
"Tak ku sangka ternyata sesakit ini Ya Allah," gumam Saras. Ia baru pertama kali merasakan yang namanya patah hati, dan ternyata itu sangat sakit.
Tiba-tiba pintu ruangan Saras dibuka secara paksa. Namun posisi Saras masih membelakangi pintu.
"Ibu maaf, saya sudah bilang bahwa ibu sedang tidak ingin di ganggu tapi Pak Arga memaksa masuk," ucap Fella. Untuk beberapa detik tidak ada yang berucap.
"Kamu boleh pergi," suruh Saras dan Fella menuruti. Ia meninggalkan bosnya itu berdua dengan calon suaminya. Ya, yang tadi membuka pintu ruangan Saras adalah Wildan. Ia sempat dilarang Fella untuk masuk namun ia tetap memaksa.
Wildan masih berdiri dan Saras masih duduk membelakangi Wildan. Tidak ada yang mengawali pembicaraan, mereka diam membisu.
"Maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Wildan. Tanpa Wildan ketahui, setetes air mata kembali lolos jatuh di pipi Saras. Berkali-kali Saras mengatur nafas untuk menetralkan emosinya. Saras masih diam tak menjawab ucapan Wildan. Bahkan iapun masih enggan berbalik melihat Wildan.
"Nggak seharusnya aku bilang gitu ke kamu. Nggak seharusnya aku mengambil keputusan sepihak. Besok kita akan tetap menikah," sambung Wildan lagi. Saras hanya diam.
"Saras," panggil Wildan yang melangkah mendekati kursi Saras.
"Maaf tapi aku nggak bisa, aku nggak bisa lanjutin pernikahan ini selama kamu masih selalu terbayang masa lalu kamu," jawab Saras sambil membalikkan kursinya melihat ke arah Wildan.
"Maksud kamu apa Saras?" tanya Wildan.
"Lebih baik kita batalkan saja pernikahan ini. Liana udah cerita semua," lirih Saras. Wildan tertegun mendengar ucapan Saras yang ingin membatalkan ceritanya.
__ADS_1
Flashback On..
"*Saras, apa bener Wildan undur pernikahan kalian?" tanya Liana di seberang telfon.
"Iya Li, sebenarnya ada apa? Kenapa Wildan tiba-tiba mengundur pernikahan?" tanya Saras.. karena ia yakin bahwa Liana pasti tau sesuatu.
"Pasti ini karena wanita jala*g itu," geram Liana.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Saras penasaran.
"Mantan pacar Wildan, dulu mereka hampir 4 tahun pacaran, tapi seminggu sebelum hari pernikahan mereka. Dia ninggalin Wildan gitu aja dengan sebuah surat. Dia menghilang 3 tahun lamanya, dan kini dia kembali dan menggoda Wildan," jelas Liana. Saras hanya terdiam mendengar cerita Liana.
"Apa Wildan masih cinta sama wanita itu?" tanya Saras yang ingin tahu lebih dalam.
Flashback Off..
"Saras tapi aku nggak ada hubungan apapun lagi sama dia. Aku sayang sama kamu Saras," ucap Wildan.
"Lebih baik kita sama-sama merenung. Mantapkan hati kita masing-masing. Kalau kamu masih belum bisa lepasin mantan kamu, lebih baik kita nggak usah berhubungan lagi," jawab Saras yang pergi meninggalkan Wildan di ruangannya..
Wildan terpaku beberapa saat melihat kepergian Saras. Rasa penyesalan memang selalu datang di akhir.
__ADS_1
Sementara Saras menaiki mobilnya entah kemana, sedangkan Wildan menuju kantornya. Ia harus bertemu dengan Liana.
"Liana, kenapa kamu bicara seperti itu dengan Saras? Kamu membuat masalah semakin rumit?" tanya Wildan pada Liana. Kini mereka ada diruangan Wildan dan hanya berdua.
"Kenapa? kamu tanya aku kenapa? Dan tanyakan pada diri kamu sendiri, kamu yang kenapa? Aku udah bilang sama kamu, Saras itu gadis baik, dia nggak berhak disakiti. Kalau kamu nyakitin dia, berarti kamu berhadapan sama aku," jawab Liana.
"Tapi bukan begini caranya Li," bentak Wildan. Liana kaget mendengar Wildan yang membentaknya.
"Lalu aku harus gimana Dan? Aku harus membiarkan kamu menyakiti Saras? Dan, Saras itu udah baik banget sama aku, dia selalu nolongin aku," teriak Liana juga yang sudah mulai emosi.
"Tapi karena perkataan kamu, Saras jadi batalin pernikahan kita," ucap Wildan lagi. Liana tersenyum sinis.
"Batal? Bukannya itu yang kamu mau? kalau pernikahan kalian batal pasti Saras bisa mendapat yang lebih dari kamu, dan kamu bisa balik dengan wanita ular itu. Lalu apa sekarang kamu menyesal? kamu yang bilang dengan Saras bahwa kamu mengundur pernikahan tanpa memikirkan perasaan Saras. Kamu kebayang gimana sakitnya hati Saras? Walaupun kamu sepupu aku, tapi aku akan lebih membela Saras dalam hal ini. Aku pergi," selesai mengucapkan itu, Liana pergi keluar ruangan Wildan. Ia juga pergi dari kantor menuju kantor Saras. Ia berharap sepupunya itu lebih dewasa dalam berfikir.
πΌπΌπΌπΌ
Segitu dulu yaa untuk hari ini, maaf banget lama up.. Sumpah author lagi ribet banget..
Jangan lupa tetep support karya author dengan vote, like, dan komen yaa..
Author juga perlu semangat dari kalian.
__ADS_1
Salam Sayang dari author, aaammiiiccuuu ππ