BURUNG DALAM SANGKAR

BURUNG DALAM SANGKAR
#Episode 25


__ADS_3

..."Sakit itu menumpuk: Mereka menilai hanya satu luka"...


Siang hari di bulan puasa itu sangatlah menyakitkan terlebih terik mentari tak henti menggoda, membuat otak berfikir akan banyaknya minuman dingin yang dirasa surga.


Bulan puasa tinggal beberapa hari saja namun, Toa masjid tak henti mengabarkan duka, lantaran banyak keluarga dan kerabat yang tiba-tiba wafat, siang ini aku dan keluarga ingin menyambangi salah satu keluarga yang terkena dampak wabah.


Suamiku sedang memanaskan mobil pinjaman, dilap secara perlahan demi perlahan mobil hitam itu. Terkadang aku iri pada mobil-mobil itu seakan-akan mereka lebih disayang daripada aku.


Lebaran sebentar lagi, tinggal tiga hari lagi tapi aku hanya memegang uang Rp100.000 walaupun, bajuku dibelikan oleh mertuaku tapi, rasanya tidak punya uang di saat hari kemerdekaan itu sangatlah menyedihkan.


" Ayo segera masuk" ucapnya kepadaku


Saat ini kami sudah baikan, dia janji setelah lebaran ini dia akan mencari kerja dan aku mempercayainya. Saat itu dia mempersilahkan aku duduk di depan bersama dirinya lantas dia tak jijik memegang tanganku. Aku pun tersenyum malu.


Sesederhana itu kebahagian ku hanya dengan memegang tangan membuatku merasa wanita paling beruntung.

__ADS_1


Sikapnya terkadang berganti-ganti kadang baik sekali kadang bak iblis yang murka. Bisa terasa bukan bahwa aku memendamnya sudah sangat banyak di rasa.


"Sayang minumlah" ucapnya memberikan sebotol minuman


Aku tercengang karena biasanya walau dia membeli minuman untuk ku, dia menyuruhku agar tak meminumnya karena ia ingin meminumnya untuk dirinya sendiri. Baru kali ini dia membelikan minuman dan menyuruh ku meminumnya.


Ayman, nama suamiku ini terkenal egoisnya, diktator, dan semaunya sendiri dan itu bukan hanya tentang ku tapi, semua orang mengakui itu.


Entah dia kesurupan apa sampai membuat dirinya hari ini sungguh romantis menurutku. Walau sikapnya biasa bagi banyak pasangan tapi bagiku ini tidak biasa.


Saat aku turun ia memperkenalkanku sebagai istrinya, dan dia memegang tanganku sepersekian detik aku bahagia setelah kata sederhana terucap samar di telinga


"Bertingkah yang baik jangan mempermalukan ku" bisiknya di telingaku


Aku baru sadar apa maksudnya mengapa ia memperlakukan ku dengan baik dan terlihat sangat romantis. Rupanya dia hanya ingin memperlihatkan bahwa kami tak ada masalah apa-apa dan semua orang melihat senyum kami yang bahagia.

__ADS_1


Siang itu aku masuk kedalam mobil dengan senyum yang di paksakan. Kebahagiaan ku barusan hanya hayalan bagiku yang di anggap sebutir debu. Aku mengikuti lelucon-lelucon yang di lemparkan lantas tertawa mencoba berfikir semua tak sesuai yang di fikirkan. Tiba-tiba dia berceletuk...


"Jangan banyak tertawa sebentar lagi kau pasti marah" ucapnya kepadaku


Aku hanya tersenyum dan tak menggubris ucapannya. Aku tetap tertawa walau menyembunyikan luka.


"Jangan banyak ketawa nanti kau marah" di tegurnya aku lagi


"Biarkan dia tertawa emang kenapa sih" bela embahnya untukku


"Bukan begitu aku sudah menandainya setelah tertawa dia akan marah"ucapnya membela diri


Mereka berdebat dan aku kabulkan apa yang ia inginkan. Dia kira aku ketawa karena aku bahagia. Dia kira aku marah karena tawa. Dia salah, aku marah karena sudah menumpuk luka sedari lama apalagi tadi pagi aku merasa jadi ratu sampai dia menyadarkan ku dia hanya ingin terlihat menawan untu dirinya sendiri.


"Aku akan pulang ke rumah ibu" ucapku turun dari mobil lantas mencari kendaraan umum

__ADS_1


AKU PULANG Ke Rumah IBU


__ADS_2