BINGKAI RETAK

BINGKAI RETAK
Andi #2


__ADS_3

Setelah beberapa bulan menikah dengan sintia,aku hampir lupa bahwa saudara saudaraku tak suka pada sosok istriku. Entah apa yang membuat mereka sangat membenci istriku,tapi aku justru bersyukur karena sintia sangat mudah mengalah saat di kucilkan atau pun di singgung dalam hal apapun. Hingga pada suatu ketika,aku sakit dan sintia sesegera mungkin mengantarku ke Rumah sakit.


Setelah mendapatkan tindakan dari dokter yang tugas di unit gawat darurat,aku belum diperbolehkan pulang. Karena masih harus melakukan berbagai tes. Ku lihat Sintia merogok kantung jaketnya dan mengambil bendah pipihnya. Aku tidak perna tahu dia menelpon siapa. Namun yang jelas saat itu,aku ingin salah satu keluargaku datang menjengukku dan menjagaku. Agar sintia bisa tetap masuk kerja. Namun sungguh malang nasibku di perantauan,tak ada satupun dari keluargaku yang datang,malah justru adik-adik sintia dan juga sepupu mereka yang datang menungguiku.


Aku sama sekali tidak terkejut dengan sifat saudara-saudaraku. Mereka paling cuek dengan kesehatanku,itu yang aku rasa saat itu.


Dan betapa terkejutnya aku,saat aku dinyatakan sehat dan boleh pulang. Aku sangat senang,bahkan adik-adik iparku juga saudara mereka pamit pulang setelah mengantarkan barang-barang ke kos. Mereka harus kembali ke kampung karena semua nasabah sudah menghubungi mereka. Hanya ucapan terima kasih yang bisa aku ucapkan atas waktu yang mereka luangkan untukku.


Sesampainya di kos,lagi aku dikejutkan oleh kedatangan mertuaku yang membawa serta anakku. "Yaa Robb,,,, terbuat dari apa hati mereka sehingga begitu menyayangiku lebih dari anak kandung mereka?"

__ADS_1


Ku gunakan waktu sebaik mungkin untuk bermain dengan anakku sambil melepas rindu pada jagoan kecilku itu.


Serasa tak ada lelah yang ku rasa saat bercengkrama bersama anakku sulaeman. Semua penat,kecewa dan sakit yang ku rasa seperti hilang setelah melihat senyuman dan mendengar tawa cruncy anakku.


Tak terasa waktu sudah sore. Waktunya menunaikan kewajiban sebagai makhluk Tuhan. Ku ajak anakku yang baru ber usia 11 bulan itu belajar menunaikan kewajibannya. Mungkin terlalu dini,tapi justru akan menjadikan kebiasaannya sejak dini. Mungkin sebagian orang akan menganggap yang aku dan sintia lakukan terlalu lebay ataupun berlebihan. Tapi nyatanya,setiap azan anak kami sulaeman langsung memanggil untuk sholat.


"Yah! mbayang,ayo Allah!" sambil mengangkat tangannya seperti orang takbir.


"Eman,ikut ayah wudhu ya,,,! "

__ADS_1


"Iya Yah!"


Setelah selesai menunaikan sholat,kami berlima,Aku,sulaeman,sintia,nenek sulaeman dan juga tantenya sintia bermain kembali setelah makan malam tentunya.


Hingga tak Sulaeman tampak menguap menandakan kalau dia sudah meminta untuk tidur.


Banyak doa yang aku panjatkan untuk buah hatiku itu. Salah satunya adalah menjadi anak yang taat akan perintah Tuhan dan menjauhi segala larangannya.


Hidup memang tak ada yang tahu,apa yang kita inginkan belum tentu kita dapatkan saat itu,tapi berusaha menjadikannya taat sejak dini adalah keinginan kami. Agar kelak kami tidak akan terlalu mengekangnya.

__ADS_1


Hari ini,Sulaeman dan neneknya akan kembali ke kampung karena kami harus kembali masuk kerja lagi. Ku titip pesan pada 2 orang mertuaku agar tetap mengajarkannya sholat. Dan dianggukan oleh mertuaku tanda setuju.


__ADS_2