Bukan Benih Yang Seharusnya

Bukan Benih Yang Seharusnya
Bab 22. Memaksa


__ADS_3

Keesokan harinya, Sharmila dan Rian sedang duduk santai di teras rumah mereka sambil menikmati secangkir teh. Menunggu anaknya yang sedang bermain-main di teras bersama mereka berdua. Tiba-tiba, Alex muncul di depan pintu dan meminta Sharmila untuk berbicara dengannya.


"Sharmila, tolong dengarkan aku," ucap Alex dengan suara serak. "Aku tahu aku telah membuat banyak kesalahan, tapi aku tidak bisa hidup tanpa anakku. Aku ingin dia bersama-sama dengan aku."


Sharmila menatapnya dengan mata tajam, "Alex, aku sudah memberitahumu sebelumnya. Aku tidak akan pernah meninggalkan mas Rian dan anakku. Kita sudah berpisah, dan itu sudah selesai."


Namun, Alex tidak merelakan putusnya hubungan mereka begitu saja. Dia terus memohon kepada Sharmila untuk menyerahkan anak mereka kepadanya. Sharmila merasa takut dan cemas, terutama setelah melihat Alex yang tampak putus asa dan hampir tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Sudah cukup, Alex," kata Sharmila dengan tegas. "Aku sudah memberitahumu bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan mas Rian dan anakku untukmu. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu mengambil anakku."


"Tapi, dia adalah anakku juga, Sharmila," ujar Alex dengan suara bergetar. "Aku mempunyai hak untuk melihat dan merawatnya."


"Kamu boleh melihat anakmu, Alex. Tapi, aku tidak akan menyerahkan hak asuhnya kepada siapa pun kecuali mas Rian dan aku sendiri," tegas Sharmila lagi.


Rian hanya mengawasi mereka berdebat, karena ingin tahu bagaimana cara Sharmila mengatasi keadaan dan perasaannya sendiri.


Setelah beberapa menit argumen yang tidak menghasilkan, Alex kemudian meninggalkan rumah mereka dengan wajah yang penuh dengan kesedihan, kekecewaan dan kemarahan. Sharmila tetap tenang dan menyadari bahwa situasi ini bisa terus berlanjut.


"Maaf, mas Rian. Hiks hiks hiks..."


Rian memeluk tubuh istrinya yang kini menangis karena Alex. Dia menenangkan Sharmila yang telah mampu mengatasi situasi dan juga perasaannya terhadap Alex.


***


Beberapa hari kemudian, Alex sengaja datang kembali ke rumah Sharmila saat Rian tidak ada di rumah. Dengan nada yang lebih lembut dan bertanya apakah dia bisa berbicara dengan Sharmila sebentar saja. Sharmila mengizinkan dan Alex pun duduk di teras depan rumah.


"Sharmila, aku minta maaf atas segala kesalahan yang sudah aku lakukan," ucap Alex. "Aku merindukan anakku, tapi aku tahu bahwa kamu dan Rian adalah keluarga yang paling baik untuk dia. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi."

__ADS_1


Sharmila merasa lega mendengar kata-kata Alex yang berbeda kali ini. "Terima kasih, Alex. Aku juga ingin kamu tahu bahwa aku memahami perasaanmu dan aku menghargai bahwa kamu mengakui kesalahanmu."


"Apakah aku bisa bertemu dengan anakku sekali lagi?" tanya Alex perlahan.


Sharmila berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk, "Baiklah, kamu bisa melihat anakmu, tapi hanya jika mas Rian juga di rumah."


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapi. Jika kamu menolak, aku tidak segan-segan untuk memanggil pihak keamanan!" Sharmila mulai mengancam.


Tiba-tiba Ruli datang. Dia marah besar dengan keberadaan Alex di rumah anaknya, Ruli adalah mamanya Rian, jadi Ruli adalah mama mertuanya Sharmila.


Dia mengusir Alex, karena menggangu ketenangan keluarga anaknya.


Setelah Alex pergi, Sharmila merasa lega dan kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa. Namun, beberapa jam kemudian, Ruli datang tiba-tiba dan memasuki rumah mereka dengan wajah yang sangat marah.


"Ada apa, Ma?" tanya Sharmila dengan wajah khawatir.


Sharmila mencoba menjelaskan bahwa Alex datang untuk meminta hak asuh anak mereka, tetapi Ruli tidak mau mendengarkan penjelasannya. Dia merasa sangat marah karena merasa bahwa Sharmila telah mengkhianati keluarganya dengan berhubungan dengan Alex lagi.


"Aku tidak ingin melihatnya lagi di rumah ini. Jangan sampai hubungan kalian terganggu sehingga ketenangan keluarga kalian juga terancam," ucap Ruli dengan nada tegas.


Sharmila merasa sedih dan kecewa dengan sikap Ruli. Dia tahu bahwa Ruli mencintai anaknya dan hanya ingin yang terbaik untuk keluarga mereka, tetapi dia merasa bahwa keputusan Ruli terlalu tegas dan membuatnya merasa tidak dihargai.


Tadi, dia juga tidak bolehkan Alex untuk masuk ke dalam rumah menemui anaknya. Dia tidak mengijinkan Alex untuk datang ke rumah tanpa adanya Rian.


"Aku minta maaf, Ma. Tapi, aku juga ingin mana tahu bahwa aku tidak ingin membuat masalah. Aku juga mengusir Alex," ucap Sharmila dengan nada yang lembut.

__ADS_1


Tiba-tiba Rian datang kemudian berusaha menenangkan ibunya, "Ma, aku tahu mama hanya ingin melindungi keluarga kami. Tapi, Sharmila sudah menegaskan bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan aku dan anak kami. Mama tidak perlu khawatir."


Ternyata, Sharmila menghubungi Rian saat Alex datang. Sharmila khawatir jika Alex sampai nekad membawa anaknya pergi.


Ruli menghela nafas dan kemudian merenung sejenak. Dia menyadari bahwa dia mungkin terlalu keras pada Sharmila dan memutuskan untuk meminta maaf.


"Maafkan mama, Sharmila. Mama hanya khawatir untuk keluarga kalian. Tapi, mama mengerti bahwa kamu mencintai Rian dan tidak akan pernah melukainya," ucap Ruli dengan nada yang penuh penyesalan.


Sharmila mengangguk dan memaafkan Ruli, "Terima kasih, Ma. Aku berharap kita bisa berdamai dan menjadi keluarga yang bahagia bersama-sama."


Setelah itu, suasana di rumah mereka menjadi lebih tenang dan harmonis. Ruli dan Sharmila mulai saling memahami satu sama lain dan bekerja sama untuk membangun hubungan yang baik di antara mereka.


Beberapa hari kemudian, Ruli bahkan mengundang Sharmila untuk makan malam bersama di rumahnya. Mereka menghabiskan waktu yang menyenangkan dan berbicara tentang masa lalu mereka dan bagaimana mereka bisa memperbaiki hubungan mereka ke depan.


"Terima kasih telah memaafkan mama, Sharmila. Aku merasa sangat bersalah karena telah merendahkan mu," ucap Ruli dengan tulus.


Sharmila tersenyum dan membalas, "Sama-sama, Ma. Aku juga minta maaf dan berterima kasih telah memperlakukan aku dengan baik dan memperlihatkan kebaikan mama yang telah memaafkan Mila."


***


Setelah beberapa hari dari insiden terakhir, Sharmila dan Rian berusaha untuk melupakan kejadian Alex dan fokus pada kebahagiaan keluarga mereka. Namun, kehadiran Alex di dalam hidup mereka tetap mengusik pikiran mereka. Alex masih mengklaim hak atas anak mereka dan terus memaksa Sharmila untuk menyerahkan anak mereka kepadanya.


Suatu hari, Rian dan Sharmila baru saja mau pergi ke mal untuk berbelanja. Tiba-tiba Alex datang kembali ke rumah mereka dengan nada yang sangat kasar dan memaksa Sharmila untuk menyerahkan anak mereka kepadanya.


"Kamu harus tahu bahwa anak itu adalah milikku dan aku berhak memilikinya. Kamu hanyalah ibunya yang tidak memiliki hak apa-apa atas anakku," ucap Alex dengan nada yang kasar.


Sharmila merasa terpukul dan tidak mampu menanggapi kata-kata kasar Alex. Dia merasa tidak adil karena dia telah merawat anaknya sendiri sejak di dalam kandungan.

__ADS_1


"Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan melakukan apa saja untuk anakku. Kamu tidak bisa menghalangi hakku sebagai ayah biologis," ucap Alex dengan nada yang sangat keras.


Rian mencoba untuk menenangkan Alex dan meminta dia untuk tenang, tetapi Alex semakin marah dan mengancam untuk membawa masalah ini ke pengadilan.


__ADS_2