Can You See Me?

Can You See Me?
Dua Puluh Lima | Truth or Dare


__ADS_3


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, dua pasang remaja muda-mudi kini sudah menginjakkan kakinya pada Pantai Asmara. Nama Pantai ini sebenarnya merupakan akronim dari Asam-Asam Muara, karena pantainya terletak di Desa Muara Asam-Asam, Jorong, Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Andai saja Kean tak membujuk neneknya, Xien tidak berada di sini sekarang, ia mungkin tengah tiduran di kasurnya sambil memikirkan kata-kata yang cocok untuk di postingnya lagi.


“Akhirnyaaa …” Suara itu membuat Xien menoleh ke sampingnya. Di dapatinya sosok Kean yang begitu antusias seraya menatap pada ombak di tengah sana. Tak sengaja, Xien menatap sorot mata dari Vino, sahabatnya yang kini tengah merangkul Rizkha. Buru-buru Xien mengalihkan pandangan, sebisa mungkin menghindari kontak mata itu.


“Dulu aja mencak-mencak ke gue gak mau pacaran, sekarang aja malah rangkulan.”


Awalnya keempat remaja ini ingin menyewa penginapan yang ada di pesisir pantai, namun karena menurut Rizkha lebih asik jika berkemah di pesisir pantai seraya menatap ke laut rasanya akan sangat menyenangkan. Hal itulah yang membuat Kean bersama dengan Vino mendirikan dua buah tenda, satu untuk Kean dan Vino, dan satu lagi untuk Rizkha dan Xien. Sementara itu Rizkha dan Xien duduk saja di bawah pohon rindang untuk menunggu kedua lelaki itu selesai dengan pekerjaannya.


“Xienna?” Panggilan itu membuat Xien menoleh. “Aku boleh nanya sesuatu?”


Kalimat yang dilontarkan oleh Rizkha tiba-tiba saja membuat dada Xien merasa tak enak, namun Xien memilih mengangguk saja.


Rizkha nampak menimbang-nimbang ucapannya sejenak, kemudian ia tersenyum tulus kepada Xien lalu menatap pada laut yang luas. “Kamu percaya kalau di bawah sana ada ikannya?”


Alis Xien menaut dengan sempurna, ia mencoba untuk menerka-nerka maksud dari pertanyaan Rizkha ini, tapi tetap saja otaknya buntu di saat-saat darurat seperti ini.


“Percaya?” ulang Rizkha karena belum mendapatkan jawaban dari Xien, dan alhasil Xien mengangguk.


Satu sudut bibir Rizkha terangkat sempurna. “Bagaimana caranya kamu bisa percaya di bawah sana ada ikannya? Bukannya kamu tidak melihat ikannya muncul ke permukaan, kan?”


“Ya … karena aku tahu, meskipun ikannya gak muncul ke permukaan, tapi di bawah sana adalah tempat mereka hidup, kak. Sudah pasti ada ikannya di sana.”


Rizkha tersenyum mendengar jawaban Xien. “Begitu juga cinta, Xie.”


Xien tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Rizkha, karena itulah Rizkha melanjutkan ucapannya ketika melihat ekspresi tak mengerti Xien.


“Kamu mungkin saja tidak bisa melihat seseorang yang kamu cinta dengan matamu, tapi sebenarnya dalam hati kamu terkunci rapat nama seseorang yang begitu kamu cinta tumbuh di sana.”


“Maksud kakak?”


Bukannya menjawab, Rizkha malah tersenyum kemudian menepuk pundaknya dua kali lalu menjauh darinya mendekat ke arah Kean dan Vino yang hamoir selesai mendirikan tenda.


Xien dapat melihat dengan jelas bagaimana kedekatan mereka bertiga, hanya Xien yang merasa canggung dengan ketiga orang itu sekarang. “Gue pengen ada di posisi kak Rizkha,” kata Xien dalam hatinya.


-oOo-


“Yeaayy … Jagung bakarnya sudah siap,” ucap Rizkha. “Gimana kalau kita makan jagungnya sambil main truth or dare? Gimana? Setuju gak?”


“Setuju!” kata Kean dan Vino hampir bersamaan. Xien bahkan heran, mengapa kedua lelaki itu seperti bersahabat saja? Padahal sebelumnya mereka tidak ada hubungan apapun, kecuali keterkaitan karena mencintai wanita yang sama.

__ADS_1


“Xien gimana?” tanya Rizkha.


“Eh? A … aku ikut aja, kak.”


“Oke, aku cari botolnya dulu,” kata Vino ke Rizkha yang mendapat anggukan dari pacarnya itu. Setelah Vino mendapatkan botolnya, permainan truth or dare segera mereka mulai.


“Gue yang duluan muter ya?” kata Vino.


Botol berputar dengan cepat membuat mereka menunggu ke arah mana mulut botol itu mengarah saat berhenti.


“Xien!!!” pekik Vino, Rizkha, dan Kean bersamaan saat mulut botol itu mengarah pada Xien. Xien gugup, benar-benar gugup, ia takut jika Vino akan menanyainya atau memberikan tantangan yang aneh-aneh padanya.


“Truth or dare?” tanya Vino yang membuat Xien beberapa detik memikirkan jawaban.


“Dare, gue pilih dare,” katanya  Xien menjawab.


“Oke, dare ya …” Vino mencari tantangan apa yang harus ia berikan pada Xien. Pasalnya tadi ia sangat berharap agar Xien memilih truth karena sudah jauh-jauh hari ia menyiapkan kesempatan ini.


“Oke. Jadi gue minta … Lo nyanyiin lagu reff-nya doang, tapi yang sesuai sama perasaan lo saat ini. Harus yang sesuai, kalau enggak, nanti kita minta penjelasan kenapa lo gak nyanyiin lagu yang gak sesuai, terusan alasan lo-”


“Banyak ngomong lo, Vin!” tegurnya Xien kemudian mengambil ancang-ancang. Sementara Kean, Vino, dan Rizkha segera menunggu lagu yang akan dinyanyikan Xien.


“Biar aku yang pergi … Bila tak juga pasti …”


“Adakah selama ini … Aku cinta sendiri …”


“Selamat ulang tahun, My Princess. Semoga apa yang kamu semogakan segera tersemogakan. Semua doa yang terbaik kami doakan untuk kamu, khususnya dari aku.”


“Biar aku menepi … Bukan lelah menanti …”


“Bagi gue, hubungan pacaran gak ada apa-apanya dibanding persahabatan.”


“Namun apalah artinya … Cinta pada bayangan …”


“Gue jadian sama Rizkha.”


“Oh … Pedih aku rasakan …”


“Lo pikir lo siapa, Xie? Lo bukan siapa-saiapa gue! Lo gak berhak buat bikin perintah sama perasaan gue!”


“Kenyataannya … Cinta tak harus selalu miliki …”

__ADS_1


Tak terasa satu bulir bening jatuh membasahi pipi Xien. Lagu Cinta Sendiri dari Kahitna itu memang benar-benar menggambarkan perasaannya saat ini. Dan Vino paham betul makna tersirat yang ingin disampaikan Xien.


"Wah, Xie, sampai nangis nyanyinya? Memangnya ada hal apa yang diwakilkan oleh lagu itu?" tanya Rizkha.


“Hehe, enggak," jawab Xien, entah untuk apa jawabannya itu. "Ya sudah, sekarang giliran aku, kan?” tanya Xien ke Rizkha, membuat Rizkha mengangguk sempurna.


Xien segera memutar botol itu dengan cukup kencang, ia berharap botol menunjukkan ke Vino. Sayang, botol itu justru menunjuk ke arah Rizkha.


“Kak Rizkha lewatin aja, gak apa-apa. Aku gak punya pertanyaan untuk kakak,” kata Xien to the point.


“Ya gak bisa gitu dong, ya gak ,yang?” kata Vino ke Rizkha membuat Xien makin dongkol, namun kenapa ia malah merasa sesak yang luar biasa saat mendengar Vino memanggil Rizkha dengan sebutan ‘yang’?


Semakin kuat saja alasan Xien untuk tidak menyukai Rizkha!


"Vino dipacarin, Kean dideketin!" batinnya Xien kesal. “Sebenarnya kak Rizkha itu sukanya sama Vino apa sama Kean, sih?”


Sontak saja, tiga pasang mata yang juga berada di tempat itu langsung menatap Xien dengan lekat.


Xien cengo! Ah, Xien niatnya hanya bersungut dalam hati, tapi kenapa bisa kelepasan seperti itu? Alhasil, keadaan menjadi kikuk untuk beberapa waktu.


“Itu pertanyaan kamu buat aku, Xie?” tanya Rizkha berusaha untuk mencairkan suasana.


Xien menggeleng tegas. “Eng … enggak kak,” katanya berusaha mengelak, tapi ketiga orang di hadapannya ini tetap saja menatapnya dengan tatapan seolah mengintimidasinya.


“Ya sudah, itu pertanyaanku kak,” kata Xien kalah pada akhirnya.


Rizkha tersenyum seraya mengangguk. “Oke,” katanya.


“Jadi karena sekarang aku harus jujur, maka antara Kean sama Vino itu yang aku suka adalah …” Rizkha menggantung kata-katanya.


“Mereka berdua.”


-oOo-


Cuap-cuap Author:


Hayo hayo hayoo ...


Next Part ENDING, guys!!!!


Saranghae,

__ADS_1


Emahsuka💕


__ADS_2