
..."Aku ingin pulang: Tapi aku sudah di rumah"...
Aku ingin pulang tapi aku sudah di rumah kalimat yang sering terdengar dalam kisah kita yang beranjak kepala dua.
Kisah ini, mungkin tak hanya kisahku kalian pun begitu dengan kolaborasi kisah hidup kalian masing-masing. Aku sadar kisahku bukan satu-satunya kisah paling menakutkan tapi, bagiku saat itu kisah itu sangatlah menakutkan.
Kolaborasi kisah tentang percintaan yang bukan cinta dan pernikahan orang tua yang kesekian kalinya. Percaya tidak saat ini aku menertawakan itu tapi saat itu aku tak lebih hanya ingin di dengar.
Aku sering tak tahu bagaimana bercerita yang aku tahu manusia yang aku datangi hanya ada dua tipe. Tipe pertama dia akan berpura-pura mendengar kan. Tipe kedua dia akan mengadu nasib paling buruk dan satu lagi tipe yang tak ingin mendengar dan tak ingin tahu, begitulah hidup dan itu tidak hanya terjadi padaku.
Aku ingin pulang walau aku sudah berada di rumah. Bagaimana tidak, aku yang baru saja menjadi pengantin harus menangis sesenggukan mencoba memenuhi semua hasrat dari semua orang dan lucunya mereka lah yang merasa tersakiti.
...***...
__ADS_1
Saat itu aku memilih menikah bukan karena hatiku dag dig dug berada di dekatnya tapi karena aku merasa lelah bertengkar dengan orang tuaku yang memilih jalan berbeda.
Pernikahannya yang keempat kalinya tak ingin aku tolak tapi waktu dan kondisi saat Abah ketiga wafat membuat aku sangat-sangat depresi dan itu adalah penyebab pertama aku depresi.
Terlebih saat malam pengantinku suamiku terus-terusan menyalahkan tentang kisah keluargaku sedangkan aku memilih menikah dengannya karena aku ingin melupakan tentang kisah itu.
Lucunya saat malam pertama malam kedua malam ketiga yang dibicarakan adalah tentang pernikahan yang bukan pernikahan ku.
Aku sadar novel ku sangat membosankan karena yang aku ceritakan adalah permasalahan.
Bahkan tak jarang aku tak tahu harus membuat percakapan apa dalam ceritaku. malam pernikahanku hanya sajadah hitam di mana kita saling shalat berjamaah adalah kisah terindah yang aku miliki.
Sehabis sholat Maghrib setelah aku mencium tangan dia berbisik pelan di telingaku "Aku akan menjadikan kau sebagai ratu, kau pasti akan bahagia" ucapnya pelan sambil mencium pelan keningku
__ADS_1
Malam kedua itu kami bercerita banyak hal. lebih tepatnya aku mendengarkan banyak cerita tentangnya Aku berharap kehidupan selanjutnya adalah kebahagiaan yang Ia janjikan.
Aku ingin baik-baik saja. aku yakin ini adalah kebahagiaan yang dijanjikan oleh sang Robi. begitulah keyakinanku yang terus aku percayai sampai saat ini.
Kutatap langit malam dengan berbintangan yang terus menari indah sembari berkata bahwa aku akan bahagia. lantas rembulan terus bernyanyi merdu dengan pesta yang tak kunjung berhenti.
Terkadang aku muak dengan cerita-cerita ini tapi aku tak bisa berteriak kencang dan dengan tegas mengemukakan penolakanku.
Sembari mengambil bantal aku hanya terus menutup telingaku melihat suami ibuku tetap berada di depan kamar pengantin ku.
Lucunya laki-laki yang saat ini adalah suamiku membuat depresiku semakin mengadu dia membuat aku semakin tertekan dengan ocehan ocehannya yang merasa paling benar sedangkan aku tak ingin mendengarkan kisah yang ia ceritakan itu.
Sampai satu ketika, dia mengajakku untuk pergi ke rumahnya dan dia menjanjikan surga yang sangat luar biasa aku pun, tertarik menaiki surga itu dan inilah kisah selanjutnya di mana kalian akan bertemu dengan kisah yang berbeda.
__ADS_1
Apakah kisahku dan suamiku akan menjadi kisah cinta yang luar biasa atau malah sebaliknya?