
Dua bulan kemudian, kehidupan Sharmila dengan Rian yang baru saja membaik kedatangan masalah yang sebenarnya tidak baru. Tapi Alex baru datang setelah semua kejadian yang hampir saja membuat keduanya bercerai pasca anak mereka lahir.
Ya, masalah itu adalah Alex. Dia datang untuk mengambil alih hak asuh anaknya Sharmila, karena dia merasa sebagai ayah biologis dari anak tersebut. Alex datang ingin mengambil anaknya, yang tentu saja membuat Sharmila dan Rian marah besar.
Saat ini, Sharmila dan Rian duduk di ruang tamu mereka, menatap satu sama lain dengan tatapan tegang atas kedatangan Alex yang baru saja pergi dari rumah mereka ini
Setelah beberapa saat, Sharmila mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Kita harus bicara tentang Alex."
Rian mengangkat alisnya, mengerti bahwa ini akan menjadi percakapan yang sulit. "Baiklah, apa yang ingin kamu katakan, Mila?"
Sharmila menatap ke arahnya dengan wajah sedih. "Dia datang ke sini hari ini. Dia ingin mengambil anak kita. Itu tidak mungkin, kan?"
Rian merasa sedih mendengar hal itu. "Apa maksudnya? Dia tidak punya hak untuk mengambil anak kita, sayang."
Sharmila menggelengkan kepalanya. "Tapi dia adalah ayah biologisnya, mas Rian. Dia memiliki hak asuh. Bagaimana ini?" tanya Sharmila gundah.
Rian merasa seperti dunianya runtuh. Dia tidak pernah berpikir bahwa mereka akan menghadapi masalah seperti ini setelah yang kemarin. "Kita harus berbicara dengan pengacara. Kita harus melindungi hak kita sebagai orang tua."
Sharmila setuju. "Aku sudah mengatur pertemuan dengan pengacara besok pagi. Kita akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin."
Mereka terus membicarakan masalah tersebut, mencoba mencari solusi yang tepat untuk melindungi hak mereka sebagai orang tua. Mereka juga berbicara tentang bagaimana cara menghadapi Alex.
***
__ADS_1
Keesokan paginya, mereka bertemu dengan pengacara mereka. Pengacara menjelaskan bahwa Alex memiliki hak asuh karena dia adalah ayah biologis anak mereka. Namun, mereka juga bisa memperjuangkan hak mereka sebagai orang tua yang telah merawat anak tersebut sejak lahir.
Setelah beberapa kali bertemu dengan pengacara dan mengumpulkan bukti bahwa mereka adalah orang tua yang lebih baik untuk anak mereka, akhirnya hak asuh anak tersebut diberikan kepada Sharmila dan Rian.
Namun, masalah belum berakhir. Alex terus menghubungi mereka dan meminta bertemu dengan anaknya. Sharmila dan Rian merasa khawatir dan tidak nyaman dengan hal itu.
Alex ngotot untuk mengambil anaknya, karena dia tahu jika anak tersebut adalah anaknya, bukan anaknya Rian. Alex bahkan merayu Sharmila supaya mau kembali padanya. Dia berjanji akan membahagiakan Sharmila dan anaknya.
Suatu hari, Alex tiba-tiba datang ke rumah mereka tanpa memberi tahu sebelumnya. Sharmila dan Rian merasa terkejut dan marah. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan Alex.
Sharmila sedang duduk di ruang tamu dengan wajah tegang, memikirkan masalah yang telah muncul lagi dalam hidupnya. Suasana di rumah menjadi tegang setelah kedatangan Alex, ayah biologis anaknya yang ingin mengambil hak asuh anak mereka.
Alex duduk di dekatnya, menatap Sharmila dengan tatapan lembut, "Sharmila, aku tahu bahwa aku telah membuat kesalahan besar. Aku ingin meminta maaf atas semua yang telah terjadi."
Sharmila merasa terkejut, tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia memandang Alex dengan hati-hati, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya ingin dia katakan.
"Kamu harus tahu bahwa anak itu adalah anakku, Sharmila. Dia bukan anaknya Rian. Kamu tahu itu juga, bukan?" kata Alex dengan suara rendah.
Sharmila merasa terkejut dan marah mendengar kata-kata Alex. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara tajam. "Anak itu adalah anak kita berdua. Rian telah merawatnya seperti ayah kandung. Kamu tidak punya hak untuk mengambil anak kami."
Alex tersenyum lembut, "Aku tahu bahwa Rian telah merawat anak kita dengan baik. Tapi kamu juga tahu bahwa anak itu adalah anakku, Sharmila. Kamu tidak bisa membiarkan Rian mengambil peran sebagai ayah ketika dia sebenarnya bukan ayah kandungnya."
Sharmila merasa marah dan frustasi mendengar hal itu. Dia merasa Alex tidak mengerti bahwa anak tersebut telah menjadi bagian dari keluarganya dan bahwa Rian adalah ayah yang baik bagi anak mereka.
__ADS_1
"Dia telah menjadi anakku dan Rian selama ini, Alex. Aku tidak bisa membiarkanmu mengambilnya begitu saja," kata Sharmila dengan suara tegas.
Alex merasa terpukul dengan keputusan Sharmila. "Aku tahu bahwa aku telah membuat banyak kesalahan di masa lalu, Sharmila. Tapi aku berjanji, aku bisa menjadi ayah yang baik bagi anak kita. Aku ingin membahagiakan kamu dan anak kita."
Sharmila menggelengkan kepalanya, "Kamu tidak bisa membuat janji seperti itu, Alex. Kamu telah meninggalkanku sejak awal. Bagaimana aku bisa mempercayaimu lagi?"
Alex menatap Sharmila dengan mata lembut, "Aku tahu bahwa aku telah membuat kesalahan besar di masa lalu. Tapi aku ingin memperbaikinya, Sharmila. Aku ingin kita bersama lagi dan mengasuh anak kita bersama-sama."
Sharmila merasa bingung. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dia lakukan. Dia masih mencintai Alex, tapi dia juga tidak ingin mengambil risiko membiarkan anak mereka di tangan ayah yang tidak stabil. Dia juga sudah berjanji untuk menjaga perasaannya untuk Rian, yaitu suaminya yang sekarang.
"Aku tidak bisa, Alex. Pergilah, dan maaf."
Sharmila merasa sangat tertekan dan bingung dalam situasi seperti ini. Kehidupannya yang telah mulai membaik bersama Rian dan anak mereka tiba-tiba terguncang oleh kehadiran Alex. Dia merasa dilema karena tidak tahu harus mendukung siapa dalam situasi ini.
Di satu sisi, dia masih mencintai Alex di dalam hati kecilnya dan ingin anaknya memiliki hubungan yang baik dengan ayah kandungnya. Di sisi lain, dia tidak ingin mengambil risiko dengan mempercayai Alex setelah dia meninggalkan mereka dengan tidak mau bertanggung jawab saat itu.
Sharmila harus mengambil keputusan yang tepat untuk kepentingan anak mereka, tapi tidak tahu harus memilih apa. Sharmila merasa stres dan kehilangan kendali atas keadaan ini, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Dia ingin memastikan bahwa keputusannya akan menjadi yang terbaik bagi anak mereka.
'Tidak. Aku tidak bisa membiarkan cinta ini tumbuh lagi. Mas Rian adakah yang terbaik.'
Sharmila tidak mau kehilangan Rian. Dia menyakinkan dirinya sendiri dengan semua kejadian yang telah dilewatinya bersama Rian beberapa bulan setelah melahirkan, dengan adanya masalah besar yang silih berganti.
"Mama juga sudah mulai menerimaku. Aku tidak bisa menyia-nyiakan kepercayaan mama. Hiks hiks hiks..."
__ADS_1
Sharmila ingat dengan perjuangannya untuk bisa mendapatkan restu dari Ruli, mamanya Rian yang menentang Rian saat memutuskan untuk tetap bertahan dengan pernikahan mereka.