
SORRY BARU UPDATE KARENA KEMARIN ADA KESIBUKAN.
SEMOGA KALIAN SUKA YAAAA ...
Selamat Membacađź’•
-oOo-
Setelah mengatakan hal konyol ke Vino, Xien jadi salah tingkah sendiri dengan sahabatnya itu, kadang mudah kesal ke Vino, kadang ia canggung, serta terkadang ia kikuk sendiri. Bahkan hari ini saja bermacam alasan sudah ia berikan agar ia naik ojek online saja demi menjaga jarak dari Vino, namun Vino bersikeras untuk tetap berangkat bersama, mau tak mau Xien menurut akan ucapan sahabatnya itu.
Kini Xien menatap wajah Vino yang bisa ia lihat di kaca spion. Wajah Vino yang terlihat fokus menyetir entah kenapa membuat Xien senang menatapnya.
"Bagi gue, hubungan pacaran gak ada apa-apanya dibanding persahabatan."
Entah kenapa secara tiba-tiba kalimat itu terngiang dalam kepalanya sembari tak mengalihkan pandangan pada wajah Vino di spion sana. Cukup lama ia memperhatikan Vino, sampai akhirnya ...
"Lo lihatin gue?"
"Hah?" Xien terkejut, ia gelagapan mengalihkan pandangan sekaligus gugup karena ketahuan. "Si ... siapa yang lihatin lo? Gue mau lihat wajah gue, tapi gak bisa gara-gara ketutupan muka lo, tuh, Vin!" teriak Xien karena mereka ada di atas motor sekarang.
Alibi Xien membuat Vino terkekeh di hatinya, ia tahu jika sedari tadi Xien menatapnya lewat kaca spion, namun ia pura-pura tidak tahu saja demi melihat seberapa lama Xien baru akan puas dengan ketampanannya.
"Lo lihatin gue kan tadi?" katanya Vino saat mereka sudah berhenti di parkiran SMA Samudera.
"Ish, geer amat. Gue bilang enggak juga."
"Iya, lo lihatin gue. Ngaku, Xie, ngaku!" ucap Vino yang mulai menggelitik Xien.
Kini keduanya saling adu gelitik disertai tawa yang membahana, sayangnya saat Vino asik menggelitik Xien, tak disangka ternyata mata Xien menangkap sosok Dewi yang sudah terlihat di parkiran mobil seraya menatap ke arahnya. Bukan, bukan ke arah Xien, tapi ke arah Vino lebih tepatnya.
"Dewi lagi?" gumam Xien kesal.
Vino mendengar gumaman Xien. "Kenapa, Xie?" tanyanya seraya menghentikan gelitikannya pada Xien.
"Eh, eng ... enggak. Yuk, ke kelas, Vin," ajak Xien ke Vino. "Gue gak bakalan biarin lo dekatin Vino, Wi."
Xien kira ia berhasil untuk menjauhkan Vino dari Dewi, tapi rupanya Dewi adalah tipe cewek yang agresif. Tak berselang lama, Xien mendengar langkah kaki seperti orang berlari, suara itu makin terdengar kuat ke arahnya.
"Hai, Revino ... Xien ..."
Xien benar-benar dongkol sekarang!
"Eh, Dewi? Ada apaan, Wi?" tanya Xien seolah tak mengetahui rencana Dewi.
Sementara itu Vino hanya tersenyum tanpa membalas sapaan Dewi.
"Hehe, gak kenapa-kenapa. Gue cuman mau ngasih tahu aja kalau ternyata rumah Xien deket sama rumah tante gue," ucap Dewi dengan senyum manisnya.
Jujur. Semenjak tahu bahwa Dewi melakukan pendekatan ke Vino, perlahan Xien mulai tidak menyukai Dewi. Dan sekarang apa? Memberitahu bahwa rumah Xien dan tantenya saling berdekatan? Unfaedah sekali! Xien makin dongkol sekarang, ia tahu bahwa itu hanyalah modusnya si Dewi saja.
"Artinya dekat rumah gue juga, dong," jawab Vino. "Gue kan tetanggaan sama Xien."
Dewi mengangguk antusias. "Kapan-kapan bisa dong ya, gue main ke rumah kalian, atau kalian main ke rumah tante gue."
__ADS_1
"Boleh," jawab Vino membuat Xien langsung menatapnya dengan tajam.
Xien berusaha mencari alasan untuk membawa Vino menjauh dari sini. Dengan cepat ia melihat ke arah jam tangannya sesaat setelah ia mendapatkan ide briliannya.
"Lima menit lagi masuk. Ayo, Vin," ajaknya Xien ke Vino.
"Duluan ya, Wi ..." teriak Vino yang sudah diseret Xien dari situ.
"Eh, ta ... tapi ..." ucapan Dewi terpotong saat jaraknya dengan Vino semakin menjauh.
Xien membawa Vino dengan memegang di bagian lengan baju Vino. Sepanjang lorong kelas, ia tak melepaskan pegangannya, dan Vino pun menurut saja. Ah, Xien benar-benar kesal dengan Vino!
"Artinya dekat rumah gue juga, dong, gue kan tetanggaan sama Xien."
"Kapan-kapan bisa dong ya, gue main ke rumah kalian, atau kalian main ke rumah tante gue."
"Boleh."
Kalimat itu terus saja terngiang dalam kepala Xien. Sedari tadi ia tak melepaskan pegangganya pada Vino, hingga akhirnya secara tak sengaja lelaki itu melihat ke arah jam tangannya.
"Xie, lo bilang tadi 5 menit lagi masuk."
Xien menghentikan jalannya, dan melepaskan lengan baju Vino. "Iya, terus kenapa?" katanya seolah menantang.
"Jam tangan gue yang terlalu pelan muternya atau jam tangan lo yang kecepatan? Masih ada dua puluh lima menit lagi," beritahu Vino.
"Ya memang dua puluh lima menit lagi, Vin."
Vino sedikit terkejut mendengar penuturan Xien. "Terus kenapa lo bilang ke Dewi ka-" tiba-tiba Vino menghentikan ucapannya, kemudian menatap Xien dengan senyum jahil.
"Lo cemburu ya gue ngomong sama Dewi?" tebak Vino dengan masih pada senyum jahilnya.
"Cemburu apaan, sih? Enggak deh, Vin."
"Ngaku aja deh, Xie," kata Vino sambil menoel pipi kanan Xien. "Ngaku aja, biar abang Vino senang ada yang cemburuin abang."
"Lebay lo, Vin!" ucap Xien seraya memukul lengan Vino. "Gue cuman gak suka ya, Vin, lo dekat sama Dewi. Bukan gue cemburu, cuman lo tahu kan, Dewi tuh beda agama sama kita? Gue gak mau lo sampai terlibat rasa suka sama dia, urusan cinta lo bakalan susah entar."
"Iya, Xie, tenang aja gue gak bakalan suka sama Dewi," kata Vino seraya mengelus pelan rambut Xien. "Tapi kita gak boleh juga bersikap diskriminatif ke dia. Meskipun beda agama tapi kita harus tetap berteman sama dia juga. Berteman bukan berarti gue suka, kan?"
Xien mengangguk pelan. Ia selalu saja seperti ini, seolah terhipnotis dengan perlakuan Vino yang bersikap lembut ke dia.
"Ayo, ke kelas," ajak Vino. Kini antara sadar ataupun tidak, Vino menggenggam tangan Xien, menaiki satu persatu anak tangga untuk menuju kelas mereka yang ada di lantai ke tiga.
-oOo-
Sehabis bel pulang berbunyi, Vino harus membantu adik-adik kelasnya persiapan OSN seperti biasa, dan dengan sangat terpaksa Xien harus menunggu Vino lagi, namun kali ini ia tidak memilih parkiran lagi sebagai tempat menunggu Vino, ia memilih untuk duduk di tepi lapangan basket yang saat itu Ema dan kawan-kawannya sedang bermain basket. Melihat permainan Ema dan kawan-kawannya, kaki Xien sudah sangat gatal untuk ikut bergabung.
"Kak Xie, ikut main?" tawar Ema dari lapangan, ia baru menyadari bahwa ada Xien yang sedang memperhatikan mereka.
Xien menggeleng seraya tersenyum, membuat Ema izin ke temannya untuk mendekat ke arah Xien.
"Ayo, main kak."
__ADS_1
"Enggak Ma, gue gak bawa baju latihan," jawab Xien.
"Gak apa-apa kak, baju itu aja," kata Ema menunjuk ke seragam Xien.
Sungguh, ia ingin sekali ikut bermain, tapi Xien tahu diri. Dengan seragam putih abu-abunya, apa yang akan terjadi jika ia ikut bermain basket? Rok selututnya pasti akan terbuka jika ia berlari ataupun melompat saat memasukkan bola ke ring, seragam putihnya akan jadi transparan jika tubuhnya berkeringat. Xien bergidik membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi jika sampai ia tetap memaksakan ikut bergabung.
"Enggak. Gue lihat aja cukup, kok."
"Bener kak? Gak mau main?"
Xien berpikir untuk kedua kalinya. Rasanya begitu sulit untuk menolak tawaran bermain basket.
"Kak?" Ema menyadarkan Xien dari lamunannya.
"Eh, I ... iya ma, gue di sini aja," jawabnya.
Ema tersenyum seraya mengangguk. "Ya sudah, aku main dulu ya kak."
Ema segera berlari ke lapangan, melanjutkan permainan bersama dengan teman-temannya. Sementara Xien mengamati setiap pergerakan dari permainan itu, kadang mulutnya mengoceh-oceh sendiri mengomentari cara main mereka. Tapi ...
Secara tak sengaja mata Xien menangkap sosok yang berhasil membuat jantungnya berpacu hebat. Dari seberang sana, ia dapat melihat dengan jelas sosok Kean yang seperti menatap ke arahnya, mungkinkah?
Jika memang Kean sedang menatap ke arahnya, Xien ingin tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu saat pandangan mereka bertemu dalam waktu yang lama. Xien berusaha untuk tidak mengalihkan pandangannya dari Kean. Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu -saling tatap- hingga akhirnya, Kean lah yang memutuskan untuk menghentikan kontak mata mereka.
Awalnya Xien kira kejadian yang berhasil membuat dadanya berpacu hebat tadi berakhir sampai disitu, namun entah kenapa Xien justru melihat sosok Kean yang mulai berjalan mendekat ke arahnya. Xien kira itu hanyalah sebuah fatamorgana karena akhir-akhir ini pikirannya tak karuan karena lelaki itu, sayangnya perkiraan ia salah besar, kini sosok Kean benar-benar dekat dengannya.
DEG!
Jantungnya seakan terhenti saat itu juga, ketika Kean mengambil duduk di sampingnya dengan begitu santai, seolah tak ada yang terjadi di antara mereka. Mati-matian Xien membuat dirinya untuk terlihat tenang di hadapan Kean.
Mungkinkah Xien saat ini bermimpi? Ia segera mencubit pahanya, ternyata sakit. Berarti saat ini ia tidak sedang bermimpi. Dalam benaknya kini berputar beribu macam pertanyaan berlandaskan kalimat 'mengapa'. Mengapa Kean mendekatinya? Mengapa Kean tadi menatapnya cukup lama? Mengapa sekarang Kean duduk di sampingnya? Mengapa Kean mau duduk di sampingnya? Mengapa Kean bersikap biasa saja? Mengapa mengapa mengapa dan mengapa?
Mengingat kejadiannya tempo hari dengan Kean, Xien tahu betul bahwa seharusnya hari ini mereka satu sama lain saling menjaga jarak, namun nyatanya sekarang lelaki itu duduk di sampingnya dengan tenang. Seketika itu juga, rasa sakitnya karena kedekatan Kean dan Rizkha, serta rasa sakitnya karena ucapan Kean yang dipicu oleh David tempo hari seakan sirna begitu saja, yang ada hanyalah rasa menggebu di dada karena bahagia. Ingin sekali dalam hati Xien ia melompat-lompat karena rasa senangnya, namun ia sadar tidak boleh bersikap antusias, ia harus menjaga sikapnya seolah-olah ia benar tidak merasa spesial karena ulah Kean selama ini.
Meski di dalam dadanya begitu menggebu, Xien tetap bertekad untuk tidak menyapa Kean lebih dulu, ia membungkam menunggu Kean yang akan pertama kali menyapanya, sialnya sudah hampir 10 menit duduk berdampingan di kursi yang sama, rupanya Kean tak kunjung mengeluarkan suara. Xien jadi jengkel sendiri, ia memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan Kean saat itu juga, sebelum akhirnya Kean lebih dulu berlalu mendahuluinya. Sungguh, Xien tidak mengerti jalan pikiran Kean saat ini.
"Pasti lo ngarep Kean ngomong sesuatu yang bisa bikin lo klepek-klepek, kan?" ucap seseorang yang tiba-tiba saja ada di tempat duduknya Kean tadi.
"Ya tuhan, mas David lambe ada di sini ternyata?" cerca Xien saat melihat bahwa orang yang baru saja berbicara adalah David.
David berusaha untuk tenang dan tak ingin membalas ucapan Xien. Ia bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Xien. "Xie, gue bilangin sama lo, ya. Jangan terlalu berharap sama Kean, nanti lo sendiri yang sakit, percaya sama gue."
Xien menautkan kedua alisnya, kebingungan. Apa ia tadi salah dengar?
"Dalam rangka apa lo sok care sama gue? Lagian percaya sama lo musyrik!" katanya seraya berlalu meninggalkan David.
-oOo-
Cuap-cuap Author:
Lemes banget kan ya mulutnya si David. Untung aja Xien gak sampai jadian sama David. HAHAAA ..
Saranghae,
__ADS_1
Emahsukađź’•