
BACANYA PELAN-PELAN AJA YA GUYS. RESAPIN KATA-KATANYA. 'CAUSE, AKU BERHARAP FEEL NYA BAKALAN DAPAT. :')
-oOo-
***Ku kira sikap manismu hanya untukku, ternyata untuk wanita lain pun, sama***
-oOo-
Sehabis bel pulang berbunyi, Vino langsung melenggang menuruni tangga dan menuju ke lantai dua, tepat ke ruang Aula yang akan menjadi tempat pertemuannya dengan adik-adik yang akan dibantunya.
Sementara dari sisi yang lain, Xien yang bukan merupakan anggota tim panah justru sedang berada di tepi lapangan panahan, entah kenapa Kean malah memintanya untuk ikut ke sini. Dengan muka yang sudah ditekuknya sedemikian rupa karena rasa kesalnya dengan Kean yang melenggang pergi begitu saja mengurus kue pesanan mereka kemarin dan meninggalkannya di sini.
Tiba-tiba saja tubuh Xien tersentak saat tak sengaja seseorang yang duduk di samping menyenggol lengan kanannya.
"Eh, maaf … maaf," kata orang yang begitu Xien kenali.
"Dewi?" sapanya dengan orang itu.
"Hai, Xie. Lo masih ingat gue ternyata," balas Dewi dengan senyum manisnya.
"Ya kali gue gak ingat elo, teman pertama gue di SMA Samudera."
Dewi terkekeh untuk sementara waktu. "Lo gabung di tim panah juga?" tanya Dewi.
Alis Xien nampak menaut sesaat. “Lo anggota tim panah, Wi?” tanyanya membuat Dewi mengangguk singkat dengan tidak melupakan senyumnya.
"Ah, gue lupa, di panah kan ada Kean, gak aneh sih kalau si Dewi juga ada di sini,” batin Xien yang mulai aktif sifat suudzon-nya.
“Gue gak gabung di tim panah kok, Wi, cuman disuruh Kean aja.”
“Loh, kok bisa?”
Xien mengangkat kedua bahunya pertanda ia tak tahu. "Katanya hari ini ultah kak Rizkha, makanya gue disuruh bantu. Gue bahkan gak kenal siapa kak Rizkha."
"Hahahaaa ..." seketika Dewi tertawa, namun sialnya tertawanya Dewi tetap saja menunjukkan sikap anggunnya. “Nanti lo bakalan tahu juga kok, dia bakalan jadi kakak yang paling lo kenal." Tiba-tiba Dewi melirik sekilas ke jam tangannya. "Eh, bentar lagi mulai, gue ganti baju lapangan dulu, ya! See you."
Dewi begitu saja meninggalkan Xien yang masih kebingungan.
"Dia bakalan jadi kakak yang paling lo kenal. Memangnya siapa, sih dia? Setenar apa, coba?"
-oOo-
__ADS_1
Saat seorang perempuan telah memasuki lapangan panah, Xien tahu bahwa orang itu lah yang menjadi target mereka, kak Rizkha, pelatih panah mereka yang hari ini berulang tahun, namun entah kenapa, wajah perempuan itu seakan tak asing bagi Xien, tiba-tiba saja ia dilanda deja vu.
Xien benar-benar berpikir keras berusaha mengingat sosok yang begitu familiar di penglihatan, hingga akhirnya ...
“Koridor!” pekiknya dalam hati seraya melotot. "Omooooo!!! kakak itu ternyata pelatih panah? Astaga!"
Xien menggeleng-geleng, tak percaya pada kenyataan yang ada bahwa perempuan yang menciduknya di koridor tempo hari saat anak-anak Singapura melakukan kunjungan ternyata adalah pelatih di ekskul panah.
"Ternyata dunia sesempit itu," tak henti-hentinya Xien menggeleng setelah tahu siapa sosok perempuan itu.
Di tengah lapangan panah, tengah berlangsung adegan pemberontakan David, mantan gebetan Xien, yang tengah melakukan skenarionya. Segerombol anak-anak yang memegang tugas sama dengan Xien dan Dewi cekikikan melihat reaksi dari Rizkha yang mulai tersulut emosinya karena tindakan yang dilakukan David. Beberapa menit berlalu, Rizkha akhirnya tak bisa menahan emosinya, yang bisa ia lakukan untuk menyalurkan emosinya hanya dengan ia menangis. Di tengah lapangan, Rizkha teringkus seraya memegang kedua kakinya, sambil menenggelamkan wajahnya di sana. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terkekeh saat skenario yang mereka rencanakan berjalan dengan mulus.
Happy Birthdays to you ... Happy Birthdays to you ...
Xien tercengang dengan suara itu, nyanyian merdu dari seorang lelaki dengan membawa kue dilengkapi lilin berangka 19 yang menyala. Mata Xien tak kuasa untuk tidak memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan lelaki itu.
Sementara Rizkha pun yang penampilannya sudah acak-acakan karena tangis yang diperbuat oleh David akhirnya mengangkat kepalanya, tentu saja sama seperti Xien, ia pun begitu terkesima. Ah, Xien iri, dalam hatinya ada perasaan menyesal karena sudah membantu Kean menyiapkan kue untuk kak Rizkha, tahu seperti ini ‘kan harusnya ia menolak saja ajakan Kean tempo hari, pasalnya Xien ingin dirinya yang dibawakan kue oleh Kean seperti itu, bukan kak Rizkha.
Happy Birthdays ... Happy Birthdays ...
*H*appy Birthdays Princess ...
"Tunggu, Princess?" Ini telinga Xien yang salah, atau memang lelaki itu mengatakan 'Princess'? Otak Xien belum sempat berpikir, namun kakinya lebih dulu diajak untuk memasuki lapangan untuk membawa balon huruf yang membentuk deretan kata 'Happy Birthdays Rizkha Febriana'.
Tiup lilinnya ... Tiup lilinnya ... Tiup lilinnya sekarang juga ... Sekarang juga ... Sekarang juga ...
Ingin sekali rasanya Xien meleleh saat itu juga. "Kenapa gue baru tahu sekarang kalau ternyata suara lo semerdu itu, Kean!"
Rizkha terlihat telah bersiap-siap ingin meniup lilin, namun Kean membisikkan sesuatu, membuat Rizkha terkekeh sebentar kemudian melakukan make a wish sebelum akhirnya ia meniup lilin tersebut.
Melihat secara live kejadian itu, entah kenapa Xien merasa ada perasaan aneh saat melihat kedekatan yang terjalin antara Rizkha dan Kean.
"Tenang, Xie, Kean bersikap gitu sama kak Rizkha karena dia pelatih panahnya Kean!" yakin Xien dengan dirinya sendiri.
"Selamat ulang tahun, My Princess. Semoga apa yang kamu semogakan segera tersemogakan. Semua doa yang terbaik kami doakan untuk kamu, khususnya dari aku."
Tepat saat itu juga, keyakinan yang diucapkan Xien beberapa detik lalu runtuh begitu saja. Matanya melotot saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Kean. "My Princess? Kamu? Aku?" batinnya tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Mungkinkah hubungan antara anggota dengan pelatih seperti itu?”
Hati Xien sudah mulai membara, tangannya pun terkepal dengan kuat. Sementara itu pertunjukan memuakkan selanjutnya datang dari Rizkha yang tidak bisa lagi berkata-kata hanya mampu memeluk Kean, menunjukkan bagaimana rasa bahagia dan terharunya ia saat ini.
Bagaikan diremas kuat-kuat, hati Xien begitu sesak melihat pemandangan di depan matanya ini. Bagaikan ditumpah sambal dari cabai segar, matanya kini mulai memanas sepertinya akan terjadi badai hujan di sana, mukanya bahkan mulai merah padam mengalahkan warna dari si jago merah karena menahan rasa yang tengah bergejolak di dadanya yang siap untuk meledak, namun ia meyakinkan dirinya untuk tetap bertahan di tempat ini.
"Jangan peluk-pelukan dong kakak, potong kuenya," teriak salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Iya! Jangan peluk-peluk!" teriak Xien dalam hatinya.
Dengan saling terkekeh satu sama lain, Rizkha dan Kean saling menjauhkan diri. Syukurlah, Xien akhirnya dapat bernapas lega saat itu, namun sayangnya perasaan lega itu hanyalah sesaat, pasalnya adegan romantis itu tidak berhenti sampai di situ saja. Tepat saat sesi pemotongan kue, tak salah lagi jika potongan pertama Rizkha berikan ke Kean. Sayangnya, kue itu justru disuapkan Rizkha ke Kean. Benar-benar pemandangan yang memuakkan bagi Xien!
Sementara semua orang berteriak histeris dengan kata ‘cie’, hati Xien mendongkol dan berteriak, "CUKUP! CUKUP!"
Tangannya mengepal keras balon huruf 'Z' yang dibawanya, hatinya sudah begitu sesak, dan bulir-bulir bening di pelupuk matanya sudah bersiap untuk terjun bebas. Tangan Xien makin terkepal dengan kuat. "Sebenarnya hubungan lo sama kak Rizkha apa, Kean? Kenapa gue gak tahu apa-apa tentang kalian?"
Xien menatap satu persatu semua orang yang ada di lapangan ini, tidak ada yang aneh, sepertinya mereka sudah tahu bagaimana kedekatan yang terjalin antara Rizkha dengan Kean, tidak seperti dirinya. "Gue ngerasa **** karena jadi satu-satunya orang asing yang gak tahu apa-apa di sini."
“Apa gue pergi aja ya dari sini? Gue juga bukan siapa-saiapa, kan di sini? Gak ada gunanya juga gue di sini,” ia merasa tidak ada gunanya saat ini, ia betul-betul ingin pergi saat ini juga, berhenti menyaksikan skenario yang dilakukan oleh Kean dan Rizkha, namun hati kecilnya membisikkan, “Kalau gue pergi, nanti dikira gue cemburu! Ya memang kenyataannya gue cemburu, sih. Eh, tapinya jangan sampai juga semua orang tahu gue suka sama Kean dan cemburu lihat adegan mereka berdua, kan?”
Baru saja hati Xien memastikan agar ia tetap bertahan di lapangan latihan panah ini, sialnya Xien harus disuguhkan lagi pemandangan yang dapat ia simpulkan benar-benar memuakkan. Bagaimana tidak? Seusai Rizkha menyuapkan kue ke Kean, Kean malah melangkahkan kakinya kembali memperkecil jarak antara tubuhnya dan Rizkha. Tak selang beberapa lama, Kean justru sedikit membungkukkan badannya demi mendekatkan dan mensejajarkan wajahnya ke wajah Rizkha, dan hingga akhirnyaaaaaaa—
Xien dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, apalagi jika bukan Kean mencium Rizkha, bukan? Bodoh jika ia tetap tinggal diam menahan rasa sakit yang sudah menjalar dalam tubuhnya demi menjadi penonton keromantisan Kean dan Rizkha. "Wi, pegangin ya, gue kebelet," katanya ke Dewi yang saat itu bertugas memegang huruf 'K'.
Tanpa babibu, ia berlari ke luar lapangan. Tentu saja suara langkah kaki Xien saat meninggalkan lapangan terdengar jelas bagi orang-orang yang masih terhipnotis dengan adegan Rizkha dan Kean di tengah sana. Tapi ia tak peduli, lebih bagus lagi jika Kean mengetahui bahwa ia tak ada lagi di antara kumpulan orang-orang itu.
Entah sejak kapan air mata Xien telah mengalir dengan deras. Sudah cukup ia menahannya di lapangan tadi, dan sekarang air mata itu benar-benar tumpah. Dalam kondisi seperti itu ia berlari dengan cepat. Beberapa siswa yang saat itu pun masih ada di area SMA Samudera menatapnya dengan tatapan heran, pasalnya Xien bukanlah orang yang pernah terlihat menangis selama ini. Xien tidak peduli, masa bodoh dengan tatapan orang-orang yang heran meliat ia yang tengah berlari seraya menangis, yang perlu ia temui saat ini hanya satu, Vino!
Dengan cepat Xien mengetuk pintu ruang Aula yang menjadi tempat Vino membantu adik kelas. Tanpa menunggu seseorang dari dalam membukakan, ia langsung membuka pintu yang tak terkunci itu. "Bu, permisi, maaf mengganggu, saya perlu Vino sekarang," ucapnya cepat.
"Xie, kamu ken--"
Vino yang melihat kondisi Xien terkejut bukan main, ia langsung meminta izin ke bu Fika. "Maaf bu, saya izin keluar duluan, saya harus bawa Xien pulang," potong Vino dengan pertanyaan bu Fika. Ia benar-benar tengah dilanda rasa cemasnya sekarang.
"Ya sudah, ya sudah, kamu antarkan Xien, hati-hati ya Vino," ucap bu Fika yang juga tak kalah cemasnya. Vino mengangguk. Setelah meraih tasnya, ia berpamitan dengan bu Fika dan segera melenggang keluar meninggalkan ruangan itu.
Para adik kelas yang ada di ruangan menatap keduanya dengan tatapan iri. Bagaimana mungkin kedua orang itu bisa bertahan dengan status 'sahabat'? Padahal mereka benar-benar terlihat saling mencintai, buktinya Vino begitu mencemaskan Xien saat mendengar suara serak Xien yang tak biasa dan mata sembabnya.
-oOo-
Cuap-cuap Author:
STOP dulu deh heheee ...
Di chapter selanjutnya kita lanjutin ...
Jangan lupa tinggalkan jejak guys ...
See you ...
Saranghae,
__ADS_1
Emahsuka💕