
..."KAU DAN AKU TAK PANTAS JADI TIM DALAM RUMAH TANGGA"...
Siang itu aku menggunakan daster berwana hijau dan duduk di teras depan kamar sembari memperhatikan lowongan pekerjaan yang bisa di kerjakan lewat rumah.
Lelah menjadi budak aku mulai belajar berontak, walau tetap menjalankan apa yang di wajibkan. Banyak peraturan yang membuat aku kesal salah satunya harus menggunakan bahasa halus dan berjalan nunduk layaknya abdi dalam (pembantu di tempat ulama') kita harus menunduk jika ingin memberikan makanan dan tak boleh memandang mata walau dia adalah suami ku sendiri.
Lucunya dia tak mau aku sentuh berkedok menjaga wudu' padahal aku istrinya dan sunah pula jika kita bersentuhan. Aku merasa bahwa aku dinikahi hanya untuk budak semata.
Saat itu aku duduk di ruang tamu menghadap notebook merahku sembari menulis kisah hidup yang tak akan terulang lagi. Aku mulai merasa harus mulai berontak.
"Kau sedang apa?" tanya nya duduk di depan ku
"Sedang menulis" jawabku sambil tersenyum
"Kenapa kerjaan mu di depan laptop terus sih bantu sana Embah"
"Tak perlu kau suruh aku sudah selesai melakukan pekerjaan rumah, bukan orang yang baru bangun" sindirku
"Apa maksudmu?" tanyanya
"Sudah jelas bukan? Aku selalu berusaha memenuhi apapun yang kau suruh tapi kau? minimal beri aku nafkah" Jawabku tegas
"Ini masih bulan puasa"
"Apa ini jadi alasan? Uang pribadi ku sudah habis kau melarang aku bekerja, lantas bagaimana?"
"Sabar setelah bulan puasa Aku akan cari kerja"
__ADS_1
"Setelah bulan puasa? Bagaimana dengan kebutuhanku? Beli softex aja aku gak punya uang aku, akan cari kerja sendiri" tegasku
"Aku sudah bilang tidak ya Tidak" bentaknya
"Kalau begitu beri aku nafkah"
Dia Diam.......
"Kita memang tidak cocok jadi tim rumah tangga"
Aku mengemas semua barang ku lantas pergi menutup kamarku. Aku duduk di lantai sembari memeluk lututku air mata terus mengalir deras tak tertahankan.
Aku lelah! AKU LELAH! AKU LELAH!
Teriak ku di dalam bantal dengan linangan ingus ku. Aku terus menangisi nasibku. Merasa keputusanku salah.
Semua salah, menikah bukan solusi untuk masalah tapi, masalah baru yang akan terus bertambah dan membuat hidup semakin susah.
Lantas bagaimana dengan hidupku selanjutnya
......****......
Pagi itu mentari bersinar terang di iringi suara burung yang berkicauria menyebarkan kecerian dan membuat senyum ku mengembang.
"Gimana lo mau enggak ngajar online tapi uangnya dikit"
"Gak papa sih kapan mulainya?"
__ADS_1
"Besok bisa?" tanya nya
"Apa saja yang perlu di siapkan?" tanya ku lagi
"Kayak ngajar biasa aja sih Bel" jawabnya
Pagi itu aku mulai menemukan pekerjaan online. Tawaran mengajar online ini pun aku terima dengan senang hati. Sembari menatap leptop aku mulai tersenyum bahagia.
"Ngapain kamu disini?"
Sapa lelaki dengan raut marah melihatku berada di depan rumah, ia menatapku tajam lantas duduk dengan gertakan. Aku diam tampa berbicara apapun
"Ngapain kamu disini?" tanyanya lagi
"Aku sedang mengetik" jawabku singkat
"Sudah aku bilang di dalam kamar saja" ucapnya menggertak lagi
"Aku bosan di kamar terus" jawabku tak kalah keras
"Kau ini istriku kau harus mengikuti ku"
"Aku istrimu? atau budak mu? Kenapa tidak kau saja yang di kamar terus? kenapa kamu boleh nongkrong sana sini sedang aku tak boleh? kenapa?" Marahku dia terdiam
"Aku lelah, Kita tak bisa jadi satu tim rumah tangga"
Ku bereskan semua barang ku lantas masuk kedalam kamar dan mengunci pintu. Lagi-lagi tangisan menggema di pojok kamar.
__ADS_1