
Rian sedang duduk di sofa sambil menonton TV di rumahnya, sementara anak Sharmila yang sudah berusia enam bulan sedang asyik bermain di atas karpet. Rian merasakan kehangatan dari anak tersebut, senyum dan riang gembira yang ditunjukkan olehnya.
Anak tersebut telah tumbuh dekat dengan Rian sejak awal, dan seakan-akan menjadi bagian dari keluarganya. Rian sangat menyayangi anak Sharmila itu, walaupun masih terdapat luka hati dalam dirinya karena apa yang terjadi dengan Sharmila.
Rian merasa sedih dan kesal dengan keadaan yang terjadi, tetapi dia tidak bisa menyalahkan anak Sharmila karena anak tersebut tidak bersalah dan tidak tahu tentang masalah tersebut. Rian tidak ingin anak Sharmila menjadi korban dari kesalahan orang tuanya. Dia tahu bahwa anak tersebut memiliki hak untuk memiliki ayah dan ibu yang lengkap, walaupun situasi yang terjadi saat ini tidak begitu mudah untuk dihadapi.
"Sekarang, kita akan tidur siang ya, sayang?" ucap Rian sambil membawa anak Sharmila ke tempat tidur.
Anak Sharmila menatap Rian dengan wajahnya yang polos dan mengangguk, menunjukkan setuju untuk tidur siang. Rian tersenyum dan merasa bahagia melihat anak Sharmila yang begitu dekat dengannya.
"Mau tidur di sampingku ya, sayang?" tanya Rian sambil membaringkan anak Sharmila di tempat tidur.
Rian merasa senang dan bahagia saat berada di dekat anak Sharmila. Dia merasa terikat dan bertanggung jawab pada anak itu meskipun bukan anak kandungnya sendiri.
Ketika Rian berada di rumah, dia senang bermain dan merawat anak Sharmila, membantunya makan, mandi, dan tidur.
Anak Sharmila menatap Rian lagi dan mengangguk lagi. Rian kemudian meletakkan anak Sharmila di sebelahnya dan memeluknya erat-erat. Anak Sharmila merespon dengan pelukan dan memejamkan matanya.
Rian merasa bahagia dan senang bisa merawat anak Sharmila seperti anak kandungnya sendiri. Dia merasa bertanggung jawab dan ingin memberikan yang terbaik untuk anak itu. Dia berjanji akan selalu menjaga dan melindungi anak Sharmila selama hidupnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Rian merasa anak Sharmila sudah tertidur nyenyak di pelukannya. Dia tersenyum dan mencium kening anak itu. Dia merasa bahagia dan terharu bisa merasakan cinta yang begitu besar pada anak yang bukan darah dagingnya sendiri.
"Terima kasih Tuhan, telah memberikan anak yang luar biasa seperti dia dalam hidupku," ucap Rian dalam hati.
Rian memejamkan matanya dan memeluk anak Sharmila dengan erat. Dia berdoa agar anak itu tumbuh sehat dan bahagia, serta bisa menjadi anak yang sukses dan berguna.
Rian merasa terikat dan bertanggung jawab pada anak Sharmila. Dia mencintai anak itu seperti anak kandungnya sendiri dan merasa bahagia bisa merawat dan membantu anak itu tumbuh besar. Meskipun situasi rumah tangganya dengan Sharmila masih bermasalah, Rian tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anak Sharmila dan menjadikannya bagian dari keluarganya.
Rian merasa sangat bahagia dan terharu ketika bersama anak Sharmila. Anak itu terlihat sangat dekat dan nyaman dengan dirinya, bahkan seringkali menempel pada Rian dan menggenggam jari-jari tangannya. Dia merasa sangat senang ketika anak tersebut merangkul lehernya dan menggosok-gosokkan kepala ke dadanya, mengirimkan rasa aman dan cinta yang sangat dalam.
"Emhhh..."
"Cup cup cup..."
Rian menepuk-nepuk pantat anak Sharmila, supaya lebih nyaman saat tidur.
Anak tersebut membuat Rian merasa lebih lengkap sebagai seorang pria, sebagai ayah pengganti dan juga sebagai suami yang tangguh. Dia merasa sangat terikat dengan anak tersebut, merasa bahwa dia adalah seorang ayah yang bertanggung jawab dan ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
"Hahhh... Andai saja..."
__ADS_1
Namun, di saat yang sama Rian juga merasa sangat sedih dan khawatir karena situasi antara dirinya dan Sharmila belum sepenuhnya mereda. Dia takut bahwa masalah tersebut akan mempengaruhi anak tersebut di masa depan. Rian tidak ingin anak itu tumbuh dalam lingkungan yang tidak stabil dan penuh dengan konflik.
Rian merasa sangat dilema karena dia mencintai Sharmila dan anaknya, tetapi dia juga harus mempertimbangkan kepentingan anak tersebut. Dia merasa terjebak dalam situasi yang sulit, di mana dia harus membuat keputusan yang sulit dan berat untuk dilakukan.
Namun, meskipun terkadang merasa sedih dan khawatir, Rian selalu mencoba untuk menunjukkan cinta dan perhatian yang besar pada anak tersebut. Dia sering membawanya ke taman bermain, membacakan cerita sebelum tidur, atau hanya bermain dengan mainan bersama-sama. Rian berusaha untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan bahagia bagi anak tersebut.
Rian juga senang melihat bagaimana anak tersebut tumbuh dan berkembang setiap harinya. Dia sering mengajari anak tersebut hal-hal baru, seperti cara berjalan atau memanjat. Rian merasa sangat bangga dan terhibur ketika melihat anak tersebut berhasil melakukan sesuatu yang baru.
Dalam hati, Rian berdoa agar situasi antara dirinya dan Sharmila akan segera mereda sehingga dia bisa menjadi ayah yang lengkap bagi anak tersebut. Dia ingin menciptakan keluarga yang bahagia dan harmonis bagi anak itu dan juga untuk dirinya dan Sharmila. Rian berjanji untuk selalu mencintai dan membantu anak tersebut, dan dia akan selalu menjadi ayah yang tangguh dan penyayang bagi anak tersebut.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau mengirimkan mas Rian untuk menjadi suamiku, ayah yang baik untuk anakku."
Sharmila merasa senang melihat kedekatan Rian dengan anaknya. Meskipun sebenarnya dia merasa sedih dan sedikit cemburu, namun dia menyadari bahwa Rian adalah ayah yang baik dan sayang pada anaknya.
Sharmila merasa bersyukur memiliki seorang suami seperti Rian yang mau menerima anaknya dan menjadikan anaknya sebagai bagian dari keluarga mereka.
Saat melihat Rian dan anaknya bersama-sama, Sharmila merasa terharu dan bahagia. Dia merasa bahwa anaknya memiliki ayah yang baik dan peduli, yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang pada anaknya. Sharmila merasa bangga dan berterima kasih kepada Rian atas segala kebaikan dan cinta yang diberikannya pada anak mereka.
Namun di sisi lain, Sharmila juga merasa sedih dan cemas. Dia khawatir bahwa suatu saat nanti Rian akan merasa terbebani dengan kehadiran anaknya dan memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Sharmila merasa sedih jika harus kehilangan Rian, dan merasa bersalah atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan.
__ADS_1
Meskipun begitu, Sharmila berusaha untuk terus berpikir positif dan bersyukur atas segala kebaikan yang telah diberikan oleh Tuhan kepadanya. Dia berusaha untuk menjadi ibu yang baik dan mencintai anaknya dengan sepenuh hati, serta membantu Rian merawat anak mereka dengan sebaik-baiknya.
Di sini lainnya, Ruli berusaha mencari gadis lain untuk dijodohkan dengan Rian. Dia sudah meminta kepada Sharmila untuk pergi meninggalkan Rian, karena sampai kapanpun dia tidak mau memberikan restu pada pernikahan mereka.