
..."Aku suka rumah itu semua orang baik kecuali dia"...
Seperti biasa saat sahur ABI (ayah mertua) membangunkan ku dengan berbagai makanan enak yang di sajikan di atas karpet entah itu sate, bakso, martabak dan makanan lainnya untuk sahur bersama.
Jujur aku bahagia disini, Abi (ayah mertuaku) baik banget padaku terkadang aku malah merasa lebih di perhatikan olehnya daripada suamiku sendiri, tak hanya Abi ada Ummi (sebutan untuk nenek), ada iparku yang jujur baik banget.
Sayangnya mertua wanita ku wafat sebelum aku berkumpul dengan mereka dan menitipkan anak prianya. Banyak yang bilang almarhum banyak kemiripan denganku entah bentuk badan, wajah, seleranya, bahkan sampai gemuknya mirip denganku dan jujur aku penasaran bagaimana ummi mertuaku sesungguhnya.
Bagaimana sikap baiknya itu, bagaimana paras cantiknya, bagaimana ketenangannya dalam menghadapi sikap dari anak prianya atau bahkan hal sederhana memilih cemilan bersamanya.
Suamiku juga punya adik yang masih SD dan dia manja denganku tak hanya dia, aku juga punya ponakan yang sangat lucu intinya, aku merasa beruntung bisa bertemu dengan mereka. Aku suka rumah itu semua orang baik kecuali dia.
__ADS_1
Kalian tahu?
Mereka tak pernah menyuruhku menyapu, cuci baju, masak jika itu bukan inisiatif ku sendiri. Semuanya baik sekali denganku kecuali, suamiku.
Menurutku dia terkena star sindrom. Dahulu kala Ayah dari Abi terkenal sebagai salah satu ulama. Konon katanya dia sakti mandra guna. Dia dihormati karna kesaktiannya, kecerdasannya, dan satu lagi sikap yang paling terkenal dari beliau adalah suka menikah, dan dia mengurung istri-istri nya, bahkan sampai istrinya pipis di dalam kamar yang tidak ada kamar mandi di dalamnya.
Dia ingin menirunya tapi dia tidak meniru sikap baik dari almarhum. Walau suka menikah almarhum adalah pekerja keras ia, berdagang siang malam untuk menghidupi istri dan anak-anaknya . Tapi lain hal dengan suamiku yang ia tiru hanya sikap yang menurutku tidak ada kesinambungan sikap dalam dirinya. Dia ingin mengurungku layaknya istri-istri almarhum tapi dia tak menafkahi ku.
Bagaimana aku bisa hidup di dunia ini jika dia hanya mengandalkan "rezeki sudah di tangan tuhan" tapi, dia tak mau berusaha dan bekerja. Bagaimana caranya jika Rosulullah saja mengembala kambing dan berdagang untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Lantas siapa dia yang hanya menunggu mukjizat rezeki datang dari sang mahakuasa.
Saat itu aku pulang ke rumah mama yang kebetulan saat itu mama dan dia pergi urusan entah untuk urusan apa. Aku kaget saat dia bertanya
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya yang membuat aku heran
"Seperti yang kau lihat" jawabku
"Kau ini terlalu sabar ya" ucapnya
"Maksudmu?" tanya ku balik
"Dia beruntung mendapatkan mu tapi tidak denganmu"
Aku hanya mengangguk setuju
__ADS_1
"Selain ketampanannya dia tak punya kelebihan apa-apa bahkan menurtku untuk agama lebih paham kau" ucapnya dengan mimik wajah yang penuh iba
Aku hanya diam setuju mendengar semua argumennya sambil tak terasa air mata tergenang di dua bola mataku seakan setuju dengan opini itu.