
2 Bulan kemudian..
Telpon diruangan Saras berbunyi.
"Assalamualaikum.." Saras mengucap salam saat mengangkat telpon itu.
"Waalaikumsalam Saras, ini saya Wildan.." jawab orang diseberang telpon yang tak lain adalah Wildan.
"Ada apa pak Arga menghubungi saya? Adakah sesuatu yang penting?" Kata Saras sopan.
"Saras, stop memanggil saya Arga, panggil saya Wildan saja.." protes Wildan
"Maaf bukankah saya harus sopan dengan klien?" Kata Saras dengan nada meledek
"Saras stop, plis.. Kalau kamu masih panggil saya Arga, saya juga akan memanggilmu Nona Zeina. Bagaimana?" Wildan balik bertanya.
"Mengapa? Bukankah semua orang dikantormu memanggilmu Arga?" Saras tidak menjawab pertanyaan Wildan.
"Tidak semua, hanya orang tertentu saja, yang memanggil saya Wildan hanyalah keluarga saya." Jawabnya
"Berarti Liana keluargamu?" tanya Saras lagi
"Liana itu sepupu saya.." jawab Wildan cepat.
"Terus kenapa saya harus panggil kamu Wildan? Saya bukan keluarga kamu.."
"Ras, ayolah.. pliss, nanti kamu juga tahu mengapa saya ingin kamu memanggil Wildan.." Saras terdiam mendengar kalimat Wildan, apa maksudnya?
__ADS_1
"Sekarang kamu mau apa?" Tanya Saras kemudian.
"Saya hanya ingin menghubungimu.." Jawab Wildan singkat.
"What? kamu menelfon untuk sesuatu yang tidak penting? Ayolah Dan, saya sekarang sibuk." Protes Saras.
"Saya tidak punya nomer hp.mu, makanya saya menghubungi kamu lewat kantor.." Kata Wildan.
"Wildan, kamu lagi kenapa sih? Sakit?" tanya Saras yang mulai kesal
"Ehm, perhatian nih." ledek Wildan
"Wildan tolong jawab."
"Saya hanya minta nomer hp.mu.. kalau kamu tidak memberinya saya akan terus menghubungimu lewat kantor, atau mungkin Fella.." Jawab Wildan kemudian.
"Wildan, jangan maksa sekali aja, bisa ngga?"
"Ihh, ya udah Catet ya.. 0***********".
"Makasih Sayang.." Ucap Wildan yang sontak membuat Saras kaget.
"Sayang?" Teriak Saras dari ujung telfon
"Iya, kenapa? Ngga boleh saya manggil sayang?" lagi-lagi Wildan meledeknya
"Udah Ahh terserah, Saya banyak kerja.."
__ADS_1
"Ya udah, lanjutin gih kerjanya, yang semangat ya, I Love You.." Saras tersentak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Wildan, ia langsung menutup telfonnya dan segera menarik nafas untuk menetralkan emosinya, wajahnya bersemu merah karena mendengar kalimat Wildan.
"Bu Saras? Ibu kenapa?" pertanyaan yang mengejutkan dari Fella, ternyata dari tadi Fella sudah berada didalam ruangan Saras.
"Fella, dari kapan kamu disini?" tanya Saras gelagapan
"Dari tadi Bu, saya sudah mengucap salam tapi saya lihat ibu sedang menerima telfon, jadi saya menunggu Bu.." Jawab Fella jujur
"Ada apa Fell?" tanya Saras
"Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani Ibu. Besok siang juga kita harus meeting dengan penerbit untuk buku baru.." Jawab Fella.
"Baik Fell, taruh saja dimeja, saya mau Sholat dulu.." Saras beranjak dari kursinya
"Iya Bu.." Fella menaruh beberapa berkas dimeja Saras sementara Saras pergi sholat..
Usai sholat Saras membuka hpnya dan ada satu notif pesan dari nomer yang tidak dikenalnya.
"Jangan lupa makan Nona Zeina.." Saras tahu pasti itu dari Wildan
"Kamu juga jangan lupa Sholat" Balas Saras kepada Wildan, beberapa saat kemudian.
"Kenapa aku bales kayak gini, nanti dia kepedean.."
"Saya ngga bakal lupa sholat, saya juga ngga bakal lupa sama kamu.." balas Wildan beberapa detik kemudian.
"Yah kan, dia jadi salah paham. Jadi kepedean. Aduh gimana ini.." batin Saras
__ADS_1
"kamu semangat kerjanya, Nanti malem saya telfon, ada yang mau saya omongin.." satu pesan masuk lagi dari Wildan.
"Yah ini orang.." Saras tidak membalas pesan itu.