
"Aku Berontak: Jujur atas rasa di dada"
Sudah dua hari aku di rumah ibuku dan dia belum berusaha menjemput ki. Sorenya dia dan keluarganya datang menjemput dan memintaku untuk kembali pulang. Bujuk rayu terus terdengar agar aku mau berdamai dan aku menyetujuinya toh lebaran sebentar lagi aku tak ingin ada permusuhan.
Topiknya tak berubah tetap tentang dia, dan semua keunggulannya. Aku hanya terus berusaha menahan marah dan kesal ku tapi jujur aku sudah mulai muak dengan semuanya. Sembari menekan egoku aku terus berusaha tersenyum. Aku pulang dan mencoba damai pada diri sendiri.
Saat sore mulai berbincang merdu bersama ricuhnya madrasah yang penuh dengan para santri. Aku duduk di depan teras ipar sembari menemani ponakan ku. Tiba-tiba saja iparku berkata...
"Kau boleh bercerita apapun yang ingin kau ceritakan jangan di pendam" ucapnya padaku
"Apa yang perlu aku ceritakan te?" tanyaku balik dengan ke bingung
__ADS_1
"Apapun jangan kau pendam. Dulu, saat almarhum kakak ku pasmasih hidup dia sering bercerita dengan ku"
"Sejujurnya kemarin saat aku pulang itu sudah berada di ujung kesabaranku" ceritaku pelan pada tante
"Aku tau itu! kemarin, saat semua orang kaget dengan sikapmu, aku juga bilang itu. Kau tidak gila jadi, tak mungkin marah tampa sebab yang jelas" jelasnya padaku
*"Maaf ya te sikapku buruk sekali, aku hanya ingin memberikan suamiku pelajaran" *
"Karena itu tante ngasi tahu kau, tidak sendirian jadi, cerita lah mungkin itu akan menenangkan mu" tanteku menepuk bahuku dan pergi menghampiri anaknya
Malam ini perbintangan sedang merayu malam dan sang rembulan memadu kasih dengan senang tampa ada gangguan tentara-tentara hujan. Saat aku mulai menuliskan kisahku raungan cerita berebut untuk di jadikan naskah kehidupan. Saat itu seseorang membuka kamarku dan tiba-tiba berbaring di sampingku dan berkata...
__ADS_1
"Sayang lagi apa" tanyanya duduk di sampingku
"Tidak sedang apa-apa kenapa?" ku letakkan notebook lantas melayaninya
Aku mulai paham bagaimana cara dia meminta jatah seakan sudah terbiasa, aku mengikuti keinginannya. Aku hanya melakukan tugas ku sebagai istri jangan tanya, apa aku puas dengannya tentu hanya sebagai kewajiban saja. Dia hanya fokus pada kenikmatannya sendiri dan tak perna bertanya apa aku puas atau setidaknya temani aku sampai tidur. Aku bukan seorang pelacur.
Di titik ini aku merasa hanya menjadi pelacur saja malah, lucunya aku merasa bahwa pelacur lebih beruntung daripada aku. Pelacur melayani lantas dia dibayar setelah itu. Pernikahan hanya penjara untuk seorang wanita. Saat kita menikah semua dirampas dari kita. Bahkan untuk bermimpi kami tidak berani.
Lancang sekali mulutku berkata begitu bagaimana tidak, aku merasa seperti pelacur. Semalaman suntuk dia bersama teman-temannya di depan kamarku lantas bermain game dan meminum kopi hingga pagi. Dia mendatangiku kemar hanya saat dia ingin burung gerejanya di belay.
Ia mematikan semua lampu dan menutup semua jendela lantas, ia mengunci pintu dan mendatangiku. Disuruhnya aku memuaskan hasrat sang burung gereja tampa ia membelaiku layaknya awal jatuh cinta,dan dia berkata Cukup pada intinya saja. Lantas setalah itu dia benahi sarungnya lagi, dan meninggalkanku lalu berlalu bersama teman-temanya seakan aku hanya pemuas saja.
__ADS_1
Lagi-lagi aku mulai lelah dengan semuanya tapi, aku tetap bertahan semua karena kekuatan tulisan. Aku masih punya tempat untuk sekedar bercerita semua resah dan gundah tampa ada yang aku tutupi.Lantas bagaiman kisahku jika aku di larang untuk menulis lagi?
Apakah aku bisa bertahan?