
... "Lebaran Hanya Jadi Tamu di Rumahku Sendiri"...
Pagi dengan gema takbir bersaut-sautan menandakan hari kemenangan. Sedari subuh para wanita termasuk aku sudah bersiap di dapur sembari menjejerkan ketupat dan opor yang baru mengepul. Berbagai snacks dan kue kering rapi tertata di atas meja dengan taplak emas yang baru di gantikan.
Allakhuakbar-Allakhuakbar-Allakhuakbar lailahailallah wallahu akbar
Dendang takbir bergema memecahkan kesunyian di pagi buta. Semua orang sedang bergembira merayakan hari kemenangan. Saling bersilaturrahmi dan berjabat tangan kepada sanak saudara khususnya keluarga sendiri tentunya.
Jujur aku rindu rumahku yang penuh dengan masalah itu. Aku rindu nenekku, buyutku, bahkan ibuku. Aku rindu mereka semua. Kucoba baju dari yang di belikan oleh Abi mertua dan ibu ku sendiri di depan cermin sembari tersenyum tak sabar ingin pulang ke rumah.
Ini adalah pertama kalinya aku menyelesaikan bulan puasa dan lebaran di rumah mertua. Walau sedikit kaku aku tetap menikmatinya. Aku sebarkan senyum ku walau hanya pura-pura. Lantas melangkah di setiap rumah sanak saudara sesekali, di liriknya aku dan dikata aku tak pernah beramah tamah. Aku hanya balas tersenyum walau di hati rasanya ingin berteriak
"Bukan tak ingin keluar tapi tak di perbolehkan" teriak ku yang saat itu hanya berani dalam hati
Semua orang pada bersuka cita dengan saling tegur sapa yang bisa di bilang hanya satu tahun sekali terlaksana. Sembari mengambil cemilan yang disediakan dan makanan yang di haturkan tak lupa bumbu gibah di lontarkan. Banyak sekali lontaran besik yang menyayat hati seperti
"Kenapa gak pernah main pengantin?"
"Kapan punya anak si itu tuh udah hami tuh.."
Bahkan pertanyaan seperti...
"Gimana malam pertamanya?"
Walau hanya di anggap candaan semata semua terasa menyayat hati dengan semua tragedi yang hanya di simpan di hati
Sudah menunggu sampai petang tak kunjung mau untuk pulang kerumahku. Setelah kesatu sanak saudara ke saudara lainnya pula dan tak ada rasa bahwa aku juga punya keluarga. Aku rindu keluargaku.
... ****...
Hari telah berganti hari dan ini hari kedua lebaran sedangkan aku tak kunjung mendatangi rumahku sendiri. Iya terus bercerita bagaimana tradisi dalam rumahnya lantas aku juga harus mengikuti semua tradisi itu tanpa ia ingin mengerti sedikit saja bahwa aku pun juga punya tradisi itu.
Apa salah jika aku hanya ingin pulang di Hari lebaran?! selama ini aku sudah berada di rumah mereka lantas, tak terasa air mata tiba-tiba jatuh di pipi cabiku, seketika saat akan tahu tentang rasa di dada handphone genggamku berbunyi kuangkat telepon itu terdengar suara seorang wanita tahu bayar dari kejauhan...
"Kau tak pulang?" dari kejauhan suara nenek terdengar bergetar
"Pulang tapi belum tahu kapan" jawabku tak kuat berkata-kata
"Nenek sudah buatin kue nastar kesukaanmu, dan sate sama lontong" jelasnya antusias seakan memanggilku untuk segera pulang
"Wah enak banget itu nanti aku tanyain lagi ya mak kesuamiku" jawabku mulai meneteskan air mata
"Kamu mau bicara sama embah yut? disini lengkap kurang kamu" jelasnya lagi
"Mana nek"? pintaku
"Kapan kamu pulang mbah yut kangen" terdengar suara berat dari kejauhan
"Iyah mbah yut Bella juga kangen banget. Kalau gak besok yah lusa" jawabku mencoba setenang mungkin
__ADS_1
"Waduh nanti satenya busuk itu cepat nah pulang" canda mbah yut ku
"Kan ada adi, om, yang bisa makan mbah yut biar mereka yang makan" lagi-lagi setetes air mata turun begitu saja
"Ya udah buat aku masak dulu cepat pulang" ucapnya sambil menyerahkan handphonenya pada nenekku
"Hallo......" sapa nenekku
" Halo......" jawabku
"Kalau memang suami mu gak mau pulang suruh dia antar kamu saja kamu juga punya keluarga" ucap nenekku dengan sangat pelan terkesan berbisik
Jujur saja, rasa kesal ku mulai memuncak dimana, aku berusaha meminta berulang kali tapi dia (suamiku) tak menanggapi apapun jua. Dia terus bercerita tentang keluarga besarnya tentang bagaiman kita harus mendahulukan para kiyai besar dan semacamnya.
Lantas bagaimana dengan keluargaku? apa karena kami hanya warga biasa kami tak pantas di hormati.Sore itu aku mendekati suami ku lantas berbisik sedikit manja
"Sayang........." manjaku pelan
"Apa?" jawabnya acuh sembari menarik tanggan nya
"Aku ingin bersandar tak boleh kah?" tarikku lagi
"Tak usah aku punya udu' ada apa? tak perlu kau manja-manja begini aku jijik melihatmu begini" sentaknya
Sontak aku terdiam sesaat dan menarik lenganku
"Kapan kita bisa pulang kerumahku?" tanyaku dengan muka datar
Aku menghela napas dan menahan air mata jatuh dari kedua bola mataku
"Tapi tak hanya kamu yang punya keluarga"
"Sekarang kepala keluargamu adalah aku. Aku berhak memutuskan. Sana ganti baju kita mau pergi ke rumah eyang"
Sembari menahan tangis aku bertahan dengan amarahku yang hampir meledak. Ini hari lebaran dan dia berlaku hal yang sama dengan sebelumnya. Bukan kah dia berjanji tak akan memperlakukan aku seperti budak lantas mengapa aku merasa aku tetap budak atau lebih parahnya aku hanya se buah boneka.
... ***...
Perjalanan ke rumah eyang kakung suami ummi (embah) agak sedikit memutar atau bergelombang. Jalanan menanjak lantas memutar-mutar memamerkan jejeran kuasa tuhan. Saat itu aku duduk di depan memandang pada gagahnya pohon jati yang mulai gundul tak punya daun kehijawan. Sembari menatap nanar aku duduk tampa ada candaan. Celetukan tiba-tiba terdengar
"Bell kapan bakan pulang ke rumah?" celetuk tante di belakang seakan sadar tentang perasaanku
"Kurang tahu te terserah abang" jawabku singkat
"Besok ya sekali ummi ikut" celetuk embah yang di panggil ummi itu
"Bella manut aja te" jawabku singkat
"Yah besok aja lah selesaikan saja keluarga inti disini" jawab suamiku melanjutkan hotbahnya yang tak sesuai percakapan
__ADS_1
Di perjalanan aku tak berani berkata apapun jua, aku takut malah menangis atau pulang tampa pamit sama seperti saat itu.
Di hari kemenangan ini aku merasa kalah, seakan aku menuntut cerita happy ending pada sang membuat kisah.
Kapan Happy endingku? Kapan? dan lagi-lagi hanya dalam hati
... ...
...***...
Hari ketiga lebaran aku mulai bersiap- siap-siap untuk pulang ke rumahku sedari pagi. Dengan wajah ceria aku menghampirinya lantas bertanya sekenanya tapi tak ada jawaban karena ia masih sibuk dengan bantal dan gulingnya samar-samar terdengar dia berkata "Nanti saja "
Siang pun datang dan kami hanya menerima tamu dari seluruh sana saudaranya. Aku yang awalnya berusaha tegar lantas tersenyum dengan senang kini, senyumku luntur karena berpura-pura segampang yang aku kira.
Sore harinya barulah kami berangkat ke tempat keluargaku. Walau sedikit kesal tapi aku tetap berjuang agar amarah tak menguasai diriku yang sedang tak baik-baik saja.
Mobil putih pinjaman itu melaju dengan lantang menerobos lalu lintas yang saat itu sedang berebut ingin segera pulang ke kampung halaman. tepat salah parkir di dekat pohon kelengkeng depan rumahku aku melihat sosok wanita paruh baya keluar sedikit tergesah-gesah lantas tersenyum dengan mata yang begitu nanar seakan ingin menangis entah itu sikap bahagia atau bahkan sedang terluka tapi dia tetap tersenyum lantas menghaturkan
"Wah masuk silahkan alhamdulillah akhirnya pulang" sambut nenekku
"Iya san (sebutan besan) ya baru sekarang soalnya di rumah sepi" Jawab ummi
"Yahhh sama gak ada si Bella disini sepi. Bahkan kami udah siapin kue nastar kesukaanya dan juga suka sate dia suka kedua makanan itu" jawab nenenkku
"Oh iya maaf ya baru sekarang" jawab ummi menimpali
"Oh iya masuk dulu yuk monggo maaf jika tak sebagus disana" ucap nenekku yang aku rasa sedikit menyindir
Seakan ada perang dingin antara mereka dengan lagat mbak senyum yang semerbak namun, aku tak perduli lantas, aku sedikit berlari mencari Embah yut ku yang sedang berada di dapur.
Saat aku melihatnya aku memeluknya lantas menciumnya dan meminta maaf sekelebat aku melihat air mata yang sama dengan nenek saat tadi ia membukakan pintu terlihat dari kerutan di wajahnya sedikit air mata.
"Akhirnya pulang juga" buyutku langsung memeluk dan menciumku
"Kangen banget Bella sama yut" ucapku mencium tangannya
"Kalau kangen kok gak pulang" sindirnya
"Yah gimana gak boleh sama suami" jawabku sekenanya
"Pulang kok kayak tamu saja toh dok...dok"
Ucap buyutku yang membuat aku tak kuat menangis. Tak sampai 2 jam mereka duduk seakan tamu yang hanya menghargai hidangan dari tuan rumah, setelah itu, mereka pamit pulang sedangkan, rinduku belum usai. Benar kata buyutku aku bak Tamu di Rumahku sediri
"Kau sudah mau balik?" tanya nenek ku kaget
"Aku disuruh pulang, aku bisa apa? aku tak ingin bertengkar lagi" mataku mulai memerah
"Salim dulu ke embah dan ke keluargamu" terlihat genangan air mata di seikit bola matanya
__ADS_1
Aku hanya menjadi tamu di rumah ku sendiri. Aku tak punya hak atas hidupku. Apakah ini pernikahan yang di bilang ujung kebahagiaan? Apakah ini ada kisah akhir dari hidupku?