
Menjalani hari hari dengan situasi yang jauh dengan anak adalah hal sulit bagiku,tapi karena tuntutan ekonomi aku juga harus membantu suamiku karena tanggung jawab kami atas anak kami sulaiman. Hingga pada akhirnya mamaku memberi tahu kondisinua sudah sangat baik dan meminta aku menjemput sulaiman. Akhirnya, Aku pun meminta iparku untuk mengantar sulaiman pulang ke kota.
Sebenarnya,aku pun berat jika Sulaiman harus berlama-lama di rawat oleh keluarga suamiku. Bukan karena tidak percaya didikan mereka. Tapi, aku khawatir jika keberadaan sulaiman malah mengganggu aktivitas mereka berjualan kue. Dan aku pun takut jika suatu hari nanti ada kalimat-kalimat yang akan menyakiti hati ini,secara kan hubunganku dengan mereka kurang baik. Hingga karena beberapa alasan itulah,aku meminta sulaiman segera di bawa ke kota.
Tak ada yang keberatan atas permintaanku tersebut. Lagi pula aku sempat mendengar,selama sulaiman berada di tangan mereka,berat badan sulaiman sedikit bertambah,tapi yang kurang mengenakan adalah setelah sulaiman di mandikan dan berpakain rapi,segeralah mereka meletakan sulaiman di depan Tv,diberi kipas angin dan di beri sebotol susu,lalu mereka meninggalkannya di sana karena harus berjualan. Kadang juga mereka menitipkannya pada Kakak iparku yang satu suku denganku.
Malam hari,mobil rental yang mereka tumpangi tiba,segera aku beranjak menyambut buah hatiku. Sungguh kerinduan ini sangat besar padanya.
Ku ajak iparku masuk,setelah makan malam,dia langsung tidur karena kelelahan,di tambah lagi iparku sebenarnya gak kuat naik mobil perjalanan jauh.
Ke esokan harinya,iparku pamit pulang karena tidak bisa berlama-lama dengan alasan anaknya mencarinya,belum lagi suaminya sampai hari ini belum ada kabar di mana keberadaannya.
Tak lupa aku memberinya sedikit uang jajan untuknya juga anaknya. Meski sering kali cekcok tapi dialah satu-satunya iparku yang tidak ikut campur masalah keluargaku,dia memilih diam dan akan bicara saat diminta saran ataupun dimintai bantuan.
Hanya doa yang bisa ku panjatkan untuknya agar permasalahannya dengan sang suami akan membaik demi anak-anaknya.
Pov Nur
Setelah gertakan yang aku lakukan pada suamiku beberapa minggu yang lalu,aku harus menelan pil pahit atas tindakan kasarku pada suamiku yang telah memberikanku 2 orang anak putra dan putri.
Aku sudah mencari dan bahkan menelpon sanak famili hanya untuk sekedar bertanya apakah suamiku Hamid ada bersama mereka,namun jawaban yang aku dapatkan hanyalah membuatku khawatir akan hal-hal yang tidak sebenarnya tidak aku inginkan.
Berselang beberapa hari,aku kemudian memberanikan diri mencari tahu kepada kakak pertamaku yang tinggal di kota. Ku buang gengsiku pada kakak ipar yang sama sekali kami tak anggap ada. Aku memencet nomornya dengan perasaan was-was,takut bila mana kakak ataupun kakak iparku tak akan menjawab panggilanku melalui seluler.
__ADS_1
Namun,setelah beberapa kali tak terhubung,akhirnya panggilanku pun terjawab,ku dengar suara kakak laki-lakiku menjawab seolah takut akan seseorang.
"Halo,,,,"
"Halo andi,,, "
"Iya,kenapa?"
"Maaf,,,beberapa hari ini,Hamid pergi dari rumah,dan aku tidak tau kemana dan dimana dia sekarang!"
"Terus?!" jawab kakakku singkat di seberang sana. Aku memaklumi apa yang kakakku rasakan terhadap kami sebenarnya,tapi di sini aku tidak bersalah pada masalah yang tengah di hadapi kakak iparku dan juga saudara-saudaraku yang lain. Karena memang pada dasarnya aku hanya suka berbicara pada saat aku di minta untuk berbicara.
"Begini,,,apa beberapa hari ini,Hamid perna menghubungi atau datang ke tempat kalian?"
Jawaban dari kakakku adalah jawaban yang tidak aku harapkan,karena besar harapanku,suamiku ada bersama mereka saat ini.
Andai saja saat itu aku bisa sedikit sabar,mungkin harga diri suamiku masih ada di hadapan keluarga besarku. Aku sadar,saat membentaknya di hadapan keluargaku itu sangatlah menyakiti hatinya. Namun,aku juga tidak perna tahu kalau akibatnya akan fatal seperti ini. Hanya Tuhan yang tahu rasa sakitnya juga penyesalannku. Saat ini,mungkin aku tengah merasakan sakit akibat selalu ikut menyakiti hati kakak iparku,walau kadang aku terpaksa ikut-ikutan membencinya,karena saudaraku yang lain tak perna memaafkan aku kalau aku tak berada di pihak mereka.
Setelah seminggu suamiku tak perna pulang,tiba-tiba kakakku meminta pertolongan pada ibu kami,agar ibu kami menjaga Sulaiman di kota,bukan kami khawatir tentang perlakuan iparku pada ibu kami jika ibu harus tinggal bersama kakakku di kota. Tapi, yang kami khawatirkan pekerjaan kami akan terbengkalai jika ibu benar-benar tinggal bersama kakakku. Karena sejatinya,kami tidak bisa menghendel anak-anak kami tanpa bantuan ibu,kami sangat bergantung pada ibu,bahkan untuk sekedar memasak atau melakukan pekerjaan rumah saja kami mengandalkan ibu. Itulah mengapa kami tidak ingin ibu sampai tinggal di kota bersama andi kakakku.
"Besok mama akan ke kota,mau jagain sulaiman" kata ibu kami memberi tahu.
"Nggak usahlah bu,ngapain juga,mending sintia aja suruh berhenti kerja dulu,nanti kalau mamanya sudah sembuh barulah dia cari kerja lain". Kata Aci adikku
__ADS_1
"Iya toh mah,,, nggak usah! paling juga nanti sampai di sana mama bakal di suruh ini itu sama sintia!" timpal zia adik bungsuku
"Jangan ngomong gitu toh,selama kenal sama kak sintia,aku loh gak perna lihat mama kerja,jangankan masak,cucian kalian aja di cucinya". Tiba-tiba kakak iparku menjawab kami semua. Kami tidak bisa menjawab lagi,bukan karena takut pada kakak ipar cuma kami takut pada suaminya yang tidak lain adalah kakak laki-laki kami,kakak kedua kami.
"Atau begini saja,bagaimana kalau si Nur aja yang ke kota jemput sulaiman,bawa aja dia kesini,dari pada mama yang ke palu,kalau kesini kan bisa banyak yang jagain sulaiman". Kata adikku yang paling cerewet dan paling suka merajuk.
Ibuku terlihat sangat bingung,tapi aku tahu,ibu pasti ikut ide kami karena ibu paling gak mau bikin anak bungsunya marah,sekalipun harus mengorbankan anak sulungnya.
"Bagaimana ma,,, mama setuju dengan idenya lina?"
"Atur saja bagaimana baiknya kamu,yang penting sulaiman ada yang jaga,jangan sampai sintia berhenti kerja,kasian kakakmu nanti!"
Setelah kami memutuskan bahwa aku yang harus ke kota menjemput ponakanku sulaiman,aku sedikit lega,setidaknya aku bisa mampir di rumah mertuaku untuk melihat apakah Hamid ada di sana atau tidak. Karena sejauh ini aku tak perna bertanya pada keluarga suamiku.
Tibalah waktunya aku berangkat dengan tujuan menjemput sulaiman,tetapi sejujurnya bukan itu tujuan utamaku ke kota,tapi tujuan utamaku adalah mencari tahu suamiku benar-benar ada di rumah orang tuanya atau tidak.
Di perjalanan,aku sangat berharap akan menemui suamiku dan meminta maaf padanya. Tapi,kenyataan yang ku temui berbanding terbalik dengan harapanku. Suamiku ternyata cuma nginap satu malam di rumah orang tuanya dan besoknya dia mengikuti temannya yang kerja sebagai kontraktor. Entah,dia kerja sebagai apa,tapi dari mulut ibunya,kalau suamiku hamid,kerja dalam proyek tersebut.
Sesampainya di kos kakakku,aku dilayani selayaknya tamu,di ajak makan,dipersilahkan istrahat dan tidak dibiarkan memasak atau mencuci piring. Begitulah kakak iparku,tidak perna mau merepotkan orang lain,kecuali saat ini dia ingin di jaga anaknya.
Malam pun tiba,aku kembali bercerita pada kakak iparku,tentang keadaan rumah tanggaku,meski kakak iparku tdk perna memberikanku jalan keluar,tapi setidaknya dia sudah bersedia menjadi pendengar yang baik. Aku tahu,alasan kenapa kakak iparku tidak ingin memberiku solusi atas masalahku,mengingat,dia sudah banyak menerima perlakuan buruk dari kami bersaudara.
Hingga paginya aku harus balik kanan kembali ke kampung dengan membawa sejuta rasa sesal dalam diri,mesku begitu,ada sulaiman yang sedang terlelap di pangkuanku sebagai hiburanku saat ini. Wajahnya yang imut yang mengikuti bentuk wajah ibunya,dan wangi badannya yang khas bayi sedikit membuatku betah menciumnya.
__ADS_1