Bidadari Surga Untukku

Bidadari Surga Untukku
Part 18


__ADS_3

Sore hari Saras masih berdiam diri di kantor. Tadi ia baru berbincang dengan Liana, sekretaris Wildan dan Sahabat Saras. Ia berbagi cerita keluh kesah pada Liana. Tak lama kemudian ponselnya berdering,


Umi memanggil.. Saras terdiam begitu melihat siapa yang memanggil. Apakah Umi Wildan sudah tau yang sebenarnya? Akhirnya Saras memutuskan mengangkat telfon.


"Assalamualaikum Umi," ucap Saras saat telfon tersambung.


"Waalaikumsalam Saras, Saras apa benar kamu membatalkan pernikahan dengan Wildan?" tanya Umi di seberang telfon. Saras terdiam, ia tau pasti Umi merasa kecewa karena berita ini.


"Maafkan Saras Umi, tapi ini keputusan Saras. Saras nggak bisa Nerima orang yang masih terikat dengan masa lalunya," jawab Saras pelan.


"Maksud kamu apa? Apa Wildan buat kesalahan sama kamu? Masa lalu apa yang kamu maksud?" tanya Umi lagi.


"Umi, sekarang aku sama Wildan lagi sama-sama introspeksi diri. Kita sama-sama merenung," jawab Saras.

__ADS_1


"Ras, tolong jangan seperti ini. Umi sayang sama kamu, Umi yakin kamu yang terbaik untuk Wildan," ucap Umi membujuk Saras.


"Maaf Umi, Saras banyak kerja. Nanti kita ngobrol lagi ya, Assalamualaikum," Saras langsung menutup telfonnya. Ia memang menghindari berbicara banyak dengan Umi Wildan.


"Abi, bagaimana ini? Umi nggak mau kehilangan calon mantu sebaik Saras," tanya Umi pada Abi Wildan. Abi memeluk istrinya yang menangis, ia tau istrinya sangat kecewa dengan Wildan.


Tak lama kemudian, Wildan pulang dari kantornya. Saat melewati ruang tamu ia melihat Abi dan Uminya. Ia pun menghampiri.


"Assalamualaikum Umi, Abi," Wildan mengucap Salam. Tatapan kedua orang tuanya berubah menjadi tajam. Wildan hanya menghela nafasnya.


"Ini bukan keinginan Wildan Umi," jawab Wildan lirih. Namun tiba-tiba,


Plakk.. Satu tamparan mengenai pipi kiri Wildan yang berasal dari Umi. Wildan hanya diam tak berani berucap.

__ADS_1


"Kamu ini laki-laki Wildan, laki-laki yang dipegang adalah ucapannya. Tapi kenapa sekarang kamu mengingkari ucapan kamu sendiri, Umi kecewa sama kamu," ucap Umi. Wildan memalingkan wajahnya karena tak ingin melihat Uminya menangis. Umi langsung meninggalkan Wildan begitu saja menuju lantai atas.


Abi Wildan yang sedari tadi hanya diam, beranjak berdiri dan menepuk pundak anak sulungnya itu.


"Abi, maafin Wildan buat Umi sama Abi kecewa. Wildan juga nggak mau batal menikah dengan Saras, cukup dulu aja Wildan dihancurkan oleh Ellena. Wildan nggak mau itu terulang kembali," lirih Wildan mulai menangis. Abi paham betul apa yang dirasakan anaknya itu.


"Sekarang lebih baik kita duduk, kamu cerita semuanya sama Abi. Jangan kamu pendam sendiri. Siapa tau Abi bisa bantu walau hanya membujuk Umi kamu," jawab Abi mengajak Wildan duduk. Mereka duduk berhadapan dan Wildan menceritakan semuanya pada Abi tanpa ada yang terlewat atau direkayasa.


Abi mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menyesap kopi. Tampak jelas raut kesedihan diwajah Wildan.


"Wildan harus gimana sekarang Bi? Saras udah nggak percaya sama Wildan. Sedangkan Wildan juga gak mau kehilangan Saras," tanya Wildan meminta saran sang ayah.


"Gini Dan, jadi seorang lelaki itu tidak mudah. Betul kata Umi kamu kalau seorang lelaki sejati, yang dipegang adalah ucapannya. Tapi Abi juga tidak menyalahkan Saras yang ingin membatalkan pernikahan, karena itu memang hak dia. Apalagi dengan alasan yang memang benar adanya. Sekarang Abi setuju dengan pendapat Saras, bahwa kalian harus sama-sama merenung. Mantapkan hati kamu, siapa yang akan kamu pilih, kamu sudah dewasa harusnya kamu bisa bertanggung jawab atas hati kamu sendiri. Seharusnya kamu bisa belajar dari beberapa tahun belakangan, jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk memilih orang yang salah," saran Abi begitu bijak. Wildan sebenarnya memahami apa yang abinya ucapkan, kedua orangtuanya dari dulu memang tidak setuju dengan Ellena, tapi Wildan yang selalu menjadikan cinta sebagai alasan bahwa ia bisa merubah Ellena.

__ADS_1


"Abi ke atas dulu ya," pamit Abi meninggalkan Wildan yang masih diruang keluarga sendirian. Wildan terus merenung apa yang abinya katakan memang benar adanya. Ia lalu beranjak dari duduknya, menuju kamar. Ia berniat sholat istikharah untuk meminta petunjuk Allah.


__ADS_2