BINGKAI RETAK

BINGKAI RETAK
Sulaeman atau hurem?


__ADS_3

#14


Pukul 09:00 aku di dorong masuk ruang operasi,setelah mendapatkan anestesi di bagian belakang,aku merasa kan efeknya menjalar dari kaki ke atas,ketika dokter mulai melakukan tindakan,aku berteriak "aduh,sakit!!!" tiba-tiba aku di suntik kembali di bagian tangan,belum juga obat itu habis di suntikan,aku sudah tertidur sampai operasi selesai,aku kemudian di pindahkan ke ruang pemulihan. Di sana samar-samar aku mendengar seorang bidan membangunkan entah yang keberapa kalinya dia membangunkan,hanya mamaku yang tahu,karena hanya mama yang menemaniku di sana. Bidan itu datang kembali lalu aku mendengar "bu,kita tunggu 15 menit lagi,kalau dalam waktu itu ibu ini belum bangun kita nyatakan meninggal" aku mendengar perkataan itu,tapi sulit bagiku untuk membuka mata ini,mungkin masih pengaruh bius tersebut. Tapi,karena rasa takut atas perkataan bidan tersebut membuatku harus bangun,rasanya aku belum punya bekal untuk kembali ke sisi Allah.


Ku kumpulkan tenagaku agar bisa membuka mata,tepat saat bidan kembali membangunkanku,aku membuka mataku perlahan "ibu,ibu ingat siapa nama ibu?"


aku mengangguk,lalu bidan itu bertanya lagi "siapa nama lengkap ibu?"


"Sintyia eva"


Bidan itu kemudian berlalu hendak memberikan laporan,aku memandangi wajah mama seraya berkata "ma,,, maafkan sintyia ya ma!!!"


"Iya nak,sebelum kamu meminta maaf,mama sudah memaafkanmu nak".


"Ma,,, anakku gak kurang apapun kan?"


"Iya nak,dia lengkap!" sambil tersenyum


Sejujurnya aku ingin sekali melihat anugerah dari Tuhan yang baru saja dikeluarkan dari perutku,tapi aku bersabar karena anakku berada di ruang anak.

__ADS_1


Setelah azan zuhur berkumandang aku di kembalikan ke ruangan pemulihan yang ada di bagian kebidanan. Di sana untuk pertama kalinya aku melihat wajah yang begitu menggemaskan, aku belum mengetahui jenis kelamin anakku karena memang aku tidak perna melakukan usg selama kehamilan. Tapi,menurut feelingku adalah laki-laki,dan benar saja dugaanku.


Bayi yang lahir dengan panjang 47 dan berat 37 adalah seorang laki-laki dan tepat di hari sabtu di tanggal yang cantik yaitu tanggal enam bulan enam yang aku beri nama Sulaeman atas keinginan ayahku,kata beliau sejak menungguku di ruangan operasi ayahku berkata pada adikku yang juga ikut menunggu proses kelahiran anakku "kalau anak sintyia perempuan namanya HUREM dan kalau dia laki-laki SULAEMAN", mungkin karena ayahku adalah penggemar serial sultan sulaeman.


Selama di ruangan pemulihan aku tak henti-hentinya merintih kesakitan,karena untuk berbalik,itu terasa sangat sakit. Hingga seorang dokter datang memeriksa kondisiku,setelah dilakukan pemeriksaan,aku di pindahkan ke ruang perawatan yang berada di lantai dua RS tersebut. Di sanalah aku sedikit demi sedikit bisa leluasa bergerak walau masih sangat terasa sakit. Tibalah waktunya kami diperbolehkan pulang,tentu saja aku senang. Sejak melihat wajah anakku,rasa ingin kembali kerja hilang,bawaanya ingin terus berada di dekatnya. Tapi,apa boleh di kata,aku sudah berjanji dan aku tidak akan mengingkarinya.


Mungkin mama mengetahui apa yang ku rasakan saat itu,mama lalu berkata "kalau kamu berniat merawat anakmu sendiri mama tidak mengijinkan,mama khawatir luka bekas operasimu infeksi,biar mama saja yang rawat sampai kamu benar-benar pulih. Belum lagi kamu harus check up selama satu minggu ini,kamu akan kerepotan nak".


Andi lalu menjawab perkataan mama " kalau aku setuju dengan mama,biar kamu sembuh dulu baru pikirkan lagi apa yang hendak kamu lakukan"


Aku cuma bisa mengangguk tanda setuju. Selama tiga hari di rumah,aku habiskan waktuku bersama sulaeman. Hingga pada hari ke tujuh tepat satu minggu usia Sulaeman,mama dan ayahku sepakat membawanya pulang bersama mereka ke kampung,tentu saja atàs persetujuan aku dan andi.


Setelah mobil yang di tumpangi mereka bertiga pergi,aku dan andi masuk," Dek,kamu istrahat saja,biar aku yang bereskan semuanya!" . Ketika sedang membersihkan beberapa barang yang berantakan,aku bertanya pada andi "kak,kemarin kakak lupa ya memberitahu mama,kalau aku mau lahiran?"


"Gak dek,aku sudah memberi tahunya!"


Ku telan ludahku,serasa aku tak dianggap di sini. Tapi,ku tepis lagi rasa itu,mungkin saja beliau berhalangan.


Ini adalah minggu ke dua setelah kelahiran anakku yang tak lain adalah cucu beliau juga,tapi di usia anakku yang ke 14 hari beliau belum juga datang,bahkan menelpon saja gak perna.

__ADS_1


"Gak usah dipikirin dek,biar aja".


"Iya kak!" mungkin ucapan Andi ada benarnya,mending aku fokus untuk sembuh dulu lalu kembali kerja agar pemper dan sufor untuk Sulaeman tidak perna kurang.


Setelah tiga ganti perban ke RS,aku putuskan untuk kembali kerja agar aku tak terus-terusan berpikir yang tudak-tidak tentang keluarga suamiku Andi.


Hari senin aku kembali ke meja kasir yang sudah hampir sebulan tidak ku bersihkan,sesaat aku menatap layar komputer kemudian kembali memasukan ID dan sandiku. Dalam hatiku berucap sendiri "semangat sintyia demi sulaeman"


"Sintyia,,,! jangan kerja yang berat-berat dulu ya,ibu gak mau nanti bekas SCmu infeksi", kata istri pimpinanku yang cantiknya luar dalam.


"Iya bu,,, makasih" sambil ku tundukan sedikit kepalaku.


Aku kembali fokus melayani pembayaran di meja kasir,dengan di bantu satu karayawan atas perintah pimpinanku. Begitulah setiap harinyanya,hingga aku benar-benar pulih dan tidak memakai korset lagi. Kini aku kembali bisa memakai celana jeansku. Tubuhku tak banyak berubah,cuma naik sekitar lima kilo saja.


Aku berusaha untuk mengingat Sulaeman agar dia tidak rewel dan merepotkan nenek dan kakeknya. Itulah pesan mama sebelum berangkat kemarin. Aku bukan tak mengingatnya,bahkan aku sangat merindukannya. Aku bekerja berusaha untuk tetap fokus,tak ingin ada kesalahan dalam kerjaku. Meski sekali-kali wajah bayi mungilku Sulaeman sering hadir di ingatanku.


Selepas jam kerja,aku harus kembali ke kos untuk segera mandi,kemudian kembali lagi untuk menjemput Andi. Karena jam mandiku setelah melahirkan terjadwal dan tidak boleh berubah. Tapi,saat hendak kembali menjemput Andi,aku menerima pesan di nomor andi,karena memang,aku dan andi sengaja tukar pakai gawai untuk sementara. Karena Andi harus order barang melalui aplikasi. Sementara gawainya sudah full,tidak lagi bisa menampung banyak aplikasi. Sementara kuotanya pun telah habis.


Aku tak berani membuka pesan itu,mungkin saja pesan dari sales mengenai barang. Ku masukan gawai tersebut ke dalam kantong lalu menyalakan mesin motor dan berlalu menjemput Andi.

__ADS_1


__ADS_2