
"Kamu udah pulang?" tanya Wildan dengan seseorang yang ada diseberang telpon.
"Udah.." jawab seorang Wanita yang ternyata Saras.
"Besok aku jemput ya.." Tawar Wildan
"Ngga usah. Aku nggak mau ngrepotin kamu.."
"Kebiasaan nih anak, pasti selalu nolak. Coba udah berapa kali kamu nolak aku buat jemput kamu?"
"Bukan aku yang sering nolak, kamunya yang selalu maksa, udah ahh aku mau bersih-bersih dulu.." Saras menutup telponnya.
Didalam Apartemen Saras
Saras sudah selesai mandi, Bersih-bersih. Jam dinding sudah menunjuk pukul 00.25 WIB. Sudah lewat tengah malam. Saras menuju tempat tidur, sejak sehabis mandi tadi, ia merasa kurang enak badan dan mulai bersin-bersin.
Baru saja ia merebahkan diri di kasurnya, hpnya kembali berdering. Saras melihat nama yang ada dilayar hpnya. Panggilan masuk dari mas Tommy? Ada apa Mas Tommy menghubungiku jam segini? Batin Saras bertanya.
"Hallo Assalamualaikum Mas,." Saras mengangkat telepon
"Waalaikumsalam Ras, Kamu belum tidur?" tanya Tommy dari ujung telpon.
"Ini baru mau tidur mas, ada apa?" tanya Saras sopan
"Ahh maaf aku ganggu ya? Aku cuma mau bilang, kamu besok ada waktu? Kita bisa ketemu?"
"Ada apa ya Mas? bukankah urusan Launching buku baru sudah selesai?"
"Kita Ngga bahas buku. Ada sesuatu yang aku Mau Omongin.."
__ADS_1
"Aduh maaf Mas, sepertinya Saras belum bisa, soalnya besok ada meeting dengan Pak Arga, mau bahas buat syuting Minggu depan."
"Sebentar aja.." Tommy terus membujuk Saras
"Iya insyaallah deh Mas.." Jawab Saras pasrah
"Oke kalau gitu. Sekarang kamu tidur ya, good night.." Saras menutup telponnya tanpa membalas kalimat dari Tommy.
Keesokan paginya..
"Hallo Bu Saras, kenapa jam segini ibu belum datang?" tanya Fella sekretaris Saras
"Fell, maafin saya. Kayaknya hari ini saya nggak bisa kekantor,." jawab Saras ditelpon.
"Kenapa Bu? Ada apa?" tanya Fella yang mulai khawatir.
"Baik Bu, ibu istirahat saja di rumah.."
"Fell, saya nitip kantor ya buat hari ini. Oh iya, kalau Pak Tommy datang mau ketemu saya, bilang aja saya ngga berangkat lagi berkunjung kerumah kakak saya di Bandung,."
"Iya Bu.." Fella menurut apa yang dikatakan Saras.
Fella menutup telponnya dan tanpa sadar ada seseorang yang mendengarkan dari tadi.
"Ada apa dengan Saras Fell?" tanya Wildan yang sedari tadi sudah mendengarkan obrolan Fella dan Saras.
"Pak Arga, maaf pak. Bu Saras lagi sakit pak.."
"Apa? Saras sakit?"
__ADS_1
"Iya pak.."
Wildan segera berlari menuju mobil meninggalkan Fella. Fella sendiripun sudah merasa wajar dengan itu, karena Arga/Wildan itu adalah calon suami Saras.
Wildan melajukan mobilnya menuju apartemen Saras. Untung saja jarak apartemen dengan kantor Saras tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit.
Wildan segera naik menuju apartemen Saras. Wildan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.
"Kamu buka, aku didepan kamar kamu." Wildan mengetikkan sebuah pesan Untuk Saras.
Tak lama setelah itu, pintu terbuka. muncul seorang gadis dengan wajah pucat dibalik cadarnya. Kamar Saras dekat dengan Balkon apartemen, di balkon adalah tempat biasa Saras dan Wildan mengobrol.
"Kamu kok kesini?" Tanya Saras
"Kamu masih nanya kenapa aku kesini? Ya jelaslah aku khawatir sama kamu.." Jawab Wildan Jujur.
"Aku ngga apa-apa. Jadi jangan Khawatirin aku ya." Saras berusaha bersikap tenang, namun ia berkali-kali bersin.
"Gimana aku ngga khawatir, sekarang kamu sering banget pulang malem, jadi sakit kan."
"Iya, maafin aku, itu kan kerjaan, kalo semisal ngga aku kerjain gimana? Kan dikejar deadline.."
"Kan ada Fella.."
"Ihh kamu ngga kasihan apa sama Fella, dia udah ngurusin semua kegiatan aku, aku ngga mau nambah beban dia. Lagipula ini harus aku kerjain sendiri."
"Iya, tapi jangan sampai lupa istirahat dong, aku ngga pingin kamu sakit.." Jawab Wildan.
Mereka saling mengobrol berdua tentang banyak hal.
__ADS_1