Can You See Me?

Can You See Me?
Lima Belas | Hati, Lo Kenapa?


__ADS_3

“Xie, gue suka sama lo!”


Sedetik kemudian Vino tersenyum getir menyadari apa yang baru saja hatinya ucapkan. Vino sadar bahwa Xien tidak akan pernah melihat keberadaannya bukan sebagai sahabat tapi sebagai seseorang yang memiliki rasa sayang pada lawan jenis. Vino tahu bahwa perasaan seperti itu hanya Xien berikan untuk Kean, bukan untuk dirinya.


-oOo-


Sedari tadi, tangan Xien tak berhenti menggenggam ponselnya, sembari matanya menatap tajam pada layar benda pipih itu. Meskipun ia kesal dengan Kean, tapi kenyataannya ia masih saja berharap lelaki itu menghubunginya.


Kini ponselnya bergetar menandakan ada sebuah notifikasi. Xien segera menggeser layarnya seraya berharap nama Kean yang muncul, namun nyatanya tidak sama sekali. Rupanya, notifikasi itu dari sebuah komentar Meira yang menandai dirinya.


@XiennaMulia gak kasih ucapan juga ke @Kekeannu ?


"WAAHHH ... Bisa-bisanya Meira ngasih komentar gini di akunnya kak Rizkha?"


Xien penasaran dengan postingan yang mengharuskan Meira men-tag dirinya, jadi ia membawa tangannya untuk menggeser layar ponselnya untuk melihat postingan itu.


Saengil Chukahae!


Happy Birthdays My Boy!


I wish you all the best!!!


❤❤❤


Sial! Kenapa Xien merasa sesak saat melihat postingan dari Rizkha. Kenapa dia harus mendapatkan kabar seperti ini lagi? Bukankah sudah cukup perasaannya dicampur aduk hari ini? Xien tidak suka dengan kak Rizkha sejak ia melihat postingan itu.


Tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul dalam kepalanya.

__ADS_1


-oOo-


“Xie, lo tahu ‘kan gue gak pengen punya hubungan sama siapapun? Kalau gue ngedeketin kak Rizkha berarti gue sudah ngelanggar prinsip gue sendiri. Lo mau punya sahabat pembohong?”


“Kan bohong sama diri sendiri, Vin, gak ada yang bakalan lo rugiin kok, jadi gak apa-apa,” kata Xien sambil menujukkan deretan gigi putihnya yang rapi.  “Gue yakin lo pasti bisa, Vin. Siapa sih yang gak kecantol sama lo? Orang lo ganteng gini, pinter lagi.”


“Lo, Xie, lo yang gak kecantol sama gue,” jawab Vino berterus terang. Ucapan itu berhasil mengunci tatapan Xien akan dirinya.


“Kenapa gue jadi dag-dig-dug gini?” batin Xien. “Ah, lo apaan, sih, Vin,” ucap Xien saat sudah kembali ke alam sadarnya seraya memukul bahu Vino. “Gue kan pengecualian, gue spesial,” lanjutnya sambil mengedip-ngedipkan mata.


Vino mencibir, “Iya, iya, yang spesial!”


“Ya … Ya … Vin, mau ya … Supaya Kean gak terus-terusan suka sama kak Rizkha lagi.”


“Kalau Kean sudah gak suka kak Rizkha, udah suka sama lo, gue gimana?”


“Ya terserah lo,” jawab Xien enteng.


“Lo mau kemana?”


“Ke Bromo,” jawab Vino.


“Eh?” Xien sedikit berlari untuk mencegah Vino keluar dari rumahnya. Ia memeluk Vino dari belakang, membuat Vino menegang di tempat. “Thanks ya, Vin, udah mau bantuin gue.”


Vino melepaskan tangan Xien, ia berbalik untuk menghadap ke arah Xien. “Gue kan gak bilang bakalan bantuin lo.”


Xien tersenyum ramah. Ia menatap Vino dengan lekat. “Iya, tahu. Gue bilang makasih buat bantuan lo ke gue selama ini. Cuman lo yang selalu ada buat gue selama ini, Vin. Lo yang selalu jagain gue, lo yang selalu peduli sama gue, lo yang selalu ada di saat gue ketakutan, gue sedih, bahkan gue bahagia. Ya, meskipun kadang lo ngeselin sih, tapi tetap aja gue senang bisa ketemu sama orang kayak lo dari sekian banyak orang yang ada di dunia ini. Andai aja kita gak sahabatan, pasti sudah dari dulu gue naksir lo, gue bakal jadi orang yang pertama kecantol sama lo, Vin. Tapi kata-kata lo dulu memang benar, kalau pacaran tu gak ada apa-apanya dibanding persahabatan. Jadi, harus kudu mesti wajib lo tahu, sebenarnya posisi lo itu lebih jauh di depan Kean buat gue.”

__ADS_1


Entah kenapa Vino jadi malu sendiri mendengar ungkapan kata Xien barusan, ia mengulum senyumnya.


“Terima kasih kembali, Xie,” jawab Vino. “Bay the way, lo ngomong kayak gitu karena pengen gue nurutin apa mau lo, kan?” lanjut Vino membuat Xien membelalakkan matanya.


Vino mencubit gemas kedua pipi Xien untuk beberapa saat. “Gue bakalan nurutin apa mau lo kok, gue bakalan ngedeketin kak Rizkha demi lo, jadi gak perlu ngerayu gue pakai kata-kata menyentuh kayak gitu, gak berhasil.”


Mendengar ucapan Vino barusan Xien jadi ragu kalau dia ini pintar. “Masa ucapan gue dibilang buat ngerayu? Gue kan tulus.”


Xien menjauhkan tangan Vino dari pipinya, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. “Ya … Ya … Gue emang ngerayu lo kok, Vin,” jawab Xien bohong. “Tapi kalau nanti ada sesuatu hal yang terjadi sama gue, sama lo, atau sama kita, lo harus ingat kata-kata rayuan gue barusan,” kata Xien dengan percaya diri.


Vino menaikkan satu alisnya, kebingungan. “Buat?”


“Buat apa aja,” jawab Xien setelahnya nyengir kuda. “Ya sudah, pulang, gih!”


“Loh? Ngusir, bu?”


“Iya, pak! Sudah … sana sana …”  dorong Xien akan Vino hingga membawanya keluar dari rumah Xien.


“Hati-hati ya, Vin!” teriak Xien yang dibalasi acungan jari tengah Vino. Secara, rumah mereka cuman bersebelahan.


Xien menutup pintu rumahnya dengan cukup keras, mungkin suara bantingannya terdengar oleh Vino. Dengan cepat ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?


"Hati, lo kenapa?" tak terasa bulir-bulir bening itu akhirnya membasahi pipi Xien dengan seenaknya.


-oOo-


To Be Continue ...

__ADS_1


Saranghae,


Emahsuka💕


__ADS_2