
Ruli juga tidak mau menerima tangan anaknya Sharmila, yang datang untuk bersalaman sebagai sopan santun anak kecil pada yang lebih tua, saat Sharmila datang.
Ruli masih tidak bisa menerima kehadiran Sharmila dan anaknya yang sudah tumbuh kembang menjadi anak yang menggemaskan.
Sudah beberapa kali Sharmila datang untuk meminta maaf, tetapi semua itu sia-sia. Bahkan tangan Sharmila pun ditolak ketika dia datang bersama anaknya untuk berkunjung ke rumah mama mertunya.
Sharmila merasa sangat sedih dan kecewa dengan sikap Ruli yang tidak berubah. Dia terus mencoba untuk membuka hati Ruli dan memperbaiki hubungan mereka, tetapi semua usahanya selalu sia-sia. Sharmila merasa sudah tidak tahu lagi harus bagaimana untuk merubah keadaan.
"Ma. M-ila, Mila datang untuk meminta maaf dan waktu pada mama. Tolong dengarkan Mila, sebentar saja. Ya, ma."
Sharmila merasa senang karena Ruli akhirnya menganggukan kepalanya setuju. Sharmila berpikir jika Ruli mulai membuka hatinya untuk mendengarnya. Ia menjelaskan secara detail tentang kejadian yang terjadi dan perasaannya yang sebenarnya.
"Ma. Mila tahu Mila salah karena tidak mengatakan kebenaran sejak awal. Mila merasa sangat bersalah, ma."
Tapi ternyata Ruli tetap tidak menerima alasan apapun yang diberikan oleh Sharmila.
"Sebaiknya kamu pergi, Mila. Itu lebih baik untukmu, Rian dan anakmu."
Mendapatkan tekanan secara terus menerus dari Ruli, membuat Sharmila tertekan dan tidak kuat lagi menahan diri untuk tetap tinggal di rumah Rian. Akhirnya dia pergi meninggalkan rumah dan pergi, tapi tidak pulang ke rumah orang tuanya.
Sharmila merasa sangat tertekan dengan situasi yang dihadapinya. Dia merasa kecewa dan sedih karena tidak bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Rian, serta merasa terlalu lelah untuk terus berjuang mendapatkan restu dari mama mertuanya. Namun, dia juga tidak ingin kembali ke rumah orangtuanya karena merasa malu dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku, mas Rian. Aku tidak kuat lagi dengan tekanan dari mama dan rada bersalah," kata Sharmila sambil menangis, pergi dari rumah.
Sekarang, Sharmila merasa sangat kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana. Dia sedih dan terus merenungkan keputusannya untuk meninggalkan rumah Rian. Dia memandang ke arah jendela, melihat hujan yang turun deras.
__ADS_1
"Duh, kenapa jadi begini? Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan keputusanku?"
"Aku mencintai mas Rian, tapi mengapa aku merasa semuanya menjadi semakin sulit?" Sharmila berbicara pada dirinya sendiri sambil menangis perlahan.
"Tapi aku tidak bisa membiarkan mama Ruli menghancurkan hidupku begitu saja. Aku harus menemukan jalan keluar dari situasi ini. Tapi bagaimana caranya?"
Sharmila terus memikirkan apa yang bisa dia lakukan untuk mengubah situasi yang semakin sulit ini.
"Aku tidak bisa membiarkan anakku tumbuh dalam lingkungan yang tidak bahagia. Aku harus mencari jalan keluar terbaik untuk anakku dan juga untuk diriku sendiri."
Sharmila menghapus air matanya dan memutuskan untuk mengambil keputusan dengan kepala dingin.
"Aku akan mencoba berbicara dengan Rian lagi, aku akan mencoba untuk meminta maaf dan meminta dia untuk memahami situasi yang aku hadapi. Aku tahu tidak mudah, tapi aku harus mencoba."
"Tapi sepertinya itu sulit."
Kini dia menemukan jalan buntu dan tidak bisa mengambil keputusan yang tepat
Akhirnya Sharmila memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Rian, hatinya bergejolak dan penuh dengan ketidakpastian. Di satu sisi, dia merasa lega karena tidak lagi harus merasakan tekanan dan penolakan dari Ruli. Namun di sisi lain, dia juga merasa sedih dan cemas karena harus meninggalkan Rian.
Sharmila merasa sedih karena dia tahu bahwa dia sangat mencintai Rian. Meskipun awalnya dia mengunakan cara yang salah, namun seiring berjalannya waktu, perasaannya untuk Rian semakin kuat dan tulus. Dia sangat Rian, dan ingin mereka melihat anaknya tumbuh besar bersama-sama dengan Rian.
Namun, di saat yang sama, Sharmila merasa cemas dan takut dengan masa depannya tanpa Rian. Dia tahu bahwa dia tidak bisa hidup dengan nyaman jika harus berpisah dengan Rian. Namun, dia juga merasa sulit untuk kembali ke rumah orang tuanya karena merasa malu dengan keadaannya saat ini.
Dalam situasi ini, Sharmila sering berbicara dengan dirinya sendiri untuk mencari kekuatan dan ketenangan. Dia mengingatkan dirinya bahwa meskipun keadaannya sulit saat ini, dia harus tetap kuat dan berusaha untuk menemukan jalan keluar dari masalahnya.
__ADS_1
"Ku harus kuat, aku harus kuat," gumam Sharmila pada dirinya sendiri.
"Aku harus menemukan cara untuk memperbaiki keadaan ini. Aku tahu aku salah, tapi aku mencintainya dan aku tidak bisa hidup tanpa dia. Aku harus menemukan cara untuk membuat semuanya baik-baik saja."
Sharmila merasa bahwa dia harus memperbaiki hubungannya dengan Ruli dan mencoba untuk mendapatkan restu dari keluarga Rian. Namun, dia tahu bahwa hal ini tidak akan mudah dan mungkin memakan waktu yang cukup lama.
Dalam situasi seperti ini, Sharmila sering berdoa dan mencari bimbingan dari Tuhan. Dia percaya bahwa dengan bantuan-Nya, dia bisa menemukan jalan keluar dari masalahnya dan akhirnya bisa hidup bahagia bersama Rian dan anak mereka.
Sharmila merasa hampa dan kehilangan arah setelah meninggalkan rumah Rian. Dia tidak tahu harus pergi ke mana dan harus berbuat apa, apalagi dia juga membawa anaknya.
Setelah berjalan beberapa ratus meter, Sharmila berhenti di tepi jalan dan duduk di sebuah trotoar. Dia merasakan betapa lelahnya tubuh dan pikirannya yang penuh dengan kecemasan dan ketidakpastian.
Di sekitarnya, kendaraan berlalu lalang dan suara klakson yang terus berbunyi membuatnya semakin tidak nyaman. Sharmila merasa terasing dari dunia luar dan hanya berfokus pada pikirannya sendiri. Dia terus memikirkan keputusan yang telah diambilnya dan merasa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sharmila kemudian memandang sekeliling dan melihat toko-toko yang ramai di sepanjang jalan. Dia berpikir untuk masuk ke dalam sebuah toko dan mencoba melupakan semua masalahnya sejenak. Sharmila memilih toko pakaian dan berjalan masuk, memandangi berbagai jenis baju dan mencoba melupakan semua kekhawatirannya. Namun, ketika dia melihat pakaian anak-anak, dia tidak bisa menahan air matanya dan mengalami serangan panik sambil mendekap erat anaknya yang sedang tertidur.
"Sayang, hiks hiks hiks..."
"Maafkan, mama."
Sharmila merasa kehilangan dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia memikirkan anaknya yang sedang bersamanya dan merasa tidak tahu bagaimana cara memberikan kehidupan yang baik untuknya tanpa Rian. Dia memandangi baju-baju anak di toko tersebut dan merasa sedih ketika melihat baju-baju yang dia pikir tidak akan pernah bisa dibeli untuk anaknya.
Setelah beberapa waktu, Sharmila keluar dari toko dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dia merasa tidak tahu harus pergi ke mana dan kemana harus pergi untuk mencari tempat yang aman untuk dirinya dan anaknya.
Sharmila hanya berjalan dengan arah yang tidak pasti, mencari-cari jawaban untuk kehidupannya yang penuh dengan ketidakpastian.
__ADS_1