Bidadari Surga Untukku

Bidadari Surga Untukku
Part 2


__ADS_3

3 tahun kemudian..


"Saras I Will definitely Miss you.." kata Syena setelah melepas pelukannya pada Saras. Hari ini Saras akan kembali ke Indonesia, ia sudah resmi menjadi Sarjana Ilmu Hukum lulusan dari University Van Amsterdam.


"Don't be sad, we can definitely meet again.." Jawab Saras.


"Well, I have to get on the plane right away, bye Syen.." Saras segera pergi meninggalkan Syena dan masuk kedalam pesawat, terlihat Syena melambaikan tangannya kearah Saras.


Setelah beberapa jam terbang, akhirnya Saras tiba di Jakarta. Kota kelahirannya. Saras melirik kearah jam tangannya, ternyata sudah pukul 3 sore. Ia harus bergegas ke Salah satu perusahaan di Jakarta yang sudah mengajak ia bekerja sama. Selain menjadi pengacara, Saras juga menjadi seorang penulis buku.


Saras mempercepat langkahnya, saat melihat sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang. Saras setengah berlari kearah taksi itu, ia segera masuk kedalam taksi. Sialnya, ada seseorang juga yang masuk kedalam taksi itu dari pintu yang lain.


"Maaf mba ini taksi saya.." Saras sepertinya pernah mendengar suara lelaki itu. Ia mendongakkan kepalanya, melihat seseorang disampingnya.


"Saras?" Betapa kagetnya pria itu mengetahui wanita yang disebelahnya adalah Saras.


"Wildan.." ucap Saras lirih.

__ADS_1


"Kamu apa kabar? sudah lama kita tidak bertemu.." kata Wildan.


"Saya baik." jawab Saras singkat


"Ehm. Saya tidak enak sebenarnya, tapi maaf sekali Saras, ini taksi saya.." kata Wildan Sopan.


"Lho tadi kan saya yang masuk dulu, kamu baru masuk setelah saya merapikan barang. Berarti ini taksi saya." jawab Saras tak mau kalah.


"Tapi, saya sedang buru-buru.."


"Iya Wildan, saya juga buru-buru, saya harus segera meeting.."


"Cilandak!" jawab Wildan dan Saras bersamaan.


"Ohh sama, ya udah jalan bareng aja ya mas, mba.." sopir taksi mulai menjalankan mobilnya menjauhi Bandara.


"Kita kemana dulu ini?" tanya supir taksi ditengah perjalanan.

__ADS_1


"Kita anterin dia dulu pak.." Jawab Wildan menunjuk Saras. Sementara Saras tidak bergeming.


Beberapa menit kemudian sampailah mereka ditempat tujuan Saras. Saras mengeluarkan dompetnya dan mencari uang untuk membayar taksi, namun gerakannya ditahan oleh Wildan.


"Maaf, biar saya aja yang bayar.." kata Wildan Sopan.


"Terima kasih, maaf saya buru-buru.." Saras segera keluar dari taksi, mengambil kopernya dibagasi dan langsung masuk kedalam kantor.


2 minggu kemudian..


Saras sekarang sudah resmi diterima bekerja di perusahaan itu. Kini Saras tinggal disana.


Saras Zeina Malikia, seorang wanita muda yang berusia 22 tahun itu kini hidup sebatang kara. Ia sudah tak memiliki siapapun sejak ia berumur 18 tahun. Ibu Saras meninggal saat ia masih berumur 10 tahun, ibunya meninggal karena sakit jantung yang telah dideritanya selama 8 tahun. Sedangkan ayahnya adalah seorang Narapidana, bisa dibilang dulu keluarga Saras berkecukupan. Ayahnya adalah seorang karyawan salah satu perusahaan swasta di Jakarta Selatan. Namun, sejak Saras berumur 15 tahun, ayahnya ditangkap dengan tuduhan ia menggelapkan uang perusahaan, bertahun-tahun Saras hidup seorang diri, ia selalu hidup kekurangan bahkan sampai menjual koran untuk biaya makan sehari-hari.


3 tahun sudah berlalu, Saras sudah lulus SMA, ia bertekad untuk menjadi seorang pengacara demi bisa membebaskan ayahnya dipenjara. Namun sayang berbagai Kampus menolaknya, Saras tidak diterima di kampus manapun. Akhirnya Ia memilih untuk berhenti selama 1 tahun, tahun depan ia akan mencobanya lagi.


Selama setahun yang Saras lakukan hanya bekerja siang malam untuk mendapat uang demi bisa membayar seorang pengacara untuk ayahnya, Saras juga sering mengunjungi Ayahnya yang ada dipenjara.

__ADS_1


Namun sayang, belum ada 1 tahun, Saras mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal didalam jeruji besi. Betapa hancurnya hari Saras, ia tak bisa memenuhi janjinya pada ayahnya untuk segera membebaskan. Berminggu-minggu setelah kepergian Ayahnya, Saras seperti sudah tidak ada lagi semangat hidup, sudah putus asa. Ia terus saja menyalahkan keadaan. Sampai akhirnya hidayah itu datang, Saras kembali menjadi Saras yang dulu, Saras yang penuh dengan semangat hingga ia diterima di Belanda, itulah yang menjadi awal ia mengenakan cadar. Ia ingin hidup lebih baik lagi.


__ADS_2