Bidadari Surga Untukku

Bidadari Surga Untukku
Part. 3


__ADS_3

"Kenapa aku jadi mikirin Saras? Ayolah Wildan, kamu harus fokus kerja, jangan mikirin Saras terus.." Ucap Wildan dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya.


"Permisi pak.." Seorang wanita cantik masuk kedalam ruangan Wildan, tampaknya itu sekretaris Wildan.


"Iya ada apa Liana?" tanya Wildan


"Tadi saya sudah menghubungi penulis yang bapak inginkan itu, dia setuju jika bukunya kita filmkan, namun dia meminta kita untuk meeting dulu pak.." Liana menyampaikan Informasi detail kepada atasannya.


"Ohh bisa, kapan kita akan meeting?" tanya Wildan lagi


"Saya lihat di schedule bapak hari ini pak Wildan kosong, makanya saya menyarankan sore ini pak.."


"Sore ini ya?" Wildan terlihat manggut-manggut seperti memikirkan sesuatu, Liana yang menunggu jawaban dari Wildan pun was was.


"Oke, sore ini kita meeting. Liana tolong siapkan Ruang meeting.." perintah Wildan


"Baik pak.." Liana meninggalkan ruangan itu.


"Wildan, kamu harus fokus, nanti kamu bakal meeting jadi stop, kesampingkan dulu masalah Saras.." Wildan memperbaiki duduknya mencoba fokus dengan laptop didepannya.


Ia melirik kesamping laptopnya, ada sebuah novel yang rencananya akan ia filmkan dan nanti ia akan meeting bersama penulisnya.


"Maybe The Impossible.." Ia membaca Judul Novel itu, novel yang menarik menurutnya. Lalu matanya melihat dipojok bawah.


"Nona Zeina?" gumamnya.


"Pasti penulisnya cantik seperti namanya" Wildan tertawa sendiri membayangkannya.

__ADS_1


Sementara Disisi lain..


"Permisi Bu.." seorang Wanita berhijab masuk kedalam ruangan.


"Ada apa Fella?" Tanya seorang wanita bercadar dikursinya, yang ternyata ia adalah Saras.


"Bu, klien sudah menentukan jadwal meetingnya. Sore ini di perusahaan Arga.." jelas Fella sekretaris Saras


"Baiklah.. Nanti kamu hubungi aku lagi.."


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi.." Fella keluar dari ruangan Saras. Sementara Saras memutar kursinya menghadap balkon disamping ruangannya.


"Perusahaan Arga? Siapa dia? Mengapa kekeh sekali membujukku untuk mau memfilmkan novel?" Gumam Saras diantara lamunannya.


Tepat pukul 3 sore, Saras keluar dari ruangannya. Menuju mobil yang sudah disiapkan dan berangkat menuju tempat Meeting. Perjalanan yang ditempuh hanya sekitar 20 menit.


Sementara..


"Oke, ayo kita kesana.." Wildan dan Liana berjalan menuju ruang Meeting. Cukup lama Wildan menunggu sampai akhirnya..


"Pak Kliennya sudah sampai.."


Wildan beranjak dari duduknya, merapikan jasnya, "Langsung kamu suruh masuk saja.."


Liana menyuruh Klien masuk.


Betapa terkejutnya Wildan, ternyata Nona Zeina adalah Saras. Begitupun dengan Saras, CEO di perusahaan ini adalah Wildan.

__ADS_1


"Saras.."


"Assalamualaikum.." Saras mengucap salam


"Waalaikumsalam, silahkan duduk.." Wildan mempersilahkan Saras dan sekretarisnya duduk.


"Baiklah kita langsung saja mulai meetingnya.." kata Wildan


"Silahkan.." Jawab Saras santun


"Jadi mengenai tawaran kita untuk memfilmkan novel Maybe The Impossible itu bagaimana?" tanya Wildan yang langsung to the point


"Mengenai tawaran itu, sudah saya pertimbangkan dan saya setuju.." Jawab Saras


"Baiklah jika memang Nona Zeina setuju, project ini akan kita mulai secepatnya, apakah Nona Zeina ada saran.."


"Panggil saya Saras saja, Nona Zeina hanyalah nama untuk novel saya.." kata Saras


"Menurut saya lebih cepat lebih baik.." Sambung Saras.


"Baiklah jika seperti itu, mulai Minggu depan kita akan mencari telent untuk pemeran dinovel.. Atau mungkin Bu Saras mau menjadi pemeran utama?" tawar Wildan menatap Saras.


"Maaf, tapi menurut saya lebih baik orang lain saja, karena hobi saya hanya menulis bukan berakting.." jawab Saras.


"Baiklah Jika seperti itu, saya dan sekretaris saya akan segera mencari pemeran-pemeran didalam novel.."


"Kalo begitu kita sudah deal?" tanya Wildan.

__ADS_1


"Deal.." Saras menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya, ia tak mungkin bersalaman dengan Wildan.


"Baik jika meetingnya sudah selesai, saya dan Fella pamit dulu karena kita ada kegiatan lain.." Saras, Fella, Wildan, Liana, dan beberapa karyawan yang disana berdiri, Saras dan Fellapun meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2