
"Kata Mamah, Mamah mau secepatnya lihat kita nikah, karena Mamah sama Papa mau pulang ke Amerika lagi.." Kata Wildan pada Saras diruangannya.
"Dan apa ngga terlalu cepet ya?"
"Kenapa? Kamu masih meragukan aku?"
"Bukan gitu, aku bahkan belum ngabarin kakakku yang di Bandung kalau aku mau nikah.."
"Ya udah besok kita ke Bandung, minta restu.."
"Tapi Dan.."
"Aku udah gak Nerima alasan.."
Saras terdiam mendengar jawaban Wildan, ia memang keras kepala tidak mau mengalah sekalipun dengan Saras.
Hp Saras kemudian berdering, ada telfon masuk. Mas Tommy. Nama itu tertera dalam panggilan.
"Tommy ya?" tebak Wildan. Saras mengangguk perlahan dan mengangkat telepon
"Kamu dimana?" Pertanyaan langsung dari Tommy setelah Saras mengangkat.
"Maaf mas, Saras lagi Meeting sama klien.."
"Kamu dikantornya Arga..?" tanya Tommy seakan mengintrogasi
"Iya.."
"Aku kesana sekarang.."
Tommy menutup telponnya secara sepihak membuat Saras heran.
__ADS_1
"Biar aku yang menemuinya.." Kata Wildan tiba-tiba.
"Tapi Dan, dia mau ketemu sama aku.."
"Ngga, pokoknya kamu ngga boleh ketemu sama dia, kamu calon istri aku harus nurut perkataanku.." ucap Wildan dingin
"Kebiasaan banget sih, dasar keras kepala,.." gerutu Saras. Tiada jawaban dari Wildan.
"Tiara, jika nanti pak Tommy datang, segera bawa dia keruang VIP. Katakan saja bahwa Bu Saras sudah menunggu.." Wildan menghubungi bagian administrasi.
"...."
"Fell, tolong jaga Saras, jangan sampai dia keluar dari ruangan ini." Pesan Wildan mengenakan jasnya.
"Dan, ayolah aku ikut.." Saras memohon
"Aku tidak ingin dibantah.." jawab Wildan berlalu meninggalkan ruangannya.
"Saya ada janji dengan Bu Saras, dia disini kan?" tanya Tommy.
"Bu Saras sudah menunggu diruangannya, mari saya antar.."
Setelah menaiki lift, akhirnya Tiara dan Tommy sampai diruangan yang dijanjikan, Tommy pun masuk dan mendapati seorang lelaki yang tengah membelakanginya.
"Selamat Datang Pak Tommy yang Budiman.."
"Arga, mengapa kamu yang disini? Dimana Saras?" Tanya Tommy melihat sekeliling.
"Mengapa kau mencari calon istri ku? Ada apa?"
"Calon istrimu?"
__ADS_1
"Iya, Saras Zeina Malikia sebentar lagi akan menjadi nyonya Arga.." Wildan membalikkan badannya dan menatap Tommy.
"Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini. Aku tau apa tujuanmu menemui Saras, namun sayang kamu keduluan start.." Kata Wildan tersenyum sinis.
"Selagi janur kuning belum melengkung, Saras belum menjadi nyonya Arga, atau mungkin dia akan menjadi nyonya Tommy Prasetya.." Balas Tommy tak mau kalah.
"Tommy, kamu buat aku marah, sekarang kamu pergi dari sini, jangan coba-coba untuk menemui Saras. Atau kau tau sendiri akibatnya.." Ancam Wildan
"Ternyata Arga yang kukenal masih sama, kejam dan keras kepala, aku semakin tidak ikhlas Saras jatuh ke pelukan mu.." Jawab Tommy.
"Saya Permisi.." Tommy pergi meninggalkan ruangan itu. Wajah Wildan yang semula manis berubah menjadi merah penuh Amarah. Dia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan melepaskan Saras.
Wildan kembali keruangannya dengan wajah yang masih penuh kemarahan.
"Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Saras saat melihat Wildan yang masuk dengan penampilan yang kacau.
"Aku ngga akan lepasin kamu.."
"Maksud kamu apa Wildan?"
"Tommy mau rebut kamu dari aku.."
"Hah!! Ngga mungkin, masa Mas Tommy mau rebut aku.."
"Tapi emang gitu nyatanya Saras, tadi Tommy kesini dia mau ngelamar kamu.." tegas Wildan. Saras tidak menjawab, Saras dan Fella sangat syok mendengar itu.
"Pliss jangan tinggalin aku.." Suara Wildan bergetar seperti hendak menangis.
"Wildan, aku bakal tetep ada buat kamu kalau memang kita berjodoh." ucap Saras pelan
"Aku sayang sama kamu.." kini air mata Wildan menetes, tidak tampak lagi amarah diwajahnya, kini telah berubah menjadi kesedihan yang teramat sangat.
__ADS_1