
PENGEN CEPAT-CEPAT NAMATIN CYSM? HABISNYA ADA YANG PERLU DIURUS.
Bukan ngurus kawinan kok wkk
Happy Reading, guys❤
-oOo-
-oOo-
“Xie, lo nanti pulang sendiri, bisa?”
Pertanyaan Vino barusan membuatku sedikit merasa ada yang janggal. “Loh, kenapa?” tanyaku heran.
“Gue mau jemput Rizkha, nganterin dia pulang,” kata Vino.
Ya, aku lupa. Rencana yang aku bangun dengan Vino minggu lalu ternyata berkembang dengan pesat. Ternyata pesona Vino benar-benar membuat kak Rizkha dengan mudahnya menerima kebaikannya. Bahkan sekarang Vino tidak perlu lagi menyebut kak Rizkha dengan embel-embel ‘kak’. Kak Rizkha tidak tahu saja, kalau sebenarnya dia sudah terperangkap pada jebakanku.
“Oke deh, Vin. Gue hari ini pulang telat, soalnya ada yang mau dicari buat perlengkapan drama lusa depan.”
Vino mengangguk paham, setelahnya ia mengacak-acak rambutku sebentar. “Semangat ya latihan dramanya.”
Aku mengangguk mantap seraya tersenyum tulus menatap Vino. Perlahan-lahan Vino mulai melangkahkan kakinya meninggalkanku yang masih berdiri di anak tangga. Entah kenapa tiba-tiba saja ada perasaan yang mencelos di dalam hatiku ketika perlahan Vino menghilang dari pandanganku.
Apa aku siap jika kak Rizkha akan mengambil gelar sebagai pacar pertama Vino? Entah kenapa rasanya aku tidak rela. Tapi bukankah dulu Vino pernah mengatakan bahwa baginya hubungan persahabatan jauh lebih penting daripada pacaran? Itu artinya posisiku jauh di depan kak Rizkha, kan?
Baru saja memasuki ruangan kelas, mataku sudah disuguhkan pemandangan Meira dan David yang sedang dimabuk asmara.
“Permisi, mas, mbak, saya mau duduk. Mentang-mentang orang kelas udah tahu status kalian, kalian enak-enakan pacaran,” kataku ke David dan Meira. Saat itu David sedang duduk di kursiku.
“Suka-suka kita lah. Tapi buat hari ini aja, Xie, gue minta lo duduk di kursi gue dulu,” kata David memohon lembut denganku.
Aku terkekeh meremehkan, “Wah, baru tahu kalau David bisa ngomong selembut ini,” kataku membuat David mengedip-ngedipkan mata dan menunjukkan puppy eyes miliknya. “Gak, gue gak mau!” tolakku.
“Apa susahnya sih, Xie? Lagian kalau duduk di kursi gue kan lo bisa sebelahan sama Kean.”
Aku melirik sekilas ke arah Kean, sungguh, ia tak terganggu sama sekali ketika David menyebut namanya.
“Gue bilang gak mau ya gak mau! Udah sana-sana minggir,” aku seakan-akan menyeret David agar menjauh dari kursiku.
“Xie, pleeeaaassseee … Gue mohon, sekali ini aja, ya. Hitung-hitung balas budi lo ke gue yang udah bantu lo nyari tahu informasi tentang Riz-“
Dengan cepat tanganku membekap mulut Meira, mencegahnya untuk tidak melanjutkan kalimat itu. “Lo gila, Mei? Ada Kean itu!” bisikku dengannya.
__ADS_1
“Oh, informasi yang semalam ya, Mei?” tanya David.
“Apaan? Sok tahu banget lo, ish!”
“Bukan sok tahu, Xie. David emang tahu, orang gue minta informasinya dari David,” kata Meira.
Sontak saja ucapan Meira itu membuatku syok berat. Jadi, Meira mendapatkan informasi tentang Kean dan kak Rizkha dari David? Pantas saja David selalu mengata-ngataiku bahwa aku menyukai Kean! Ternyata dia tahu!
Oh, dan aku baru ingat, waktu Meira memberikanku info penjelas tentang klarifikasi tingkatan sekolah Kean dan kak Rizkha waktu itu kan David habis dari lapangan basket, dan setelahnya Meira datang menemuiku dengan wajah sumringah. Jadi saat itu Meira habis bertemu dengan David? Aku mengangguk-angguk ketika baru saja menyadari semuanya.
“Xie, lo kenapa?”
“WAAAHHH … Gila, gue baru nyadar tentang apa yang terjadi di balik cerita hidup gue.”
“Jadi mau ‘kan tukeran duduk? Sebentar aja, Xie, pleeeeaaassseee …”
Aku jengah! Andai saja Meira tidak sering membantuku, aku tidak ingin menerima permintaannya, apalagi permintaan David.
“Iya ah iya, tapi lo harus tuker kursinya juga, bawain kursi gue ke situ,” tunjukku ke tempat duduk David. “Gue gak mau duduk di kursi lo, entar mulut gue ketularan lemes.”
“Susah amat sih, mbak!”
“Biarin.”
“Thanks ya, Xie,” kata Meira kesenangan, sementara David ku lihat dengan sangat terpaksa menuruti keinginanku.
“Lo gak jadi tambah suka kan sama gue?” katanya.
Aku menautkan kedua alis mendengar ucapannya, tanpa menghiraukannya ku buang mukaku agar tidak menatapnya.
“Jangan sok-sokan ngejauh, nanti lo kangen sama gue,” katanya seperti berbisik. Sumpah! Aku tidak mengerti maksud dari ucapan Kean? Apa sih sebenarnya maunya? Oh, atau … karena kak Rizkha mulai menjauhinya? Jadi dia mau agar aku tidak menjauhinya juga? Licik sekali! Tapi jujur saja, aku suka!
-oOo-
HUT SMA Samudera yang ke-25 akan diadakan besok lusa. Kelas kami, XII-MIPA 3 kebagian menampilkan drama pada acara tersebut, jadi hari ini aku dan Wiky sudah berjanji untuk mencari perlengkapan sehabis pulang sekolah, sayangnya …
“Aduh, gue lupa ngasih tahu lo, Xie." Ucapannya membuatku kebingungan. “Sebenarnya gue ada kesibukan habis ini, jadi gue gak bisa nemenin lo nyari mahkotanya.”
“Loh, terus gue sendirian?” tanyaku membuat Wiky menggeleng. “Jadi gue perginya sama siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan gue?”
Mataku membulat sempurna ketika melihat Kean yang sedang berbicara. “Ish, kok Kean sih, Ky?” kataku mengeluh.
Wiky yang ku tanyai malah cengengesan saja, “Gue pergi dulu ya, laper.”
__ADS_1
Aku ingin beranjak mengejar Wiky, namun ternyata Kean menahan lenganku. Kenapa sih para cowok senang banget pegang lengan perempuan? Heran aku tuh!
“Gak usah ngejar, nanti lo capek.”
“Iya, kayak gue ngejar cinta lo, capek!” cibirku meski dalam hati.
Aku melepaskan pegangan Kean. “Lo sengaja ya Kean?” tanyaku sambil menatapnya intens membuat Kean menaikkan satu alisnya.
Sial! Kenapa Kean begitu tampan saat satu alisnya terangkat? Dan lagi, kenapa ia malah tersenyum? Kalau dia senyum seperti ini kan aku tidak kuat dengan lesung pipinya.
“Gue ngerasa gak enak hati aja diamin lo akhir-akhir ini, Xie. Jadi anggap aja ini sebagai permintaan maaf gue.” Kalimat dari Kean itu berhasil menyesatkanku lagi. Kalimat itu benar-benar membuat diriku terbang lagi.
“Lo gak usah gak enak hati, gue B aja,” kataku. Aku tidak kuat untuk berlama-lama menghadapi Kean, bisa-bisa aku bisa pingsan kejer di tempat karena jantungku berpacu terlalu cepat.
“Xie, mau kemana?”
“Makanlah, mau apa lagi!” teriakku.
-oOo-
Sudah hampir 5 menit aku duduk di tempat yang biasanya menjadi markasku dengan Vino. Tapi kenapa Vino tak kunjung-kunjung menampakkan batang hidungnya juga?
“Vin, lo dimana? Gue di kantin.”
Ku ketikkan pesan itu untuk menanyai keberadaan Vino. Dalam hitungan detik Vino membalas pesanku.
“Gue di kafe depan, Xie.”
“Loh, ngapain? Gue susul ya!”
"Gak perlu, Xie. Gue lagi sama Rizkha."
Rizkha? Jadi Vino sedang bersama kak Rizkha? Hanya karena dia sedang bersama kak Rizkha, Vino lupa mengabariku? Andai saja aku tidak mengirimkan pesan terlebih dahulu, mungkin aku akan kegelisahan sendiri menunggunya disini. Dengan sangat kecewa aku mengiyakan saja permintaan Vino.
“Oke :)”
Apa rencana yang aku minta ke Vino adalah suatu kesalahan?
-oOo-
Cuap-cuap Author:
Kalau kalian yang ada di posisi Xien, gimana?
Saranghae,
__ADS_1
Emahsuka💕