wildan adalah yang terbaik, hamba percaya ia akan kembali. Kuatkan lah hamba Ya Allah," ucap Saras dalam hati. Matanya menatap kosong ke depan. Ia sudah tak sanggup menangis lagi, walau hatinya masih terasa sesak dan sakit. Ia menghela nafas kasar lalu bangkit dari duduknya. Ia merapikan alat sholatnya kemudian berjalan ke bagian rak buku dan mengambil beberapa buku untuk di baca.


Jika sedang sedih, Saras memang suka membaca buku. Karena ia tau jika dirinya sedang sedih ia tak akan beristirahat dengan tenang. Saras duduk di ranjangnya dan bersandar. Ia mulai membaca buku yang berjudul Wanita Solehah.


Sama seperti Saras, Wildan di rumahnya juga selesai melaksanakan sholat tahajud. Dari semalam pikirannya tidak tenang, ia terus memikirkan Saras, apalagi ponselnya tidak bisa dihubungi. Selesai sholat ia mengambil ponselnya mencoba menghubungi Saras kembali, ia sudah hafal jika Saras pasti sudah bangun karena habis melaksanakan sholat tahajud.


Nomer Saras aktif, namun tak ada jawaban. Saras sengaja menjauhkan ponselnya dan dalam mode silent agar tidak ada yang mengganggunya. Wildan mulai frustasi karena ia sudah ratusan kali mencoba menghubungi Saras tetapi tiada jawaban.

__ADS_1


"Ya Allah, apa aku salah? Tidak seharusnya aku mengatakan itu dengan Saras. Sekarang di mana dia? mengapa Saras tidak menjawab teleponku," tanya Wildan pada dirinya sendiri.


"Aku harus ke apartemen Saras besok, aku harus ketemu sama dia," monolog Wildan. Ia berniat untuk ke apartemen Saras besok.


Keesokan Harinya...


"Mas, Mbak. Saras ke kantor dulu ya," ucap Saras lirih. Fikri dan Mila saling beradu pandang lalu melihat Saras.


"Kamu beneran mau masuk kantor?" tanya Mila yang khawatir tentang kondisi Saras. Dan hanya dijawab anggukan oleh Saras.


"Ya udah Saras pamit dulu, Assalamualaikum," Saras langsung pergi begitu saja. Mila dan Fikri jelas melihat mata sembab Saras walau tertutupi oleh cadar.


"Assalamualaikum Mbak," Wildan mengucap salam dengan sopan.


"Waalaikumsalam, ada apa?" tanya Mila ketus, itu membuat Wildan menjadi salah tingkah. Pasti Mila sudah tau masalah antara Wildan dan Saras.


"Ehh Wildan. Ayo masuk," ajak Fikri yang muncul dari belakang Mila. Ia melihat Mila sedang berbicara dengan seseorang dan ternyata itu adalah Wildan.


"Ngapain si Mas, aku lagi bersihin ruang tamu," kesal Mila yang langsung masuk meninggalkan Wildan dan Fikri.

__ADS_1


"Ada apa Wildan?" tanya Fikri yang masih menghormati Wildan.


"Mas, Wildan mau cari Saras. Apa Saras ya ada?" Wildan balik bertanya.


"Ngapain cari Saras?! Nggak usah cari-cari dia kalau kamu cuma mau menyakiti Saras," teriak Mila dari dalam apartemen. Fikri dan Wildan tertegun mendengar teriakan Mila. Rasa bersalah menghinggapi hati Wildan.


"Ehm, Wildan maafin Mbak Mila ya. Ohh iya Saras sudah pergi ke kantor," jawab Fikri.


"Hahh, Saras sudah berangkat kantor Mas?" tanya Wildan lagi.


"Iya, tadi pagi dia berangkat. Mungkin karena dia berfikir pernikahan kalian batal jadi Saras tidak harus berada dirumah lagi," terang Fikri.


"Ya udah Mas, Wildan pamit ke kantor Saras dulu. Assalamualaikum," Wildan mencium punggung tangan Fikri lalu langsung berlari menuju lift. Ia harus segera ke kantor Saras.


Saras sudah tiba di kantor, awalnya Fella sangat terkejut melihat atasannya masuk kantor padahal lusa adalah hari pernikahannya. Namun saat melihat wajah atasannya sedang bersedih, sepertinya Fella paham dengan masalah yang dialami Saras.


"Fella tolong kamu handle meeting nanti. Dan tolong jangan izinkan sembarang orang masuk, karena saya tidak ingin di ganggu," ucap Saras pada Fella. Fellapun mengerti dan meninggalkan ruangan bosnya itu. Sepeninggal Fella, Saras memutar kursinya membelakangi pintu, ia kembali menangis.


"Tak ku sangka ternyata sesakit ini Ya Allah," gumam Saras. Ia baru pertama kali merasakan yang namanya patah hati, dan ternyata itu sangat sakit.

__ADS_1


__ADS_2