BURUNG DALAM SANGKAR

BURUNG DALAM SANGKAR
#Episode 22


__ADS_3

..."INI RUMAHNYA APAKAH JUGA RUMAHKU?"...


Rumah memang tempat ternyaman untuk pulang dan aku merindukan rumahku. Rindu akan tempat ricuh nan kumuh yang disana aku di anggap keluarga. Lantas aku menangis tersungkur melihat tumpukan baju yang melambai untuk segera di cuci.


Di rumah ini aku bangun jam 3 subuh untuk masak, ngepel, nyapu, nyuci baju, nyuci piring dan semua kegiatan yang dulu tak pernah aku lakukan.


Semua tak sesuai dengan yang di janjikan ini neraka bagiku. Aku tak boleh ke luar rumah, hanya kamar yang di perbolehkan bahkan, berbincang dengan para tetangga adalah larangan terbesar tak hanya itu, menyentuh luar pagar saja haram bagiku. Aku bak Burung Dalam sangkar


Surga yang ia janjikan adalah neraka bagiku. Ternyata dia tak punya pekerjaan seperti yang dia katakan diawal. Setiap hari dia nongkrong sampai larut malam bersama teman-temannya di depan kamarku tepatnya, baliho rumahnya lalu dia tidur setelah subuh dan bangun jam 2 siang.


Saat ini bulan puasa. Bulan suci yang menjadi ajang perlombaan. Awalnya aku menerima saja apapun yang dia perintahkan bahkan, paksaan untuk melakukan hal yang tak bisa aku lakukan katanya, "seorang wanita itu harus melakukan apapun yang prianya perintahkan" ucapnya kala itu.


Satu contoh masalah pendidikan dia berjanji akan menemaniku untuk mengerjakan tugas akhir kuliahku namun, pada kenyataanya setiap aku membuka notebook ku dia menggerutu bak menyindir


"Masih pagi sudah fokus sama laptopmu sana bantu ummi di belakang"


Gerutunya yang baru bangun dari tempat tidurnya sedangkan aku sudah melakukan segala pekerjaan rumah.

__ADS_1


Lucunya yang ia bilang surga itu, adalah menghabiskan uang yang aku kumpulkan susah payah saat aku berkuliah.


Bodohnya aku, saat awal pernikahan, aku memutus kan untuk percaya pada suamiku dan aku memberi tahu tabunganku yang tidak seberapa itu.


Aku berfikir jika kita bisa memutar uang itu untuk berbisnis keuangan kita akan aman nyatanya, dia gunakan untuk jalan-jalan dengan teman-temannya sedang aku di kurung dalam kamar dan dia hamburkan hanya untuk terlihat mewah di depan semua orang, untuk membeli rokok yang setiap harinya bisa habis 3 bungkus.


Aku mulai menangis saat sepeserpun uang tak aku pegang lantas aku tak boleh bekerja. Lebih parahnya lagi aku tak boleh menyelesaikan skripsiku. Aku di rantai bak budak yang harus mengikuti kemauan raja.


Pernah sekali aku meminta izin ingin mengeperint revisi skripsiku lantas ia acuh tak acuh,


"Sayang aku izin ya mau ke tempat print-an sebelah"


Saat itu sudah pukul sembilan dan ia masih bergelut dengan selimutnya


"Kalau begitu antarkan aku" rayuku


"Emmmmm" jawabnya

__ADS_1


"Kapan? Aku butuh segera"


"Yaudah nanti, jangan cerewet ah" bentaknya


Aku hanya bisa keluar dan menangis sendirian sembari membaca skripsi ku ulang. Aku kembali merevisinya dan kalian tahu? untuk mengantarku sekedar mengeprint tugas akhirku, dia mengulur sampai satu minggu


Dia hanya manis di 2 minggu pertama setelahnya aku hanya merasa menjadi budak yang harus mengikuti apapun keinginannya.


Lantas apakah ini rumah?


Apakah ini surga yang ia janjikan?


Bukankah ini sama saja dengan apa yang terjadi dirumah ku yang sesungguhnya?


Aku hanya ingin kabur dalam penderitaan lantas, mengapa aku terjatuh lebih dalam. Bahkan, saat ini aku dirantai dengan belenggu embel-embel pernikahan.


Aku harus berontak.

__ADS_1


Aku sudah mulai tak kuat!


Apakah jika ini rumahnya lantas menjadi rumahku? Tidak ini neraka bagiku.


__ADS_2