
Rian duduk di sofa sambil menatap kosong ke arah televisi yang sedang menyala. Sharmila menghampirinya dengan hati yang berdebar.
"Rian, maafkan aku," ujar Sharmila sambil menunduk.
Rian tidak menjawab dan terus menatap ke arah televisi.
"Aku tahu aku telah membuat kesalahan besar. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan atau aku lakukan," lanjut Sharmila.
Rian yang duduk di samping Sharmila, tidak peduli, dengan masih menatap kosong ke arah depan. Sharmila merasa gugup, tidak tahu harus berkata apa. Suasana di ruangan itu begitu hening, hanya terdengar suara napas mereka berdua yang memenuhi ruang tamu.
Setelah beberapa saat, Rian akhirnya memecahkan keheningan tersebut. "Kita harus bicara serius, Sharmila. Aku butuh kejujuran dari kamu. Siapa sebenarnya ayah biologis dari anak kita?"
Sharmila merasa sangat gugup dan takut saat Rian mengajukan pertanyaan itu. Ia merasa bahwa semua akan berakhir di sana dan tidak akan ada lagi kebahagiaan dalam kehidupannya. Tetapi dia juga merasa bahwa dia harus menghadapi kenyataan dan memberitahu kebenaran kepada Rian.
"Maafkan Mila, mas Rian. Hiksss hiks hiks... Dia, dia adalah Alex." Akhirnya Sharmila bisa memberikan jawaban atas pertanyaan Rian.
"Kau benar-benar membuatku kecewa, Sharmila. Aku tidak tahu bagaimana cara melupakan hal ini," ujar Rian dengan suara yang hampa.
Sharmila duduk di samping Rian dan memegang tangan suaminya dengan lembut. "A-ku tahu ini sulit bagi kita berdua. Tapi aku tidak ingin menyingkir darimu. A-ku mencintaimu, mas Rian. Tolong beri a-ku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini," ucap Sharmila dengan gugup.
Rian menarik tangannya dengan kasar dan berdiri dari sofa. "Kau tahu, Sharmila, kau sudah menipu aku selama ini. Aku tidak tahu lagi apakah aku bisa mempercayaimu lagi," ucapnya dengan suara gemetar.
__ADS_1
"Hiksss hiks hiks... Ya, Mila mengerti kalau kau marah padaku, mas Rian. Tapi a-ku janji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. A-ku minta maaf, mas Rian," balas Sharmila.
Rian diam sejenak dan kemudian berbalik untuk melihat Sharmila. "Aku membutuhkan waktu untuk memikirkannya, Sharmila. Aku tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi pada kita berdua setelah semua ini," katanya.
Sharmila menangis dan berdiri untuk memeluk Rian. "Tolong, mas Rian. Jangan tinggalkan a-ku. A-ku tidak akan bisa hidup tanpamu," ujarnya dengan suara bergetar diantara isakan tangisannya.
"Hhh... aku tidak tahu. Tapi aku bisa memaafkan, asal dengan syarat."
Rian memaafkan Sharmila, dengan saru syarat untuk tidak menghubungi Alex lagi apapun yang akan terjadi pada keluarga mereka. Rian juga berusaha membantu Sharmila untuk meminta maaf dan meraih restu ibunya lagi.
Rian membalas pelukan Sharmila, tetapi diam-diam dia masih merasa kesal dan kecewa pada Sharmila. Dia perlu waktu untuk memikirkan apakah dia bisa memaafkan Sharmila atau tidak.
Beberapa saat kemudian, Sharmila mengangkat wajahnya dan menatap Rian dengan mata penuh harap. "Aku berjanji tidak akan melibatkan keluargaku. Tolong, jangan bilang pada siapa pun tentang ini. Biarkan kita menyelesaikan masalah ini sendiri," ucapnya dengan suara lembut.
Situasi ini benar-benar membingungkan bagi keduanya. Mereka tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini dengan benar tanpa melukai perasaan satu sama lain dan keluarga mereka. Mereka berdua merasa terjebak dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian dan kecemasan.
Ketika mereka berbicara, suasana hati mereka terasa sangat tegang. Sharmila mencoba menjelaskan apa yang terjadi dan meminta maaf kepada Rian. Dia terlihat merasa sangat bersalah dan sedih karena telah membuat Rian dan keluarganya terluka. Rian juga terlihat sangat marah dan kecewa dengan apa yang terjadi, tetapi dia mencoba untuk mempertahankan kekuatannya. Dia mencoba untuk menahan emosinya agar tidak terlihat terlalu lemah di depan Sharmila.
Saat mereka berbicara, terdapat keheningan yang panjang. Keduanya mencoba untuk mencari jalan keluar dari situasi ini, tetapi mereka masih terjebak dalam situasi yang rumit dan penuh dengan emosi. Mereka berdua berusaha untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan jujur, tetapi terkadang kesulitan untuk menemukan kata-kata yang tepat.
Rian merenung sejenak dan kemudian mengangguk. "Baiklah, aku tidak akan melibatkan keluargamu. Tapi aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya," katanya dengan tegas.
__ADS_1
Sharmila menghela nafas lega dan mengucapkan terima kasih pada Rian. Mereka kemudian duduk berdampingan, membicarakan tentang anak mereka dan masa depan yang belum pasti.
Setelah mendengarkan penjelasan Sharmila dan memahami keadaannya, Rian akhirnya memutuskan untuk memaafkannya. Namun, ia menetapkan syarat agar Sharmila tidak lagi menghubungi Alex dan tidak melibatkan keluarganya dalam masalah ini.
Sharmila setuju dengan syarat tersebut dan bersedia melakukan apa pun untuk memperbaiki kesalahannya.
Rian dan Sharmila mulai memperbaiki hubungan mereka dan berusaha untuk saling memahami satu sama lain. Mereka berusaha untuk membuka diri dan berbicara secara terbuka tentang perasaan mereka. Mereka juga berusaha untuk menemukan cara agar anak mereka bisa tumbuh dengan bahagia dan merasa dicintai.
Akhirnya, Rian dan Sharmila berhasil menyelesaikan masalah mereka. Mereka kembali bahagia bersama dan memperbaiki hubungan mereka. Mereka berjanji untuk saling mendukung satu sama lain dan membangun keluarga yang bahagia.
Rian merasa bertanggung jawab untuk membantu Sharmila meminta maaf pada mamanya dan meraih kembali restunya. Dia tahu bahwa mamanya akan sangat kecewa dengan Sharmila dan akan sulit baginya untuk memaafkan Sharmila, ditambah lagi dengan keputusannya yang menentang. Rian merencanakan untuk membawa Sharmila dan anak mereka ke rumah mamanya, di mana dia akan meminta maaf atas nama Sharmila.
***
Sekarang mereka tiba di rumah mamanya Rian, suasana hati Rian menjadi gelisah. Dia tahu bahwa ini akan menjadi pertemuan yang sulit, tetapi dia harus memperbaiki kesalahan yang telah terjadi. Sharmila tampaknya merasa gugup dan cemas, tetapi dia mengikuti Rian dengan penuh keyakinan.
Situasi mereka saat ini adalah penuh dengan kebingungan, kekecewaan, dan kecemasan. Mereka berdua sedang duduk di ruang tamu rumah mereka, di mana suasana hati mereka terlihat sangat berbeda. Sharmila terlihat gelisah, merasa sedih dan bersalah atas kekeliruannya. Dia merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri karena telah mengecewakan Rian dan keluarganya.
Sementara itu, Rian terlihat tegang dan bingung. Dia sedih karena dia merasa telah dikhianati oleh orang yang paling dia cintai, tetapi pada saat yang sama, dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Sharmila dan anak mereka.
Ada rasa cemas yang menghantui pikirannya karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
__ADS_1
"Mas," panggil Sharmila terlihat gugup.
"Tenang, ya. Aku ada di sini untukmu."