
Tepat pukul 8 malam Saras baru tiba di Apartemennya. Malam ini Saras pulang lebih lambat dari biasanya karena ada beberapa hal yang harus ia urus, termasuk Wildan.
Entah mengapa sejak Saras memanggilnya dengan sebutan sayang, Saras tak bisa berhenti memikirkan Wildan.
"Ahh, ayolah Ras. Jangan mikirin Wildan terus.." kata Saras pada dirinya sendiri.
Ia merebahkan dirinya kekasur setelah melepas Sepatu dan Cadarnya. Selang beberapa detik kemudian Hp Saras berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Saras mengambil hpnya, ia memutar bola matanya malas saat tahu yang menelfonnya adalah Wildan.
"Ini orang kenapa sih? Masa dalam sehari dia telfon sampe puluhan kali, kayak orang pacaran aja.." Gerutu Saras
"Hallo Assalamualaikum.." Seperti biasa Saras mengucap salam saat mengangkat telfon.
"Waalaikumsalam, saras kamu kemana aja, saya telfon kamu tapi tidak ada jawaban.." cerocos Wildan dari seberang.
"Maaf, saya baru pulang.." jawab Saras lesu.
"What? Ras, kenapa kamu baru pulang? Bukannya tadi saya sudah berpesan jangan pulang terlalu malam, nanti kamu kecapekan.."
"Dan, apa sih urusan kamu, mau saya pulang malam kek atau ngga pulang itu terserah saya, kenapa kamu atur-atur saya?"
"Ras, saya hanya tidak mau kamu sakit.." Saras tidak bergeming, mengapa akhir-akhir ini sikap Wildan ke aku berubah? batinnya.
"Ada apa?" Nada bicara Saras mulai ketus.
__ADS_1
"Saras, kamu marah? saya berkata seperti ini untuk kebaikan kamu, saya peduli sama kamu Saras.." Ucapan Wildan membuat Saras kaget, mengapa sikap Wildan berubah drastis.
"Ada apa kamu telfon saya?" Tanya Saras sekali lagi.
"Saya mau besok kita ketemu, ada yang mau saya omongin.." Jawab Wildan
"Maaf besok saya sibuk," jawab Saras cepat
"Baiklah jika kamu sibuk, besok saya yang akan kekantor kamu.." Timpal Wildan
"Wildan, ada apa sih? Tadi siang katanya kamu mau telfon, ada sesuatu yang mau kamu omongin, sekarang kamu bilang besok kita harus ketemu ada yang mau kamu omongin, ada apa? Ngomong aja sekarang.."
"Maaf, tapi ini hal yang serius saya tidak bisa membiarkan lewat telfon.."
"Lebih baik sekarang kamu bersih-bersih, terus tidur. Udah makan?" Tanya Wildan.
"Udah.."
"Syukurlah, Ya udah sana mandi, terus langsung istirahat, jangan mikirin saya terus. Assalamualaikum.." Wildan menutup telfonnya, dari mana dia tahu kalau seharian Saras tidak fokus bekerja karena Wildan, sudahlah mungkin hanya kebetulan. Saras beranjak dari kasurnya dan masuk ke kamar mandi.
Sementara..
"Gimana nak?" Tanya seorang wanita paruh baya kepada lelaki dihadapannya, dan itu adalah Wildan.
__ADS_1
"Besok Wildan akan kekantor Saras Mah untuk menyelesaikan semuanya.." Jawab Wildan kepada wanita itu yang ternyata adalah Mamahnya.
"Mamah dukung kamu nak,.." kata Mamah lagi
"Ya udah Mah, Wildan mau istirahat, besok ada meeting pagi.."
Keesokan Harinya...
"Baiklah Bu Saras jadi kita sudah deal ya mengenai terbitan buku yang baru." Tanya seorang pria muda pada Saras sewaktu rapat hampir usai.
"Iya Pak Tommy,.." jawab Saras.
"Baik jika rapat ini sudah selesai, saya dan tim mohon pamit Bu.. Assalamualaikum.." Ucap Tommy yang tak lain adalah kepala penerbit untuk buku yang akan Saras terbitkan.
"Waalaikumsalam warahmatullah.." Jawab Saras serta yang lain.
"Bu maaf, ada tamu.." Kata Fella sepeninggal Tommy dan timnya.
"Tamu? Buat saya?" Saras memastikan
"Iya Bu, tamunya sudah menunggu diruangan ibu.." kata Fella lagi.
"Ya sudah Fell, tolong kamu beresin ini dulu, saya mau menemui tamu saya.."
__ADS_1
"Wildan.." pekik Saras perlahan saat melihat Wildan ada diruangannya.