
Ting tung.. Ting tung.. (anggap saja suara bel)
Saras bergegas menuju pintu saaat mendengar bel berbunyi. Saras membuka pintu dan tampaklah pria dengan mengenakan jas formal dengan badan yang tegap. Siapa lagi kalau bukan Wildan.
“Assalamualaikum,” ucap Wildan.
“Waalaikumussalam, silahkan masuk Mas,” jawab Saras mempersilahkan Wildan masuk.
“Biar aku panggil Mas Fikri sama Mbak Mila dulu,” ucap Saras begitu Wildan duduk dan dijawab anggukan oleh Wildan.
Wildan menemani Kanza dan Khadijah bermain. Ia memang sudah akrab dengan kedua anak itu. Sementara Saras menuju kamar Fikri dan Mila.
“Mas, Mba. Ada Mas Wildan,” ucap Saras dibalik pintu.
“Ohh oke Saras, tunggu sebentar kita akan keluar,” sahut Fikri dari dalam kamar. Saras lalu meninggalkan pintu kamar Mila menuju dapur untuk membuatkan Wildan minuman.
__ADS_1
“Sudahlah Sayang, jangan marah-marah lagi. Lebih baik sekarang kita temui Wildan, kita belum tau apa niat dia datang,” ucap Fikri pada istrinya.
“Mas aja dulu, aku harus bersih-bersih,” jawab Mila. Ya mereka selesai melaksanakan ibadah suami-istri. Namun Fikri sudah bebersih jadi dia akan segera menemui Wildan.
“Ya udah, Mas keluar dulu. Jangan marah lagi, kita harus sambut tamu dengan baik,” ucap Fikri lagi mengecup pucuk kepala istrinya lalu langsung beranjak keluar meninggalkan Mila.
“Wildan, maaf ya sudah nunggu lama,” ucap Fikri saat sampai di ruang tamu. Wildan dengan sopan mencium tangan calon kakak iparnya itu.
“Enggak kok Mas, ada Kanza sama Khadijah yang nemenin,” jawab Wildan. Ia sebenarnya mencari keberadaan Mila, karena pertemuan terakhirnya dengan Mila tidaklah baik.
Tak lama kemudian Saras datang dengan cemilan dan minuman. Ia meletakkannya di meja.
Saras duduk di kursi single, tak berapa lama datanglah Mila dengan wajah juteknya. Kalau bukan Fikri yang membujuknya tadi, ia tak akan mau menemui Wildan.
"Assalamualaikum Mbak," ucap Wildan mencium punggung tangan Mila. Sementara Mila tak menjawab, setelah bersalaman dengan Wildan, ia pun langsung duduk di samping Fikri.
__ADS_1
"Mas Fikri, Mbak Mila, sebelumnya Wildan mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang telah saya perbuat beberapa hari lalu," ucap Wildan tulus.
"Kalau mba dan Mas mengizinkan, saya ingin memperbaiki hubungan saya dan Saras. Saya ingin melanjutkan pernikahan ini," sambungnya.
Fikri dan Mila saling melempar pandang dan menatap Saras yang masih menunduk memainkan ujung jilbabnya.
"Kalau Mas sih, dengan senang hati menerima niat baik kamu untuk melanjutkan pernikahan ini. Tapi Mas minta jangan lagi kamu sakiti Saras ya," pesan Fikri.
"In Sya Allah Mas, saya akan menjalankan tanggung jawab saya dengan sebaik-baiknya pada Saras," jawab Wildan tegas. Lalu Wildan pun melirik Mila meminta jawaban.
"Jujur ya Dan, Mbak itu udah kecewa banget sama kamu. Saras itu adik Mbak satu-satunya yang paling Mbak sayangi. Mbak nggak akan ikhlas melihat Saras disakiti," ucap Mila. Wildan terdiam, ini memang salahnya.
"Kalau kamu berniat melanjutkan pernikahan ini, tolong selesaikan dulu masa lalu kamu. Mbak nggak ingin masalah seperti ini terulang dan akhirnya Saras kembali menangis," lanjut Mila.
"Baik Mbak, In Sya Allah saya akan secepatnya menyelesaikan masalah saya dengan Ellena," jawab Wildan kemudian.
__ADS_1
Di balik cadarnya, Saras menyunggingkan sebuah senyum karena akhirnya masalahnya dan Wildan selesai. Dan mereka akan segera melanjutkan pernikahan.