
Delapan bulan kemudian.
Waktu untuk melahirkan akhirnya datang. Sharmila merasa sangat was-was karena keadaannya sekarang ini. Dia juga khawatir jika suaminya tahu jika umur kelahirannya ini adalah sebuah kebohongan, meskipun mereka berdua terlihat lebih bahagia saat menantikan kelahiran anak pertama mereka.
Namun, hari kelahiran akhirnya tiba dan Sharmila merasa sangat cemas. Dia merasa seperti ada yang salah dan khawatir tentang apa yang akan terjadi. Meskipun dia sangat ingin mengatakan kebenaran kepada suaminya, dia takut itu akan membuatnya merasa marah dan kecewa.
Rian menyadari bahwa Sharmila sangat cemas dan berusaha menenangkannya. "Jangan khawatir, sayang," kata Rian lembut. "Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan menjalani ini bersama-sama."
Sharmila menatap suaminya dengan pandangan khawatir. "Apa kamu benar-benar yakin?" tanya Sharmila.
"Ya, aku yakin," jawab Rian. "Kita telah mempersiapkan semuanya dengan baik dan kita akan melewati ini bersama-sama. Aku akan selalu ada untukmu."
Sharmila merasa lega mendengar kata-kata suaminya dan merasakan kekuatan dalam dukungan yang diberikan oleh Rian. Dia merasa seperti dia bukan lagi sendirian dan merasa lebih kuat dan percaya diri saat menghadapi kelahiran anaknya.
Namun, ketika tiba saatnya untuk pergi ke rumah sakit, Sharmila merasa cemas lagi. Dia merasa seperti dia tidak siap untuk menjalani proses kelahiran, dan khawatir tentang apa yang akan terjadi selama persalinan.
Rian mengambil tangan Sharmila dengan lembut dan berkata, "Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan melewati ini bersama-sama. Aku akan selalu di sampingmu, sayang."
Sharmila merasa sangat bersyukur memiliki suami yang menguatkan dirinya dalam situasi yang sulit ini. Dia merasa seperti dia tidak lagi sendirian dan memiliki seseorang yang selalu berada di sisinya, tidak peduli apa yang terjadi.
Ketika mereka tiba di rumah sakit, mereka disambut oleh tim medis yang ramah dan terampil. Sharmila merasa sedikit lebih tenang ketika dia melihat mereka bekerja dengan penuh perhatian dan ketelitian. Dia merasa seperti dia telah ditempatkan dalam perawatan yang baik dan aman.
Namun, ketika proses kelahiran dimulai, Sharmila merasa kesakitan yang hebat dan semakin cemas. Dia merasa seperti dia tidak akan mampu melanjutkan. Tapi Rian tidak pernah meninggalkannya sekalipun sebentar pun. Dia menggenggam erat tangan Sharmila dan memberikan dukungan verbal yang kuat.
"Kamu bisa melakukannya, sayang. Kamu sangat kuat," ujar Rian. "Aku di sini untukmu, selalu dan selamanya."
__ADS_1
Sharmila lega karena merasa dia tidak lagi sendirian saat Rian ada di sisinya. Dia merasa seperti dia memiliki kekuatan dan keberanian yang lebih besar ketika Rian ada di sisinya. Walaupun dia merasa kesakitan, dia merasa seperti dia bisa melanjutkan.
Setelah beberapa saat, akhirnya bayinya lahir dengan selamat.
Tapi setelah bayinya lahir, Sharmila merasakan perasaan yang berbeda-beda seperti kebahagiaan, kelegaan, kelelahan dan juga rasa khawatir. Dia bersyukur karena kelahiran bayinya telah berhasil dan sekarang dia memiliki seorang anak yang sehat. Namun, dia merasa kelelahan dan terkuras energinya karena proses persalinan yang melelahkan
Sayangnya apa yang dikhawatirkan oleh Sharmila menjadi kenyataan. Rian yang sebenarnya sudah mengetahui semua hal tentangnya, merasa tidak suka sebab anak tersebut tidak memiliki kesamaan sama sekali dengan dirinya.
Rian mencoba untuk menemukan bagaimana caranya untuk bertanya pada Sharmila tanpa menyakiti perasaannya.
"Sharmila, aku harus bertanya sesuatu padamu yang sangat penting. Apakah aku bisa tahu, siapa sebenarnya ayah biologis anak kita?" tanya Rian pelan, supaya tidak membuat Sharmila terkejut.
Tapi sayangnya Sharmila terlihat jelas bahwa dia sedang gugup dan cemas.
"Mas Rian, a-ku tahu bahwa kamu merasa curiga. Dan aku mengerti bahwa kamu ingin tahu kebenarannya. Ta-pi kamu harus bersiap-siap, karena jawabanku mungkin akan membuatmu terkejut."
"Apa maksudmu, Sharmila? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya pura-pura tidak tahu-menahu tentang keadaan Sharmila yang sebenarnya selama ini.
"Ma-af. Maaf, mas Rian. K-amu bukan ayah biologis anak kita. A-yah, ayah biologisnya adalah Alex."
Rian terdiam sejenak, terlihat sangat terkejut. "Apa? Bagaimana bisa? Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?"
Sharmila juga gugup dan ketakutan. "A-ku, aku tahu ini sangat berat untuk ditanggung, mas Rian. Ta-pi, a-ku berharap kamu bisa memaafkan ku. A-ku mencintaimu, mas Rian. Ta-pi aku melakukan kesalahan yang besar dengan berselingkuh dengan Alex sebelum kita menikah. A-ku, aku berharap kamu bisa memahami bahwa aku sedang dalam situasi yang sulit dan salah besar dengan Alex."
Rian menghela nafas panjang meskipun tangannya terkepal kuat. Dia mencoba untuk menahan diri, karena sedari awal dia sudah menekankan pada dirinya sendiri untuk tidak tersulut emosi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku, Sharmila? Aku merasa seperti kamu sudah mengkhianati kepercayaanku dan membuatku terluka."
Sharmila menunduk dan terisak-isak. "Hiksss hiks hiks... A-ku tahu aku telah membuat kesalahan besar, mas Rian. Ta-pi aku berharap kita bisa melewati ini bersama-sama dan mencintai anak ini. A-pa yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki kesalahan ini?"
"Aku perlu waktu untuk memikirkan semuanya. Tapi yang pasti, aku masih mencintaimu, Sharmila. Dan aku akan selalu mencintai anak ini. Tapi ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah. Aku butuh waktu untuk memikirkannya."
Setelah percakapan itu, Rian merasa terluka, marah dan kecewa, meskipun pada dasarnya dia sudah mengetahui segalanya. Ia merasa bahwa Sharmila telah mengkhianatinya dan merasa sedih karena situasi ini. Namun, ia juga merasa bahwa ia masih mencintai Sharmila dan anak tersebut, sebab bagaimanapun dia yang merawat Sharmila saat hamil. Ia membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya dan mencari cara untuk mengatasi situasi ini.
Tapi karena Rian sudah terlanjur sayang pada Sharmila dan anaknya, dia mendapatkan perlawanan dari ibunya yang memintanya untuk menceraikan Sharmila. Ibunya ternyata curiga jika menantunya itu sudah hamil sebelum mereka menikah.
Rian merasa gundah dan bingung dengan situasi yang dihadapinya. Setelah mengetahui secara langsung dengan pengakuan istrinya sendiri, bahwa anak yang yang baru lahir itu bukanlah anak kandungnya, Rian merasa sedih dan kecewa. Namun, perasaan tersebut tidak bisa menandingi rasa sayangnya pada Sharmila dan anaknya. Rian tetap memutuskan untuk tetap bersama Sharmila dan merawat anak mereka.
Namun, masalah baru muncul ketika ibu Rian mengetahui bahwa Sharmila telah melahirkan seorang anak yang tidak berdarah Rian. Ibu Rian mulai curiga dan meminta Rian untuk menceraikan Sharmila.
Rian merasa terjebak di antara dua pilihan, menceraikan Sharmila dan kehilangan orang yang dicintainya atau tetap bersama Sharmila dan melawan keluarganya.
"Ini salah Rian! Mama tidak terima!"
Percakapan antara Rian dan ibunya menjadi tegang. Ibunya tidak bisa menerima kenyataan bahwa menantunya itu telah hamil sebelum menikah. Rian mencoba menjelaskan bahwa dia mencintai Sharmila dan akan tetap bersamanya, tetapi ibunya tidak ingin mendengarkan penjelasannya.
"Ma, aku tahu mama tidak senang dengan situasi ini, tapi aku mencintai Sharmila dan anak kami. Aku tidak bisa menceraikannya hanya karena anak kami bukanlah anakku," ujar Rian dengan penuh ketegasan.
"Kamu harus menceraikannya, Rian. Ini tidak bisa diterima. Kita ini dari keluarga yang terhormat, dan kamu harus mengambil tindakan yang tegas dan tepat," jawab ibunya dengan nada tegas.
Rian merasa sedih dan kecewa dengan sikap ibunya. Dia mencoba menjelaskan lagi bahwa Sharmila tidak bisa dipersalahkan atas situasi ini dan bahwa mereka berdua harus bertanggung jawab sebagai orangtua. Namun, ibunya tetap tidak mau mendengarkan penjelasannya.
__ADS_1
"Ma. Mama tidak bisa memaksa aku untuk menceraikan Sharmila. Aku mencintainya dan anak kami, dan aku tidak ingin kehilangan mereka. Kamu harus mencoba memahami situasi ini dan memberikan dukungan untuk keluargaku," ujar Rian dengan suara yang mulai naik.
Percakapan itu berakhir dengan pertengkaran antara Rian dan ibunya. Rian merasa sedih dan kecewa dengan sikap ibunya, namun dia tetap teguh dengan keputusannya untuk tetap bersama istri dan anaknya.