
#13
Usia kandungan kini menginjak 8 bulan,perut buncitku penyemangatku. Setiap hari tetap beraktivitas seperti biasa,tidak ada yang berubah terkecuali angkat galon. Karena setelah pimpinan swalayan mengetahui aku hamil,mereka tidak henti-hentinya mengingatkanku agar tidak melakukan aktivitas yang satu itu. Karena mereka sering kali memergokiku sedang mengangkat galon. Yah! itulah aku,yang tidak suka merepotkan orang lain,bahkan Andi perna marah padaku karena hal itu. Aku pun menyukai pekerjaan yang satu itu,karena aku menganggap sedang olahraga gym. aneh bukan??? Itulah aku yang menganggap semua pekerjaan adalah olahraga untukku.
Seharian ini,entah sudah berapa kali perutku bergerak,lebih tepatnya janin yang ku kandung sangat aktif,rasanya nikmat saja jika anak ini menendang-nendang. Naluri keibuanku semakin terpacu dan makin tak sabar untuk menimang anakku yang masih dalam kandunganku ini.
"Kak Sintyia!!!" teriak seorang karyawan padaku. Maklumlah,di swalayan volume musiknya di atas rata-rata. "Kakak di panggil ke kantor,meja kasirnya kakak diminta untuk di kunci dulu.
"Baiklah,,," aku berlalu dari mejaku menuju kantor dengan perasaan campur aduk,entahlah apalagi kali ini. "Permisi Bu,,,!"
"Iya,masuk sintyia,,, duduk!"
"Iya bu,makasih" masih perasaan was-was.
"Sintyia,bagaimana? apa rencanamu setelah lahiran?"
"Rencananya bu,setelah lahiran,mau tetap kerja,tapi kembali lagi pada kebijakan ibu".
__ADS_1
"Mengapa Ibu memanggil kamu dan bertanya rencana kamu,karena Ibu tidak ingin nantinya keteteran di meja kasir. Begini sintyia,Ibu adalah orang yang paling suja cara kerjamu,yang ibu liat kamu bekerja tanpa cari perhatian untuk dipuji,kamu bekerja karena memang yang ibu lihat dari hasil kerjamu yang memang rapi,bersih dan hampir tidak perna minus adalah bukti kalau kamu kerjanya ikhlas. Ibu hanya ingin memastikan agar jika memang kamu berniat tidak ingin kerja lagi setelah melahirkan,maka ibu akan merekrut penggantimu".
"Iya bu,awalnya memang ingin berhenti,tapi karena ibuku memberika ijin juga suamiku untuk tetap kerja,jadi aku akan tetap kerja bu".
"Okay,lanjutkan kerjamu! Oiya sintyia,tolong laporan stok Popcorn setelah pergantian kasir ya!" sambil tersenyum.
"Iya bu!" Alhamdulillah,aku sudah sempat takut karena selama ketahuan hamil,aku sering kali mendapat panggilan ke kantor. Memang awalnya aku berniat berhenti kerja setelah dimarahi oleh pimpinan suami dari Cik,tapi setelah ibuku menelpon dan bilang bahwa ibuku ingin menjaga cucunya sendiri dan tidak mengijinkan aku meminta bantuan orang lain untuk menjaga anakku,maka hari itu aku putuskan untuk tetap bekerja.
Usia kehamilanku yang sudah 8 bulan,aku terkejut ketika sedang duduk di meja kasir melihat kakiku bengkak. Setiap hari seperti itu,hingga suatu hari ada seorang Dokter belanja,dia sempat melihat kakiku yang bengkak sewaktu masuk,setelah melakukan pembayaran,beliau berpesan padaku "Dek,jangan banyak mie instan sama snack,sepertinya kamu mengalami keracunan kehamilan,kalau ada waktu besok aku tunggu di RS Umum A********,ini nomor telponku,kamu simpan dulu,kalau sudah sampai di RS hubungi saja." dia tersenyum kemudian berlalu,tanpa memberiku kesempatan mengucapkan terima kasih.
"Baiklah kak!" ku ambil gawaiku lalu mengirim pesan melalui aplikasi w*******p. Lima menit kemudian pimpinanku tersebut membalas chatku dan mengijinkanku pergi.
"Sudah kak,ibu ijinkan"
"Iya,tunggu balasan bapak lagi ya dek?"
"Iya kak!" aku berbaring hendak meluruskan belakang karena merasa sedikit sakit. Andi mengambil minyak gosok dan mengolesnya di kakiku,mengurut kakiku secara bergantian,itulah aktivitas barunya setelah kakiku sering bengkak. Biasanya dia melakukannya sampai aku tertidur. Sungguh suami idaman menurutku.
__ADS_1
....
Sungguh kehamilanku tidak di ketahui oleh keluarga suamiku,karena pada saat ibu mertuaku datang,kehamilanku belum terlihat. Sehingga sangat mudah menutupi kehamilanku. Mereka yang datang pun sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan mereka hanya sempat bertanya sejak kapan aku mulai kerja lagi,hanya mertuaku saja yang sempat bertanya keadaan kami. Jangankan untuk menemani mereka sekedar basa basi,aku gak bisa,karena masih ada rasa sakit yang tersimpan di hatiku atas perkataan-perkataan mereka.
Hingga kehamilanku memasuki usia sembilan bulan,aku meminta Andi untuk memanggil orangtuanya yang tidak lain adalah mertuaku,agar menyempatkan ke kota menunggu kelahiran cucu dari anak pertamanya. Andi pun segera memberi tahu ibunya.
Hari ini menjelang magrib,kakiku gak enak,betisku serasa pegel,perutku bagian bawah sakit seperti orang yang telah menahan kencing beberapa jam. Aku mondar mandir Wc,aku bingung aku kenapa. Hingga tutup kasir aku meminta tutup lebih dulu.
Sesampainya di kos,aku membuka semua pakaianku dan hanya memakai sebuah sarung batik kemudian buru-buru ke kamar mandi. Saat jongkok,aku melihat bukan air seni yang keluar tapi justru banyak darah. Alangkah terkejutnya aku. Setelah bersih-bersih,segera aku menelpon mamaku "Assalamu alaikum ma,,," belum sempat mama menjawab salamku,aku langsung memberitahu mama kalau ada banyak darah yang keluar.
"sintyia,siapkan sarung nak,segera ke RS". aku memutus panggilan telpon dan memanggil Andi.
"Kak,cepat panggilkan bidan yang kemarin,tempat kita selalu periksa kandungan." Andi memakai jaket lalu ke tempat bidan meninggalkanku sendiri yang sedang menahan sakit. Aku yang ditinggalkan selama 20 menit tidak berhenti berjalan,karena perna dengar kalau sedang sakit dibawa jalan saja. Akhirnya Andi pulang,tapi tanpa bidan. Andi langsung memakaikanku jaket lalu mengambil tas kecil dan memasukan dua lembar sarung ke dalamnya. Andi memegangiku hingga di depan,kami pun berangkat ke RS menaiki sepeda motorku.
Sesampainya di RS,Aku sendiri yang langsung menanyakan ruang bersalinnya di mana. Aku dan Andi berjalan di lorong RS yang sepi pengunjung karena memang jam besuk sudah habis. Setelah masuk ruangan bersalin,aku diminta melepas pakaian dalam kemudian mereka melakukan pemeriksaan. Ternyata setelah pemeriksaan selesai kata seorang bidan bahwa aku sudah bukaan dua. Aku di minta berbaring,secara bergantian mereka datang memeriksaku. Rasa sakit yang ku rasa aku coba untuk menahan sekuatku,agar tak ada orang yang mendengar,aku juga malu kalau sampai berteriak-teriak karena merasakan sakit.
Sampai pukul 09:00 aku masih berada di bukaan enam. Dan akhirnya suamiku diminta menemui dokter,setelah menemui dokter,Andi kembali keruangan bersalin dan berkata pada ibuku "Ma,dokter menyarankan untuk operasi,karena posisi bayi sungsang.
__ADS_1