
Pintu yang menjadi pembatas antara kamar dan balkon Xien terus diketuk sedari tadi, tapi Xien memantapkan hatinya untuk tidak membukanya.
Hampir 10 menit pintu itu terus diketuk membuat Xien jengah, namun panggilan sang nenek menggagalkan niatnya untuk membuka pintu itu. Dalam hatinya Xien bersyukur, karena jika ia membuka pintu itu mungkin ia akan merasakan sesak di ulu dada lagi.
“Sayang, sarapan dulu, ayo!” kata sang nenek dari luar kamar yang pintunya tertutup.
Dengan cepat suara neneknya Xien berhasil membuat ketukan di pintu pembatas kamarnya dengan balkon terhenti saat itu juga. Xien tahu kenapa Vino berhenti mengetuk pintu itu, karena Vino tidak berani dengan neneknya Xien.
Pernah satu kali Vino ketahuan berada di balkon Xien, dan nasib Vino harus berakhir dengan telinga yang panas karena omelan nenek tua itu, juga pemotongan uang jajan dari ayahnya.
Tanpa sadar Xien tersenyum mengingat kejadian itu dulu, ya dulu.
“Iya, nek, Xien pakai dasi dulu,” jawabnya ke sang nenek.
Xien tersenyum kecil saat kakinya masih di anak tangga seraya memeperhatikan neneknya yang sedang berkesibukan di dapur. Ia sangat merindukan suasana seperti ini, ada sang nenek di rumah.
“Nek, tante Kinara gak apa-apa ditinggal?” tanyanya sambil menuruni anak tangga.
“Memangnya kenapa sayang?” tanya balik sang nenek yang tak pernah meninggalkan kata ‘sayang’ pada setiap ucapannya ke Xien.
“Lagi-lagi aku minta nenek pulang dadakan.”
“Memangnya kamu pikir urusan nenek di luar sana lebih penting dari kamu? Kamu itu prioritas nenek, sayang. Sudah ya, ayo makan. Tapi, kamu yakin hari ini sekolah? Lebih baik kita ke dokter dulu yuk sayang, kita periksa kondisi kamu, pasti kamu syok berat karena mimpi itu lagi, kan?"
Xien menoleh sebentar ke arah neneknya, kemudian tersenyum tulus untuk meyakinkan sang nenek. "Xien gak apa-apa kok, udah baikan, obat Xien itu ya nenek,” katanya, dalam hatinya ia merasa bersalah karena meminta neneknya segera pulang dengan cara membohonginya, padahal sebenarnya ia tidak bertemu dengan mimpi itu lagi.
Satu suapan lagi Xien selesai menghabiskan sarapannya, tapi tiba-tiba saja suara klakson motor itu mengalihkan fokus Xien juga neneknya.
“Tuh sayang, Vino udah jemput kamu. Ingat ya, hati-hati di sekolah, kalau ada apa-apa langsung telpon nenek.”
Xien mengangguki ucapan neneknya kemudian berdiri dari duduknya, sedikit celingak-celinguk menatap ke luar. “Hehe, bukan Vino, nek, tapiii …temen sekelasku.”
Kedua alis nenek Xien terangkat sempurna. “Cowok, sayang?” tanya neneknya yang diangguki oleh Xien dengan malu-malu.
Neneknya mengangguk seraya tersenyum. “Wah, nenek ketinggalan kereta, iya? Jadi selama nenek pergi kamu sudah pindah hati dari Vino?”
DEG! Kata-kata itu berhasil membuat tubuh Xien menegang, mendengar nama Vino rasanya membawa aura yang membuatnya tak tenang. “Hehe,” Xien hanya cengengesan saja.
“Xien pergi dulu ya, nek!” katanya setelah menghabiskan sarapannya yang tersisa sedikit lagi dan meminum habis susunya. Juga tak lupa Xien mencium punggung tangan neneknya itu.
“Hati-hati ya, sayang.”
“Siaaappp nek,” jawabnya seolah harinya baik-baik saja, padahal mood nya begitu buruk. Namun Xien berbalik lagi menatap ke arah sang nenek. “Oh iya, nek, Xien … Boleh, gak? minta … pindah sekolah?”
-oOo-
“WOOOYYYY!!!! WOOOYYYY!!! ADA GOSIP HOOOTTTT … BENER-BENER HOOOOTTT!!! DIJAMIN KALIAN BAKALAN KEPPPOOOOOO!!!”
“Apaan? Mie ayam paman Abu gratisan?” tanya Meira ke sang pacarnya yang sedang koar-koar.
Mendadak David memutar tubuhnya menatap Meira. “Enggak sayang, bukan itu,” jawabnya dengan nada melembut membuat ia mendapat sorakan dari teman sekelasnya. Ya, David dan Meira sudah terang-terangan saja dengan hubungannya, tidak lagi backstreet seperti dahulu.
“Yah … Gak jadi kepo deh.”
__ADS_1
“Eits eits, tunggu dulu sayang, ini tentang sahabat kamu loh!”
Mata Meira mendadak melotot hebat sesaat setelah mendengar ucapan David. “Xien kenapa?”
“Nah, kepo ‘kan?” kata David. Ia kemudian mengambil ancang-ancang untuk meneriakkan sesuatu.
“JADIIIIII … GUE TADI PAGIIIIIII …” David menggantung kata-katanya sengaja membuat temannya yang lain penasaran.
“LIHAT KEAN SAMA XIEN BERANGKAT BARENG!!!” umumnya.
“Wah, daebak! Yang benar?!”
“Beneran?! Bukan sama Vino?!”
“Loh, kok bisa?!”
“Mereka sudah jadian atau gimana, sih?”
David mengangguk-angguk bangga dengan berita yang dibawanya ketika melihat respon dari teman sekelasnya ini.
“Jadi Vino berangkat sama siapa? Wah, sama gue bisa dong ya!” kata perempuan berkacamata dengan rambut yang diikat satu.
“Sa ae lo, Put. Ngaca sana! Vino mana mau sama lo!”
“Yee … rasa suka mah bisa tumbuh karena biasa!”
“Gak bakalan abang Vino mau sama elo!”
“Memang gue peramal, dan menurut penerawangan gue Vino gak mau sama cewek yang bermata empat!”
“Lo bilang apa?” Putri ngotot ke Vino.
“MATA EMPAT!” jawab David menusuk. Tiba-tiba tubuh David sedikit terhunyung karena didorong dari belakang.
“Isshhh … Kalian gak bisa akur napa? Hati-hati jadi cinta!” ucapan Xien yang baru datang membuat seisi kelas memfokuskan pandangan ke arahnya.
“Enak aja! David mah pacar gue!” sewot Meira.
“Cuman lo yang mau sama David, Mei! Mungkin mata lo udah siwer,” lanjut Xien sambil duduk di kursinya. Sementara Putri mengangguk tanda setuju dengan ucapan Xien.
“Enak aja lo, lambe!” sambar David, ia celingukan ke arah pintu kelas. “Ngomong-ngomong si Kean mana?”
“Mulut lo kapan pensiun sih lemesnya Vid? Lagian kenapa nyari Kean sama gue? Bukannya dia temen lo?”
“Kata David lo tadi berangkat bareng Kean, Xie. Bay the way, motor Vino kosong dong ya? Boleh dong gue gantiin elo,” lanjut Putri.
Xien mencibir. “Percaya aja kalian sama omongan ni banci.”
“Xie, tolong omongannya direm ya, pacar gue itu yang lo katain.”
“Caelah, pacarnya gak terima sang pujangga hati dikata-katain.”
“Jadi lo beneran berangkat bareng atau enggak, Xie? Jangan-jangan David salah satu titisan penyebar hoax, nih!”
__ADS_1
David memutar kepalanya menghadap ke orang yang baru saja bicara. “Enak aja, gue mah beneran lihat.”
“Mata lo siwer kali, sama kayak mata pacar lo,” jawab Xien membuat Meira melotot. “Lagian apa pentingnya sih gue berangkat sama siapa? Suka suka gue lah mau berangkat bareng Vino kek, Kean kek, atau David sekalipun,” katanya semakin membuat Meira membelalakkan matanya.
“Waw, awas ketikung!” teriak Putri memanas-manasi. Sementara Xien hanya terkekeh jahat melihat ekspresi dari Meira.
-oOo-
Jam istirahat telah tiba, salah satu surga sekolah bagi para siswa-siswi SMA Samudera, eh mungkin untuk seluruh siswa-siswi di dunia juga. Salah satu tempat yang menjadi target favorit mereka tentu saja, Kantin. Semua orang berdesak-desakan memesan makanan, tak terkecuali Xien, untung saja ia termasuk kategori manusia gercep, jadi sekarang ia bisa tenang duduk di meja bertuliskan angka 21.
Xien memang meminta pada Vino agar membiasakan untuk sendiri-sendiri dari malam tadi, tapi ia tidak bisa untuk langsung beranjak meninggalkan meja 21 itu, ia tidak ingin menjadi bahan gosip anak-anak SMA Samudera yang lain, apalagi bahan gosip Rere dan Dewi. Xien tidak dapat membayangkan bagaimana bahagianya kedua orang itu jika tahu apa yang sedang terjadi antara dia dengan Vino. Awalnya Xien berpikir Vino tidak akan lagi memilih meja berangka 21 ini sebagai tempat duduknya, rupanya Xien salah besar, justru sekarang Vino terlihat melenggang sedang menuju ke arahnya. Mie ayam yang sedang dipesannya pun baru beberapa suapan dimakan, dan Xien bukan tipe orang yang mubadzir, so dia tetap diam di meja itu.
“Hai, Xie,” sapa Vino seraya tersenyum membuat mata sipitnya seperti menghilang. Terlihat di mata Xien Vino tersenyum seperti tanpa beban, seakan-akan tidak terjadi apa-apa tadi malam dengan mereka berdua.
Bagaimana bisa Vino melemparkan senyuman seperti itu ke Xien yang sedang mati-matian menahan rasa sakit yang begitu menohok ulu dadanya?
Xien hanya tersenyum sekilas, senyuman yang tidak sehangat dulu lagi, senyuman yang terlihat susah payah dan tidak begitu tulus diberikannya ke Vino, dan Vino mengetahui itu. Bagaimana mungkin Xien bisa tersenyum manis dengan tulus ke Vino saat hatinya sedang begitu sakit?
Bagaimana mungkin ia bisa memberikan senyum yang menghangatkan bagi seseorang yang tak lagi berstatus sebagai sahabatnya, melainkan sebagai pacar dari pelatihnya? Bagaimana mungkin ia bisa bersikap biasa saja ke Vino setelah tadi malam kejadian yang mengerikan baginya terjadi karena Vino?
“Xie,” panggil Vino, namun yang dipanggil masih saja fokus dengan makanan yang sedang disantapnya.
Di satu sisi yang lain, Xien sangat ingin pergi saat itu juga, matanya sudah mulai memanas, ia tidak tahan harus duduk seperti ini dengan Vino mengingat hubungan mereka sudah merenggang dan mungkin bisa dikatakan sudah lepas sama sekali, tapi demi rasa gengsinya yang tinggi, Xen bertahan dengan harapan orang-orang tidak mencap buruk tentang hubungannya dengan Vino.
“Xie, lo kenapa berangkat gak sama gue?”
Tujuh kata itu berhasil menghentikan pergerakan Xien yang sedang menyedot teh esnya. Apa dia tidak salah dengar? Xien tidak menanggapi ucapan Vino ia bahkan segera pergi meninggalkan meja itu setelah selesai dengan makanannya.
Vino mendadak kaku, rupanya Xien betul-betul serius dengan ucapannya tadi malam. Apa dia memang benar-benar sudah keterlaluan? Oh ayolah, Vino bahkan tidak menyatakan bahwa ia menyukai Rizkha, bukan? Ia berkata-kata seperti itu tadi malam dengan tujuan agar Xien tidak bersikap semena-mena, tidak menuruti segala kemauannya tanpa memikirkan orang lain. Kalian pikir hal yang bagus menjebak Rizkha masuk ke dalam perangkap mereka? Andai saja Kean tahu rencana Xien, mungkin Kean akan menjauhinya. Dan apa salahnya jika Vino meminta agar diberi kesempatan dengan Rizkha? Bukankah Xien dan Kean juga punya kesempatan yang sama? Jadi selain cara menyampaikan argumennya dengan kasar, apalagi yang membuat Xien seakan menjauhinya?
Ah, mungkin satu hal yang Vino lupa, Vino lupa akan prinsip dirinya! Padahal prinsip itu yang dijadikan Xien pegangan bahwa ia yakin Vino bisa menuntaskan rencana ini tanpa ada masalah seperti sekarang.
Haruskah Vino mengatakan selamat tinggal pada Xien?
-oOo-
"Thanks ya Kean, gue jadinya nebeng sama lo,” kata Xien setelah turun dari motor Kean yang baru saja sampai di depan halaman rumahnya. "Mau masuk dulu?"
“Nanti aja, Xie, kapan-kapan. Gue mau lanjut bantu buat acara kita besok.”
“Oh ya sudah. Sekali lagi thanks ya!”
Kean mengangguk antusias. “Semangat ya buat besok, Xie!”
-oOo-
Cuap-cuap Author:
Jika Xien harus memilih, mungkin ia akan memilih untuk tidak pernah mencintai Kean jika hubungan persahabatannya dengan Vino harus merenggang seperti ini.
Saranghae,
Emahsuka💕
__ADS_1