Can You See Me?

Can You See Me?
Dua Puluh Tiga | Ajakan Liburan


__ADS_3


-oOo-


“Xie?”


Panggilan itu membuat Xien menoleh ke belakang. “Apa, Kean?”


“Lo weekend ada acara?”


Weekend? Satu hari sebelum ia menyerahkan keputusan dengan bu Rita? Ah, Xien tidak memiliki acara sepertinya di hari itu, hanya saja pikirannya pasti yang terlalu kalut dengan pilihan keputusannya.


“Belum tahu, kenapa Kean?”


“Lo mau gak liburan bareng gue?” ajak Kean tanpa basa-basi.


“Cihuuuyyyy … Gas bang, gaaaaassss!!!”


“Caelah … Jadian aja udah kalian sana!”


“David! Meira! Apaan sih?! Gue kuncir nih mulut lo berdua biar tahu rasa!”


“Ciaaahhh … Yang jomlo marah,” ucap David.


Xien mendesis kesal. “Iya iya, mentang-mentang situ udah punya pacar,” jawabnya.


“Jadi gimana, Xie?”


Ah, Xien hampir saja melupakan Kean.


“Memangnya tujuan liburannya mau kemana? Ke pantai? Ke bukit? Atau ke mana?”


“Pantai. Lo suka pantai?”


“Yeah, very like it!” jawab Xien antusias.


Kean tersenyum senang yang lagi-lagi menampakkan lesung pipinya, membuat Xien lagi-lagi terhanyut dalam senyuman itu. “Berarti lo bisa, kan?”


Xien tersenyum dan mengangguk ke arah Kean. “Gue usahain,” katanya.

__ADS_1


-oOo-


Beberapa hari ini Xien memang menjaga jarak dengan Vino, berharap ia akan terbiasa tanpa Vino. Bahkan untuk hal berangkat dan pulang sekolah pun Xien memilih untuk naik ojol alias ojek online. Saat jam istirahat pun ia tidak lagi di markasnya alias kantin, ia justru membawa bekal sendiri dan makan di ruang kelas. Beberapa temannya banyak yang bertanya alasan Xien tidak makan di kantin lagi, tapi mereka akan langsung percaya saat Xien mengatakan sedang melakukan pengiritan dengan membawa bekal sendiri karena harus ada sesuatu yang ingin ia beli.


“Lo mau nitip gak?” tanya Meira yang sudah berdiri, bersiap-siap ingin menuju ke kantin bersama David yang dibalasi gelengan oleh Xien.


“Ya sudah, gue ke kantin dulu, oke?” katanya yang diangguki oleh Xien. “Yuk, yang!” ajaknya ke David.


“Jijik gue dengernya Mei.”


Meira memutar bola matanya malas. “Apa, sih?”


“Sudah sana-sana pergi, enek lihat kalian berdua, nanti hilang selera makan gue!”


“Oke, Fine!!!” jawab David dengan gaya lebaynya kemudian menarik lengan Meira untuk keluar.


Baru saja Meira dan David menghilang dari balik pintu, kini sosok Meira berlari mendekat ke Xien yang menautkan kedua alisnya, kebingungan.“Tuh, sahabat lo debat sama Wiky!”


Kedua alis Xien terangkat sempurna. Sendok yang berisi makanan sudah hampir sampai ke mulutnya dijatuhkan begitu saja. “Vino? Ngapain?”


Meira mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu. “Kayaknya mau masuk kelas kita mau ketemu lo, tapi si Wiky gak bolehin. Mending lo keluar deh,” kata Meira kemudian melenggang begitu saja dari hadapan Xien..


Ya, bagi kelas XII-MIPA 3, sudah jadi kesepakatan tidak menerima anak jurusan IIS menginjak kelas mereka, kecuali ada sesuatu yang memang mendesak. Namun mendesak bukan dalam artian seperti yang dikatakan Meira tadi, untuk menemui Xien. Dengan malas, Xien menutup kotak bekalnya dan memasukkan ke laci meja. Setelah meminum beberapa teguk air mineral untuk menyegarkan tenggorakan, Xien segera melangkahkan kaki membawa dirinya untuk keluar menemui Vino. Ternyata memang benar, saat itu Vino dengan Wiky sedang berdebat, membuat Xien memutar bola matanya malas menanggapi itu.


“Kasih tahu sahabat lo ini, Xie, tentang peraturan kita,” ucap Wiky kemudian melenggang masuk ke kelas meninggalkan Xien juga Vino.


Dari hati terdalam Xien, sebenarnya ia begitu canggung menemui Vino karena kejadian kemarin, namun sebisa mungkin ia menutupi perasaan canggung itu. Meski mereka sudah terbuka dengan perasaan mereka masing-masing, tapi Xien tetap berusaha untuk menjaga jarak dengan Vino.


“Apa?” tanya Xien cuek.


Pertanyaan Xien yang to the point membuat Vino tersenyum kecut sebentar. Kemudian dengan ekspresi mengintimidasinya Vino mendekat ke arah Xien. “Lo mau liburan bareng Kean?” tanyanya to the point pula. “Sudah tahu kalau Rizkha juga diajak?” lanjut Kean memberitahu.


Sungguh, Xien tidak tahu sama sekali jika kak Rizkha diajak Kean pula untuk liburan. Awalnya ia berpikir Kean hanya mengajaknya saja, tapi ternyata Rizkha juga?  Xien tersenyum kecut. Ah, ternyata dia yang terlalu berharap bahwa Kean sudah lebih memprioritaskan dirinya dibanding kak Rizkha.


“Kalau lo nerima ajakan Kean, gue juga ikut.”


Sontak saja Xien terkejut dengan ucapan Kean barusan. “Lo gila, Vin? Lo ngerti gak, sih? Liburan itu buat nenangin pikiran, bukan buat nekan diri gue dan bikin gue tambah frustasi. Kalau kalian mau liburan sama kak Rizkha ya sudah, sana! Gue gak ikut!”


“Lo biarin Kean sama Rizkha liburan berdua?”

__ADS_1


“Ya memangnya kalau mereka liburan berdua, kenapa? Gak berhak gue cemburu, gue bukan siapa-siapanya Kean juga. Harusnya gue yang nanya ke lo, lo biarin kak Rizkha sama Kean liburan berdua? ‘kan lo pacarnya?” ucap Xien sambil memberikan penekanan pada kata ‘pacar’.


“Gak masalah, selama lo gak ada di sana gue gak cemburu,” jawab Vino santai tanpa beban.


Xien menggeleng dan terkekeh meremehkan. “Jadi cowok jangan playboy, mas! Ingat pacar,” katanya kemudian melenggang masuk ke kelas lagi.


“Xie! Xie!!!!” Vino memanggil Xien berkali-kali namun hasilnya nihil, yang dipanggil tidak bereaksi apa-apa. “Arrrrggghhh … Kenapa semuanya jadi rumit?”


-oOo-


“Xienna, Xie, Xienna!”


Ah suara itu. Xien kenal, sangat kenal. Ia sudah berpura-pura tidak mendengar, tapi kenapa harus dikejar? Mau tak mau dengan rasa yang begitu malas ia memutar 180 derajat tubuhnya.


“Eh, kak Rizkha? Iya, kenapa kak?” katanya sambil berusaha untuk tersenyum manis. Padahal, hatinya sudah sangat dongkol dengan sosok sok manis yang SKSD dengannya, namun sialnya berhasil mencuri hati orang yang Xien sukai.


Kak Rizkha tersenyum lembut. Orang-orang mungkin akan berpendapat jika senyuman itu sangat manis, tapi itu memuakkan bagi Xien. “Kamu ikut liburan, kan?”


“Insya allah kak, diusahain,” jawabnya.


“Ikut aja ya, Xie. Vino katanya bakalan ikut kalau ada kamu.”


Alis Xien menaut. “A … aku kak? Maaf ya kak, tapi bu … bukannya kakak yang pacarnya Vino? Kenapa harus aku?”


Rizkha tidak memberikan jawaban apa-apa, ia hanya tersenyum ke Xien. Sungguh, Xien bukan paranormal yang bisa membaca kode seperti itu, membaca kode semaphore saja ia kesusahan, apalagi dari senyuman? Ah, ternyata begini sulitnya kalau jadi cowok yang harus nerjemahin kode wanita?


“Kalau kamu ikut, nanti sekalian kita ke rumahku.”


Ah, lagi-lagi Xien lupa. “Kak Rizkha kan orang Banjarmasin, Kean juga berasal dari Banjarmasin, pantes aja Kean ngebet pengen ke Banjarmasin, rindu kampung halaman rupanya. Kalau gue ikut, bisa aja ‘kan mereka jadi mengenang masa-masa kecilnya? Bakal sakit hati lagi dong gue?”


“Xie?”


“Ah, I … iya kak, nanti aku usahain,” jawabnya.


Lagi-lagi kak Rizkha hanya tersenyum manis, “Ya sudah, kalau gitu aku pergi dulu ya.”


Xien hanya tersenyum kecut. “Lo emang cantik di depan orang lain, tapi di mata gue lo tuh busuk kak! Ah, gak pantes gue manggil lo pakai embel-embel ‘kak’ sebenarnya.”


-oOo-

__ADS_1


Saranghae,


Emahsuka💕


__ADS_2