
Seusai acara ulang tahun SMA Samudera, Xien benar-benar menemui bu Rita selaku wali kelasnya. Saat ini, ia baru saja keluar dari ruangan kantor setelah menemui bu Rita dengan wajah yang lesu sambil menatap pada sebuah amplop yang ada di tangannya. Langkahnya terasa berat untuk dilangkahkan, dari raut wajahnya bisa diketahui bahwa ia sedang memiliki pikiran saat ini.
Suara langkah kaki dari orang yang berlari semakin lama semakin terdengar nyaring, membuat Xien refleks mengangkat kepalanya melihat siapa pemilik dari suara langkah kaki itu.
"Lo kenapa gak bilang ke gue?"
Xien menautkan kedua alisnya, kebingungan dengan maksud dari pertanyaan orang yang saat ini sudah menghalangi jalannya.
"Lo mau pindah sekolah?"
Xien masih tak bereaksi, ia kebingungan mengapa orang ini bisa tahu niatnya itu.
"Xie, lo jangan bikin gue kayak sampah! Jangan sampai gue gak tahu kalau sahabat gue sendiri mau pindah sekolah!"
"Sahabat?" Xien tersenyum kecut namun juga getir, ditatapnya lekat-lekat sahabatnya yang masih berdiri di depannya yang menatapnya dengan rasa kecewa.
"Apa gunanya gue bilang ke lo, Vin? Kalau lo aja akhir-akhir ini sudah gak punya waktu buat gue. Apa gunanya gue ngasih tahu lo? Kalau penyebab gue mau pindah sekolah karena lo sendiri, Vin! Hari ini lo bilang kalau gue sahabat lo, kemarin malam lo sendiri malah yang bilang kalau gue bukan siapa-siapa. Ah, gue lupa, hati manusia memang begitu mudah dibolak-balik."
"Lo mau pindah sekolah, Xie?"
Tiba-tiba saja suara dari seseorang yang lain itu mengundang perhatian Xien. "Enggak sama sekali," bohongnya.
Vino merebut amplop yang ada di tangan Xien dengan cepat membuat Xien mulai terpancing emosinya.
"Vino! Lo apa-apaan? Balikin!"
Bukan Vino namanya jika ia dengan baik hati memberikan amplop itu ke Xien. Ia bahkan belum membuka apalagi membaca surat dari isi amplop itu, ia lebih dulu pergi dengan membawa amplop Xien, meninggalkan Xien dan orang yang tadi baru saja datang.
"Amplop gue, Vin!!!"
Xien berniat ingin mengejar Vino, namun pergerakan di tahan oleh orang yang baru saja datang.
"Lo benar mau pindah sekolah?"
Akhirnya, Xien mengangguk lemah. "Kalau bu Rita bolehin," katanya jujur membuat lawan bicaranya melotot tak percaya. Xien bahkan tidak tahu jika perkataannya barusan membuat sebuket bunga yang tersimpan di belakang punggung lawan bicaranya terjatuh begitu saja.
"Ke ... kenapa?" tanya orang itu kaku.
Xien menggeleng lemah seraya memaksakan senyumannya. "Enggak," jawabnya singkat.
Xien tersadar apa yang baru saja terjadi. "Ah, Kean! kenapa suasananya jadi melow gini, sih?" kata Xien tiba-tiba sambil cengengesan menepuk lengan kiri lawan bicaranya itu.
"Sudah ah, gue mau nyusul Vino dulu ya buat ngambil amplop gue. Gue aja belum baca, hehe."
Xien berlalu begitu saja meninggalkan Kean yang merupakan lawan bicaranya, namun baru beberapa langkah ia kembali berbalik. "Doain supaya isi suratnya bu Rita izinin gue, ya!" katanya seraya tersenyum, dan Kean tahu this is a fake smile! Itu bukan senyuman bahagia Xien, Kean tahu itu.
Kean menatap lekat ke bagian buket yang tadi di bawanya, ia terkekeh getir saat melihat buket itu tergeletak di lantai.
"Gue telat, Xie?"
__ADS_1
-oOo-
"Bunda ... Bun ... Bunda ..."
Berkali-kali Xien menekan bel rumah Vino seraya memanggil Bunda, namun sang bunda tidak kunjung keluar. Mungkin bunda sedang tidak di rumah, tapi ia yakin jika Vino ada di rumah karena Xien melihat motornya Vino ada di bagasi.
"Vinoooo!!! Buka pintunya ..."
"Bun ... Bundaaaa ... Bundaaaa ..."
Ceklek! Pintu itu terbuka, namun bukan sosok bundanya yang tertangkap oleh mata Xien, melainkan sosok sahabatnya yang telah membawa kabur amplop dari bu Rita untuknya.
"Vin, amplop gue!"
"Kasih gue alasan lo mau pindah, baru gue kasih."
"Apaan sih? Mana amplop gue, Vin!"
Xien ingin beranjak masuk mencari amplopnya, dan tujuan utamanya adalah kamar Vino, ia tahu Vino pasti menyimpan amplopnya di kamar, namun baru beberapa langkah ia beranjak, lengannya ditarik ke belakang oleh Vino membuat badannya sontak berbalik menghadap Vino.
"Vino! Lo apa-ap-"
Cup!
Tiba-tiba saja Xien merasakan sesuatu yang kenyal menempel pada keningnya. Tanpa babibu lagi, mata Xien membelalak lebar, dadanya berdegup dengan kencang, napasnya terasa sesak, tubuhnya pun kaku saat itu juga, seakan tidak ada alasan untuk dia melakukan pergerakan sama sekali.
"Viiiinnn ..." Lirih Xien berusaha menyadarkan Vino dengan apa yang sedang terjadi di antara mereka.
Entah kenapa, bukannya marah, Xien justru ikut memejamkan matanya, tangannya pun secara tak sadar dibawa ke belakang punggung Vino untuk memeluknya.
Xien tahu ia tidak seharusnya melakukan hal seperti ini, apalagi dengan Vino yang hanya berstatus sebagai sahabatnya sekaligus sebagai pacar orang lain, tapi juga tidak bisa dipungkiri, jika Xien memiliki perasaan lebih dengan Vino.
Anggap saja apa yang mereka lakukan sekarang ini adalah cara mereka untuk menyalurkan segala sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan dengan kata-kata.
Anggap saja pelukan ini sebagai rasa terima kasih Xien ke Vino selama ini yang selalu menjaganya, juga sebagai hadiah perpisahannya, karena setelah hari ini Xien dan Vino mungkin saja tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi entah kenapa rasanya begitu berat untuk Xien meninggalkan Vino.
"Xie?" panggil Vino setelah mereka menghentikan aktivitas mereka. "Apa yang lo rasain?"
Dalam sekejap pipi Xien memerah karena menahan malu, ia tidak menyangka Vino akan bertanya seperti itu? Bagaimana caranya ia menjawab? Xien bahkan merutuki dirinya karena telah membiarkan Vino memeluknya seperti itu.
"Gue pulang!" katanya secepat kilat seraya berbalik.
Lagi-lagi lengan Xien ditahan oleh Vino. Vino memeluk Xien dari belakang, membuat gadis itu lagi-lagi membeku di tempatnya. Tangan Vino di lingkarkan ke bagian pinggang Xien hingga ke bagian depannya. Kepalanya di sandarkan pada pundak kanan Xien. "Dari pelukan ini, lo harusnya sadar kalau gue benar-benar gak mau kehilangan lo, Xie."
Sial. Vino bisa-bisa membuat Xien mati berdiri saat itu juga!
"Gue mohon jangan tinggalin gue, Xie."
"Gu ... Gue gak ngerti maksud lo, Vin."
__ADS_1
Vino membalik badan Xien agar menghadap ke arahnya. Memberi isyarat agar Xien menatap lekat ke dalam manik matanya. "Tolong jangan pindah sekolah. Kasih gue kesempatan buat dapatin hati lo, Xie."
Xien tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Vino barusan. "Vin, lo-"
"Gue bisa putusin Rizkha kalau lo ngasih gue kesempatan."
Xien meneteskan air matanya, kenapa rasanya cinta sedang mempermainkannya dengan Vino? Dan bagi Xien, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya juga memberitahu Vino tentang perasaan yang sebenarnya. Cukup lama ia meyakinkan diri untuk mulai membuka suara, hingga akhirnya ...
"Vin, gue tahu rasanya terlalu **** buat gue bilang ini ke lo, tapi jujur gue rasa ..." Xien menggantung kalimatnya sebentar. "Gue juga suka sama lo," Xien menggeleng sebentar. "Bukan suka, tapi gue sudah terlanjur cinta sama lo, Vin. Hanya karena selama ini kita bersahabat, perasaan itu tertutupi dan jadi abu-abu. Karena selama ini yang gue tahu target gue adalah Kean, gue jadi abu-abu sama lingkungan sekitar gue, bahkan gue mengabaikan perasaan gue sendiri demi mendapatkan Kean."
"Jadi lo ngasih gue kesempatan?" terdengar jelas ada nada penuh pengharapan dari kalimat Vino barusan, dan itu yang membuat hati Xien begitu tertusuk.
"Maaf Vin, karena gue terlambat menyadari perasaan gue ke lo. Gue pengen banget nyoba gimana rasanya kesempatan kedua, tapi lo harusnya sadar kalau sekarang bukan cuman ada gue sama lo," kata Xien membuat Vino tak berekspresi sedikitpun.
"Sekarang gak cuman ada perasaan kita, Vin, tapi sekarang ada perasaan kak Rizkha yang harusnya lo jaga. Gue tahu, ini semua salah gue. Andai aja gue gak gegabah bikin keputusan buat misahin kak Rizkha sama Kean, mungkin lo gak harus terlibat hubungan sama kak Rizkha. Jadi gue rasa, kesempatan buat jalanin hubungan sama lo yang pengen banget gue coba, kayaknya lebih baik dikasih buat kak Rizkha. Gak salah kalau lo coba jalan sama kak Rizkha seperti kata lo malam itu. Kalau lo putusin kak Rizkha demi gue, gue takut kalau suatu saat karma juga bakalan datang seperti itu buat gue."
Bagai di tusuk ribuan jarum secara bersamaan, hati Vino rasanya begitu sakit.
"Amplop gue, Vin."
Vino masih belum bisa bereaksi apa-apa. Hatinya masih begitu sakit mendengar kalimat yang baru saja terucap dari mulut Xien. Bagaimana pun ini bukanlah sepenuhnya kesalahan Xien. Xien memang memintanya untuk mendekati Rizkha, tapi seharusnya pun ia tidak lupa dengan prinsip dirinya untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun, karena yang ia ingini hanyalah Xien. Apakah Vino adalah tipe lelaki yang mudah terhasut? Sejak awal ia sudah memantapkan hati agar hatinya hanya untuk Xien, tapi saat ia melewati hari-hari bersama Rizkha, ia dengan mudahnya melupakan Xien dan menjadikan Rizkha pacarnya, padahal Xien dan Kean saja tidak jadian.
"Vin, amplop gue!!"
"Ah," Vino kembali ke alam sadarnya, namun belum sepenuhnya. "Kamar," jawabnya singkat membuat Xien segera menaiki anak tangga yang ada di dekat pintu dapur Vino.
"Gue pamit pulang ya, Vin," pamit Xien kemudian melenggang keluar.
Vino yang masih berdiam diri di tempat mulanya hanya bisa menatap nanar punggung Xien yang mulai menghilang dari pandangannya. Begitu banyak pemikiran yang ada di dalam kepalanya, namun hanya ada satu pertanyaan yang paling mendominasi.
"Lo sekarang pamit buat pulang, tapi nanti pamit lo itu karena lo harus pergi. Apa gue sanggup, Xie?"
-oOo-
Xien mengepal amplop yang ada di genggamannya. Satu minggu, tertera jelas kata itu di dalam surat keputusan bu Rita. Ya, satu minggu adalah tenggang waktu yang diberikan bu Rita kepadanya untuk memikirkan betul-betul keinginannya untuk pindah sekolah. Bu Rita sangat menyayangkan jika Xien harus pindah ke sekolah lain, pasalnya ia adalah murid berprestasi dari segi olahraga di SMA Samudera, selain itu karena ia sudah kelas XII, tanggung jika harus pindah karena sebentar lagi juga mereka akan lulus dan meninggalkan sekolah itu.
Malam itu, Xien sudah mantap untuk pindah sekolah, karena ia pikir Vino memang sudah tidak peduli dengannya. Tapi semenjak kejadian tadi, Xien benar-benar dilema, apakah dia sanggup jika harus meninggalkan Vino? Tapi jika ia tetap disini, maka kehadirannya akan membuat seseorang tersakiti, yaitu kak Rizkha.
-oOo-
Cuap-cuap Author:
Gimana dong ini?
Xien ngelepasin begitu saja kesempatan buat pacaran sama Vino -,-
To be continue ...
Saranghae,
__ADS_1
Emahsukađź’•