
setelah beberapa bulan bekerja di kota. Kini aou dan andi sudah memiliki tabungan buat menikah, Andi memberanikan diri memberi tahu orangtuanya,tentu saja orang tuanya menyambutnya bahagia. Setelah dua hari setelah di telpon,irang tua andi akhirnya menemui kami,dan ke esokan harinya mereka berangkat ke kampungku dengan tujuan melamarku,jarak tempuh dari kota ke kampung hanya memakan waktu dua jam. tak lupa aku telpon orang tuaku agar tidak memberatkan pihak dari Andi.
Setelah menunggu lama,akhirnya mereka pulang,dan berkata pada Andi "Nak,mereka meminta dan mama rasanya gak sanggup jika sebanyak itu!" kemudian andi melirikku. "dua hari lagi mereka menunggu jawaban dari kita nak,bagaimana menurutmu?"
andi terdiam,karena uang yang kami kumpulkan belum sebanyak itu. kemdian aku pamit tuk pulang ke kos,sesampainyadi kos ku ceritakan segalanya pada mbak maya,mbak maya memaklumi itu dan bahkan menyuruhku tuk pulang ke kampung dulu guna bertanya kepada kedua orang tua. Setelah sholat asar akupun berangkat,betapa kagetnya diri ini ternyata aku sampai di kampung lebih cepat 30 menit,astagfirullah... betapa diri ini kebelet nikah,hahah
"assalamu alaikum ma,ayah,,,"
"wa alaikum salaam nak" jawab mereka bersamaan,ku ambil tangan mereka kucium takzim mereka. begitulah aku dan saudara-saudaraku jika hendak pergi atau baru datang. Rasa segan kepada Ayahku ketika ditanya perihal lamaran tiba-tiba semakin kuat. Bahkan untuk menatap beliau saja aku anaknya gak berani.
Aku paham betul orang tuaku, terutama ayahku,beliau adalah sosok ayah yang demokratis,selalu memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk memutuskan apa yang akan dijalani anaknya,tidak terkecuali aku. "nak,,, bagaimana pendapatmu tentang lamaran itu,karena omm dan tantemu bertahan di angkah 70juta di luar mahar?"
aku paham ayah juga setuju dengan permintaan omm dan tanteku yang menurut ayahku memberatkan pihak laki-laki. karena aku dan ayahku juga tahu "sebaik-baik wanita yang tidak memberatkan mahar"
"Nak,jika sudah ada keputusan sampaikan pada ayah!,
"ayah,sebagai orang yang sintyia hormati dan segani,sintyia memberikan hak sepenuhnya untuk keputusan kali ini", setelah beberapa detik berpikir,ayah menuju ke ruang tamu,di sana sudah ada omm dan tante yang menunggu keputusanku dan ayah.
"dek,seperti yang agama kita anut dan di sunnahkan oleh nabi kita,bahwa sebaik-baik wanita adalah yang tidak memberatkan laki-laki atas mahar,maka aku dan sintyia memutuskan menerima lamaran dengan yang mereka sanggupi" kata ayah kepada adik iparnya,dan diagukan omm dan tante.
akhinya,ku beritahukan kabar ini pada Andi. Andi terdengar senang dan berkata "baiklah,besok mama akan kembali ke situ"
__ADS_1
setelah menutup telpon,segera ku hampiri ayah,mama,omm dan tanteku... ku utarakan keinginanku yang sebenarnya pada mereka,meski terlihat kecewa tapi akhirnya mereka memaklumi keinginanku.
sementara di kos andi terjadi percakapan yang menegangkan antara dia dam saudara perempuannya. " kenapa juga sintyia seperti itu,ini pernikahan! bukan mainan,harusnya dia berpikir bahwa pernikahan itu terjadi seumur hidup hanya sekali!".
"tapi,ini sudah jadi keputusannya,dan saya menghargai itu!. tegas andi.
"untuk pertama kalinya ada gadis mau menikah tapi punya keinginanbyang aneh!,baiklah kalau memang itu maunya,tapi aku akan tetap bawa mertuaku ke sana!"
andi melangkahkan kakinya ke atas kasur lalu berbaring.
tibalah saatnya hari pernikahan "sesuai keinginanku,aku tak mau mengundang banyak orang,aku juga tidak mau dirias seperti pengantin biasanya,akupun hanya meminta mahar 2gr cincin emas dan uang 2jt rupiah buat syukuran setelah ijab kabul nanti. orang tuaku mengikuti semua permintaanku. selain aku tak suka keramaian,akupun tak ingin nanti setelah menikah orangtuaku memiliki pinjaman pada orang. Itulah yang keluarga andi tidak terimah.
dua setelah ijab kabul,aku dan andi memutuskan akan kembali ke kota dan mulai masuk kerja lagi. sesampainya di kos,aku dan andi istrahat sejenak,sebelum keluar membelikan ole-ole buat orangtua andi yang sekarang sudah jadi mertuaku.
malam harinya,mobil rental menjemput mertuaku kembali ke kampung. "kami pamit dulu nak,bahagia teruk nak e,,," kata mertuaku.
setelah mobil berangkat meninggalkan halaman kos,aku dan andi masuk kembali. tiba-tiba andi melihatku tak berkedip,aku yang dilihatpun jadi salah tingkah. "kanapa melihatku seperti itu kak?" tanyaku.
"aku hanya tak menyangkah akan menikah secepat ini dengan waktu yang begitu singkatee pula,padahal dulu aku perna berpikir tidak akan perna menikah dengan kedaanku".
"bersyukurlah,Allah memberikan jalan di waktu yang tepat pula"
__ADS_1
"maafkan kakak,karena kakak tidak bisa mengabulkan mimpi kedua orangtuamu berpesta".
"sudahlah,bukankah kita menikah tujuannya agar kita terhindar dari dosa karena begitu intensnya kita bertemu?"
"iya,tapi tetap saja aku tidak enak dengan mereka!"
"sudahlah,orangtuaku tidak seperti orangtua pada umumnya. jadi tolonglah berhenti merasa seperti itu,kalau masih tidak enak,sana kasih sama kucing,"
hahaha,,,, kami tertawa bersama...
dia mencium keningku dan memelukku erat,membuat diri ini merasa panas. Menikah sekarang atau tidak sama sekali adalah hal yang kami putuskan secara tiba-tiba,karena kami berdua juga tidak akan bisa menahan lebih lama lagi gejolak di hati. akhinya malam pengantin yang aku dan andi tunggu terjadi juga malam ini,dengan penuh kehangatan dan nafas yang memburu kami menuntaskan hasrat kami. setelah selasai,andi tak bisa berbuat apa-apa kecuali berbaring telentang karena kelelahan,sedangkan aku segera bangkit untuk mandi,,,
andi terbangun saat subuh,terlihat dia yang sudah mengenaKan peci dan sarung,bersiap melangkah keluar." "dek,kakak ke masjid ya,,,!" bangun gih,sholat subuh! pintahnya sebelum keluar.
dengan langkah yang maaih menahan kantuk,kupaksakan berjalan menuju kamar mandi,setelah menunaikan kewajiban,aku bergegas ke dapur untuk memasak sarapan dan buat bekal kami berdua,agar lebih hemat.
setelah sarapan aku mengantarnya terlebih dahulu,kemudian kulajukan motorku ke arah tempat kerjaku beberapa tahun terakhir.
"cie,,, yang habis malam pertama," kata eka meledekku,aku tersenyum kemudian memulai pekerjaanku sebelum resto ramai...
sementara rekan kerja yang lain mengucapkan selamat atas pernikahanku,aku hanya menganggukan kepala tanda terima kasih atas ucapan dan doa mereka,begitulah aku jika swdang bekerja,dan mereka sudah sangat mengenalku dan memaklumiku.
__ADS_1