
"Wildan.."
Wildan yang semula memandang foto Saras beralih ke asal suara.
"Bagaimana? Sudah selesai?" tanya Wildan berjalan mendekati meja Saras. Saras yang sudah duduk dikursinya mengalihkan pandangannya kepada laptop dihadapannya.
"Ada apa?" tanya Saras dengan nada datar
"Bukankah semalam saya sudah bilang, kalau hari ini saya akan berkunjung ke kantormu?." Wildan membalikkan pandangannya, memandang balkon disamping ruangan Saras.
"Rupanya kamu tipe perenung.." Sambung Wildan lagi,
"Mengapa?" tanya Saras.
"Saya tahu, kamu sering berdiri disini dan menatap kosong keluar.." Hati Saras tersentak kaget, bagaimana Wildan tahu jika Saras lebih suka berdiam dibalkon sambil berimajinasi dengan hidupnya.
"Kamu sudah makan?" tanya Wildan yang tiba-tiba sudah disamping meja Saras.
"Belum.." Jawab Saras singkat
"Makanlah, nanti kamu sakit.." sergah Wildan
"Saya sedang tidak mau makan.."
"Dasar keras kepala.." ucap Wildan lirih
"Ada apa kamu kesini Wildan?"
Wildan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda, kotak yang sangat cantik. Wildan menyodorkan kotak itu kesamping laptop Saras saat Saras masih fokus pada laptopnya. Sejenak saras melirik kotak itu lalu kembali memandang monitor.
"Apa itu?" Tanya Saras sambil terus mengetik
"Bukankah kamu ingin tahu apa alasan aku datang kesini?." Saras menghentikan kegiatan mengetiknya saat sadar ada kata aku-kamu dalam kalimat Wildan. sejak kapan Wildan memakai panggilan aku
Saras lagi-lagi melirik kotak itu sebelum mengambilnya, ia takut itu mungkin hal yang berbahaya. Perlahan Saras membuka kotak itu dan,
"Wildan?"
__ADS_1
"Suka?" tanya Wildan
"Iya, tapi apa maksud kamu memberikan cincin berlian ini?" tanya Saras
"Aku mau ngajak kamu nikah.." Jawab Wildan tanpa basa-basi.
"Apa?" pekik Saras kaget
"Biasa aja kali kagetnya, gimana mau?"
"Wildan, tapi apa ngga terlalu cepat?"
"Ngga." jawab Wildan ringan
"Dan, tapi.." belum sempat Saras melanjutkan kalimatnya, Wildan sudah memotongnya.
"Aku tahu, gadis macam kamu tidak mungkin mau diajak pacaran, jadi aku langsung lamar kamu." Sambung Wildan
Saras tidak bergeming, rasa dihatinya campur aduk.
"Ehm.. Iya udah mau.." jawab Saras ketus
"Kok ngga ikhlas gitu jawabnya.."
"Ya terserah aku dong.."
Kini Saras sudah resmi menerima lamaran dari Wildan.
"Ras, Mamahku pingin ketemu kamu.." Ucap Wildan ditengah-tengah pekerjaannya dengan Saras.
"What? kok gitu? Emang Mamah kamu kenal Aku?"
"Kenal, aku sering cerita ke Mamah soal kamu."
"Kamu sering ceritain aku kemamah?" Wildan hanya mengangguk ditanya seperti itu.
"Ya udahlah, pokoknya nanti sepulang kerja kerumahku..." Paksa Wildan
__ADS_1
"Tukang maksa."
Kenapa aku bisa terima lamaran dia ya? Apa mungkin aku udah cinta sama dia? batin Saras berpendapat.
Syukurlah Saras menerima lamaran ku, mungkin aku akan gila jika Saras menolakku tadi. Batin Wildan.
Tak berapa lama, hp Saras berbunyi, ada panggilan masuk. Ternyata dari Tommy.
"Hallo Assalamualaikum Mas..?" Seperti biasa Saras mengucap salam.
"....."
"Kapan Mas?" Tanya Saras
"....."
"Baiklah, besok kalau ada waktu Saras kesana. Ya udah Assalamualaikum.." Saras menutup hpnya dan melirik kearah Wildan.
"Siapa tadi?" Tanya Wildan datar
"Mas Tommy, dari penerbit.." Jawab Saras..
"Kenapa? cemburu?" Saras tertawa kecil mengucap kalimat itu.
"Harusnya kamu tahu dong aku cemburu apa ngga?"
"Ya udah aku minta maaf.." Kata Saras kemudian
"Iya,.. Aku juga ngga mau jadi pasangan yang posesif.."
Tepat jam 5 sore..
"Udah yuk kita pulang, pasti Mamah udah nunggu.."
"Iya.."
Sejak saat itu semakin hari hubungan Saras dan Wildan semakin dekat.
__ADS_1