BURUNG DALAM SANGKAR

BURUNG DALAM SANGKAR
#Episode 15


__ADS_3

..."Senyum Palsu: Mereka harus Bahagia"...


Rumah terasa sangat ramai dengan para tetangga mengupas bawang. Tiga hari lagi hari pertunangan ku dengan Ayman semua semarak menyiapkan. Aku tetap bertahan di dalam kamar walau tersenyum dengan senang samua hanya tipuan.


Senyum palsu ku ukir dengan tenang menampakkan aku sudah baik-baik saja dan siap melaksanakan. Kematian Abah sambung ku tak memberi aku pilihan. Aku tetap harus sabar dan ikhlas menerima yang digariskan.


"Tuhan aku anggap ini adalah kado dari mu maka dari itu, sekali saja aku ingin bahagia"


Gumam ku dalam hati yang tak tentram, semua, terasa mencemaskan namun harus tetap tenang, tak apa semua akan baik-baik saja. Kekuatiran ku atas semua yang terjadi semakin menjadi kepanikan, yang amat dalam terus berjuang melawan semua yang di takutkan.


Terasa sakit saat semua orang bahagia sedang aku berusaha sembunyi dari kecemasan. Lagi-lagi aku hanya burung dalam sangkar tak punya hak untuk terbang.


"Ih calon lu ganteng bersyukur banget loh kamu" ucap tetangga


"Mana anak kiyai, masa kamu gak mau sama orang yang kaya gitu"


"Itu mah speak malaikat"

__ADS_1


Pujian-pujian terlantur dengan entengnya semua mengagungkan dan mengatakan aku harus banyak-banyak bersyukur mendapatkannya. Terkadang mereka hanya melihat dari luarnya tapi tak apa, akan kujadikan doa ucapan baik mereka, semoga, semua yang mereka harapkan benar-benar dikabulkan oleh sang maha kuasa.


...***...


#Hari Pertunangan


Gaun hijau dengan manik-manik bak bintang malam jatuh dengan indahnya di tubuhku membuat aku tersenyum dengan lembut pada semua tamu.


Aku telah memutuskan! tak boleh ada penyesalan!


Mantap ku dalam hati dengan terus memujikan nama tuhan. Aku terus berusaha tenang walau hati terasa terbakar. Semua terlihat jelas bahwa kasih sayang yang Ayman tampakkan hanya manis di awal.


AKU PASTI BAHAGIA!


Aku terus menghempas keraguan ku walau terkadang air mata mengalir tampa aba-aba. Kulihat sekeliling ku dengan para tetangga yang ramai membantu ada banyak orang sedang semangat melaksanakan pertunangan bahkan sesekali Ayman terus menelfon menanyakan beberapa hal.


Aku harus tetap tenang. Ku tarik nafasku dalam-dalam berharap semua yang terjadi adalah kebaikan lantas penyesalan hanya didalam angan.

__ADS_1


Mentari terus menyorot rumahku, layaknya lampu pentas dengan pertunjukan di siang itu. Para alunan genderang dan rombongan dari pihak Ayman beriringan sampai di rumahku.


Semarak para tetangga melihat banyak tokoh ulama terus singgah di gubuk ku. Meminta persetujuan dengan cincin yang di sematkan dan mengikat tali keluarga.


Rasa senang bersamaan hadir dengan ketakutan, kecemasan, dan air mata yang sangat menakutkan. Aku mencoba tenang dengan berpura-pura berbincang dengan para teman yang baru datang. Ingin menginformasikan bahwa aku sedang bahagia bukan sedang sedih tak beraturan.


Cincin berbentuk mawar terlilit di jariku kelingking ku mengikat aku dalam sebuah kisah pertunangan yang tak tahu ujung kepastian.


"Saat ini kamu milik ku" Senyum merekah dari wajah Ayman


Sholawat berdendang dengan pulang nya para ulama meninggalkan gubuk kecilku. Para tetangga berkerumun ingin melihat ulama kecintaan mereka.


Saat itu layaknya mimpi di mana rumah kecilku didatangi para ulama-ulama besar yang bahkan untuk bertemunya saja mungkin aku tak mampu.


Sedikit merasa tersanjung beginikah saat kita menjadi salah satu dari mereka namun, pikiran lain berkata benarkah ini pilihan yang tepat?


Entahlah semua ini hanya dalam pikiran semata kita tak pernah tahu masa depan akan menjadi seperti apa.

__ADS_1


Semoga keputusan ku tak membawa penyesalan kedepannya. Amin.....


__ADS_2