Bidadari Surga Untukku

Bidadari Surga Untukku
Part 15


__ADS_3

3 hari kemudian...


sudah 3 hari Saras dan Wildan tak saling bertemu. Wildan masih tetap berangkat bekerja hingga besok, lusa baru ia akan libur menjelang pernikahan. Selama 3 hari pula Ellena selalu menggodanya, memohon untuk balikan. Wildan dilanda kegalauan yang hebat. Hatinya sekarang bimbang.


Berkali-kali ia mengabaikan telfonnya yang terus berdering, banyak panggilan masuk dari Saras. Ia khawatir Wildan tak ada kabar. Namun sebaliknya Wildan malah menghindari untuk berbicara dengan Saras.


"Dan, harus gimana aku bilang sama kamu? sebentar lagi kalian menikah. Mantapkan lah hati kamu, tolong jangan kecewakan Saras," ucap Liana.


"Aku harus gimana Li, kenapa rasanya aku ragu," lirih Wildan.


"Wildan cukup!! apa cinta membuatmu bodoh?! Jika kamu masih menganggapku sepupumu, dengarkan aku.. Lupakan Ellena dan mulai hidup kamu dengan Saras," ucap Liana lagi yang sengaja menekan setiap perkataannya.


Wildan menatap Liana yang sedang marah. Benar kata Liana, kini ia bodoh sangat bodoh.


"Pikirkan baik-baik, kesempatan tidak akan datang dua kali," lirih Liana meninggalkan ruangan Wildan dengan perasaan kesal dan marah.


Sepeninggal Liana, Wildan kembali termenung. Hatinya semakin tidak tenang. Ia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Saras.


"Hallo Assalamualaikum," Wildan mengucap salam saat telfon sudah tersambung.


"Waalaikumsalam, Mas. kamu kemana aja? Dari kemarin aku telfon kamu ngilang, aku khawatir," ucap Saras. Wildan terdiam mendengar Saras yang bawel.

__ADS_1


"Kamu kenapa diam? kamu sakit?" tanya Saras dengan nada panik.


"Saras, aku minta maaf," hanya Kata itu yang keluar dari mulut Wildan.


"Maaf? Kenapa Mas?" tanya Saras dengan perasaan was-was.


"Aku rasa pernikahan kita harus diundur," lirih Wildan.


Jeeeddeeerrr..


Bagai tersambar petir disiang bolong, Saras yang mendengar itu kakinya mendadak lemas. Buliran air perlahan menetes dari matanya.


"Kenapa? Aku ada salah apa sama kamu Mas?" tanya Saras yang sudah menangis.


Saras yang sudah kecewa, ia langsung mematikan telfonnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Saat itu Mila, kakak Saras masuk ke kamar Saras. Ia melihat adiknya menangis segera memeluk untuk menenangkannya.


"Astagfirullah halladzim, Dek kamu kenapa?" tanya Mila khawatir.


"Mbak, hiks.. hiks.." Saras tak mampu berucap, saat ini ia sangat kecewa. Disaat hatinya sudah memilih Wildan, namun ternyata Wildan sendiri masih ragu.


Milla hanya memeluk adiknya dan menenangkannya. Tak pernah ia melihat Saras menangis seperti ini.

__ADS_1


Setelah dirasa Saras cukup tenang, Mila kembali bertanya kepada Saras.


"Kenapa harus seperti ini? Wildan mengundur pernikahan kita," ucap Saras. Terkejut tentu saja Mila rasakan.


"Kenapa Wildan mengundur pernikahan kalian?" tanya Mila hati-hati.


"Aku nggak tau Mbak," jawab lirih Saras yang memang tidak tau alasan Wildan mengundur pernikahannya.


"Ya udah kamu yang tenang ya, pasti Wildan punya alasan," ucap Mila. Saras hanya diam. Hatinya masih sangat kecewa.


Sementara di tempat Wildan, hatinya semakin bimbang saat Saras menutup telfonnya. Ia tau pasti Saras sangat kecewa. Tapi mungkin ini yang terbaik, ia perlu waktu untuk merenung lagi.


"Hai Sayang," seorang wanita tampak masuk ke dalam ruangan Wildan, siapa lagi kalau bukan Ellena. Ia hanya diam saat Ellena mendekat dan mencium pipinya.


"Ada apa?" tanya Wildan datar.


"Aku mau ajak kamu makan siang. Kita lunch bareng yuk," ajak Ellena yang sudah duduk dipangkuan Wildan. Dan entah mengapa Wildan pun tidak menolak.


Wildan, kenapa kamu jadi seperti ini? Apakah kamu akan menerima Ellena kembali? Pikirkan perasaan Saras Wildan, batin Wildan memberontak. ia kemudian beranjak dari duduknya menyebabkan Ellena yang sedang duduk di pangkuannya hampir terjatuh.


"Maaf aku ada janji dengan orang lain. Lebih baik kamu pergi," ucap Wildan tanpa menoleh ke arah Ellena. Ellena lalu keluar dari ruangan Wildan dengan perasaan kesal. Ia gagal lagi membujuk Wildan.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼


__ADS_2