Can You See Me?

Can You See Me?
Sembilan Belas | PERTENGKARAN!!!


__ADS_3

Author's POV--------


-oOo-



***Maaf, gue terlalu berlebihan nganggep lo sahabat.***


-oOo-


"Gue mau lo putusin kak Rizkha!"


Mendadak kalimat yang diucapkan oleh Xien membuat Vino tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Putusin kak Rizkha, Vin!" pinta Xien yang kini suaranya dengan nada yang tinggi membuat Vino memundurkan dirinya, memberi jarak pada Xienna. Ia memilih untuk duduk di kursi yang ada di balkon Xien sambil memegangi kepalanya, Vino dilanda rasa bingungnya sekarang.


"Vin, gue minta lo putusin kak Rizkha!!! Apa susahnya sih cum-"


"Susah, Xie!!! Susah!!!" bentak Vino dengan Xien.


Xien terkejut ketika Vino membentaknya dengan kasar seperti itu. Tidak pernah sekali pun selama ini Vino membentaknya, apalagi sekasar tadi. Tak terasa, air mata Xien jatuh membasahi pipinya, ia gagal menahan air mata itu. Xien menangis karena ia sudah tidak menemukan jati diri Vino yang dulu sekarang ini.


"Lo gak punya hati, Xie? Hah!!! Lo gak punya hati?" tanya Vino sambil menatap tajam ke arah Xien yang sedang menangis menatapnya.


Vino tahu Xien saat itu menangis, tapi baginya Xien sudah keterlaluan. "Lo pikir lo siapa, Xie? Lo bukan siapa-siapa gue! Lo gak berhak buat bikin perintah sama perasaan gue."


Perasaan Xien benar-benar tertusuk, begitu sakit rasanya saat Vino mengatakan bahwa mereka bukan apa-apa. "Apa karena kak Rizkha, lo semudah itu melupakan kalau gue sahabat lo, Vin?"


"Bukannya lo yang minta buat gue deketin Rizkha? Jadi kenapa sekarang lo minta gue berhenti? Bukannya ini jadi mempermudah lo buat dapetin Kean? Kenapa, Xie? Lo gak terima gue jadian sama Rizkha? Lo cemburu?"


Air mata Xien mengalir dengan deras. Haruskah ia mengatakan ke Vino bahwa ia cemburu? Bukankah sekarang ini bukan waktu yang tepat?


"Gue gak tahu perasaan gue ke lo apa, Vin, tapi gue gak bisa lihat lo sama kak Rizkha. Gue pengen bilang cemburu, tapi gue ragu ini perasaan cemburu atau bukan, karena yang gue tahu perasaan cemburu yang gue rasa selama ini cuman saat gue liat Kean sama kak Rizkha, bukan kak Rizkha sama lo. Tapi harusnya lo ngerti, Vin, kalau gue gak pengen lo berubah karena kak Rizkha!"

__ADS_1


Kata-kata itu harusnya keluar dari mulut Xien, tapi ia tidak sanggup mengatakannya dengan Vino. Ia hanya bisa duduk di lantai balkonnya sambil memeluk kedua lututnya seraya menenggelamkan wajahnya di sana.


"Jadi orang jangan egois, Xie!"


Xien mengangkat kepalanya untuk menatap Vino. "Vino bilang apa? Gue egois?" katanya tak percaya.


"IYA!!! Lo tuh egois, Xie. Lo selama ini ngejar-ngejar Kean, lo minta bantuan sama gue buat bikin lo deket sama Kean, lo-"


"Kalau lo keberatan, harusnya lo bilang ke gue, Vin!"


"Gimana caranya gue bilang ke lo, Xie? Gue gak bisa nolak permintaan lo. Lo tahu kenapa gue gak bisa nolak lo? Karena gue suka sama lo, Xie!"


Pengungkapan Vino berhasil membuat Xien menegang, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Vino akan mengatakan hal seperti ini dengannya. "Vi ... Vino, su ... su-"


"Iya, gue suka sama lo, Xie! Tapi lo gak sadar, kan? Karena dunia lo cuman tentang Kean, Kean, Kean. Sebesar apapun perhatian dan kepedulian gue ke lo, lo gak akan pernah bisa lihat keberadaan gue, Xie. Gak bisa!"


"Tapi waktu itu gue pernah nanya ke lo Vin, kenapa lo gak ngajakin gue pacaran? Lo sendiri yang bilang kalau hub-"


Vino tersenyum getir. "Lo selalu punya kesempatan buat dekat sama Kean, tapi lo gak ngasih gue kesempatan buat lupain lo. Rere deket sama gue lo diamin gue, Dewi deketin gue, lo ngelarang gue. Dan bodohnya gue gak bisa gak nurutin apa mau lo, Xie. Tapi kali ini aja, Xie, gue mohon sama lo, biarkan gue jalan dulu sama Rizkha," pinta Vino dengan suara yang mulai melembut.


Xien membuang wajahnya, tak ingin Vino melihat tangisnya yang begitu deras.


"Lo bisa, kan izinin gue buat jalan sama Rizkha?"


Xien menyeka air matanya, ia menatap Vino dengan seksama yang masih menatap ke arahnya. Xien mengangguk lemah beberapa kali, sambil memaksakan dirinya untuk menyunggingkan senyuman ke Vino. Tanpa Xien sadari, Vino pun merasakan ada sesuatu yang menusuk hatinya saat melihat Xien harus susah payah memaksakan senyum karena dirinya.


"Oke, gue gak bisa larang lo buat dekat sama siapapun, Vin, karena gue gak punya hak apa-apa buat ngatur hidup lo, terutama ngatur hati lo, ngatur perasaan lo. Maaf karena selama ini gue udah egois, gue gak bisa lihat bagaimana kondisi lo, selama ini gue cuman mentingin diri gue sendiri, bagaimana caranya gue dapetin perasaannya Kean. Gue izinin lo kok buat jadian sama kak Rizkha. Karena dari awal ini adalah rencana gue, kan? Jadi gue harus nerima apapun konsekuensinya. Longlast ya, Vin," kata Xien dengan senyum getirnya yang menohok Vino.


Baru saja Vino ingin berbicara, tapi Xien melanjutkan ucapannya lagi. "Gue rasa selama ini gue berlebihan menilai lo. Gue nganggep kalau lo itu sahabat terbaik gue, Vin, saking baiknya lo, gue bahkan nganggep lo bisa gue andalin. Padahal nyatanya gue bukan siapa-siapa lo, kan?"


Xien terkekeh sejenak. "Jadi gue rasa, supaya lo bisa fokus sama kak Rizkha dan hubungan kalian, lebih baik dari sekarang kita membiasakan diri buat sendiri-sendiri aja, Vin. Bagaimana pun, gue gak bisa terus-terusan nebeng sama lo ke sekolah, gue gak seharusnya biarin lo dengan leluasa ngelompatin balkon gue lagi, gue gak bisa lagi duduk santai di kantin makan berdua sama lo, karena ada perasaan yang harus lo jaga setelah ini."


Xien segera berdiri berniat untuk beranjak meninggalkan Vino yang masih terpaku di tempat tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar ucapan Xien.

__ADS_1


"Oh iya, buat kata-kata gue tempo hari tentang posisi lo yang jauh di depan Kean, lo harus tahu kalau sampai saat ini lo yang selalu gue prioritasin, ya ... meskipun dengan rasa prioritas yang berbeda. Maaf gue terlalu berlebihan nganggep lo sahabat, Vin."


Xien mengakhiri ucapannya dengan senyum yang getir juga tetesan air matanya untuk terakhir kali Vino lihat. Ia segera masuk ke kamarnya, meninggalkan Vino yang masih ada di balkonnya. Dengan cepat Xien mengunci pintu pembatas balkon dengan kamarnya dan menutup tirainya. Lampu kamarnya pun ia padamkan. Di dalam kegelapan kamarnya, Xien menangis sejadi-jadinya. Hatinya benar-benar sakit karena kejadian barusan.


Xien benar-benar kabut, ia tidak tahu lagi harus apa? Kehilangan sosok sahabat seperti Vino benar-benar menyita ketenangannya. Saat-saat seperti ini hanya satu yang biasa ia minta untuk datang dengan segera, neneknya! Buru-buru ia mencari kontak telpon milik neneknya, ketika sudah terhubung ia tidak membiarkan neneknya berbasa-basi.


“Nek, cepat pulang! Xien mimpi lagi,” katanya sambil terisak.


Mimpi, kata-kata yang dilontarkan Xien itu sebenarnya adalah kebohongan belaka, tapi jika sang nenek sudah mendengar aduan Xien tentang mimpinya, dengan segera neneknya akan meninggalkan segala urusan yang lain untuk mengecek kondisi Xien.


“Ya tuhan, iya sayang iya, nenek segera pulang. Tapi kamu baik-baik di rumah dulu ya! Kalau ada apa-apa segera hubungi bunda Lita. Atau kamu minta Vino aja buat nemenin kamu?” nada dari neneknya di seberang sana terdengar begitu cemas.


“Maafkan Xien, nek!” batin Xien karena merasa bersalah membuat neneknya cemas karena kebohongannya, tapi ia benar-benar membutuhkan neneknya sekarang. “Gak perlu nek, aku cuman perlu nenek secepatnya.”


“Iya sayang iya, nenek cari jadwal penerbangan secepatnya, ya!”


Setelahnya Xien melanjutkan tangisannya. Dia tidak pernah menyangka jika urusan cinta merusak persahabatannya dengan cara yang mengenaskan seperti ini.


Mulai malam ini, berakhir sudah hubungan persahabatan Vino dengan Xien. Mulai malam ini, tidak akan ada lagi teriakan-teriakan saat mereka berbicara di atas motor, tidak ada lagi seseorang yang pantas Xien larang dekat dengan siapapun, tidak ada lagi meja 21 kantin yang terisi oleh dua anak manusia yang sama selama hampir tiga tahun ini. Tidak ada lagi Xien yang ketahuan mencuri pandang ke Vino, tidak ada lagi yang ngoceh-ngoceh tak karuan saat Vino melompati balkon. Tidak ada lagi semuanya, tidak ada lagi semua itu. Semuanya benar-benar sudah berakhir dari malam ini.


Selamat Tinggal, Vino.


-oOo-


Cuap-cuap Author:


Gimana, guys?


Feel-nya dapat gak? Kalau enggak, ya ... Maaf ya :')


Saranghae,


Emahsuka💕

__ADS_1


__ADS_2