
Aku gak tahu gimana respon kalian dari cerita pertamaku yang super duper gaje ini. Percayalah, ini adalah cerita pertama yang ku tulis sampai ending.
Aku tahu ini adalah cerita tergaje, banyak alur yang belum dijelaskan, feelnya kurang dapat, but, this is my story! Sejelek apapun, ya tapi ini karyaku. Aku tidak malu, yang seharusnya malu adalah mereka yang suka copy paste karya orang tapi diaku-akui milik pribadi -_-
Jadi, selamat membaca ending dari kisah Xien, Vino, Kean, dan Febri❤️
-oOo-
"Jadi karena sekarang aku harus jujur, maka antara Kean sama Vino itu yang aku suka adalah ... Mereka berdua."
Untuk beberapa waktu, tubuh Xien menegang kaku, tatapannya kosong. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh indra pendengarnnya.
Tanpa beban sedikitpun, dan tanpa ada rasa canggung sama sekali, Rizkha dengan begitu mudahnya mengeluarkan suara dari keegoisan hatinya.
Melihat reaksi dari Xien, Rizkha segera memegangi kedua bahu Xien." Xie, Xie!!!"
"Eh?" Alam sadar Xien kembali.
"Kamu percaya sama apa yang aku bilang?" katanya namun tak diberikan reaksi apa-apa oleh Xien.
"Ya, aku suka sama mereka berdua, Xie,” Rizkha kembali mengulang kalimatnya tadi membuat Xien mengangguk, seraya menahan rasa sakit yang sudah menyeruak dalam hatinya. Entah sejak kapan air matanya sudah terjun bebas membasahi pipinya.
“Aku suka Kean karena dia sahabat aku, dan aku suka sama Vino karena dia saudara sepupu aku, kami sesama anggota keluarga Alaska,” terang Rizkha pada akhirnya.
DEG! Mata Xien sedikit membelalak menatap ke Rizkha.
Apa Xien tadi tidak salah dengar? Buru-buru diangkatnya kepala menatap ke arah Vino seolah meminta penjelasan pada lelaki itu.
Vino mengangguk. “Gue sengaja, Xie. Gue juga sengaja buat lo bingung. Dan sekarang berhasil, kan? Lo bingung, rasa suka lo buat Kean atau buat gue,” kata Vino ke Xien seraya menatapnya lekat. “Andai aja gue gak tahu kalau Kean juga suka sama lo, mungkin dari dulu gue gak perlu pura-pura pacaran sama Rizkha dan bikin lo bingung bahkan sampai kalut. Tapi karena Kean adalah anaknya sahabat bunda, dan gue tahu dia juga suka sama lo, gue gak bisa gitu aja ngerebut lo, Xie.”
“Xie, maafin gue,” kini giliran Kean yang ambil suara. “Maafin gue karena selalu narik-ulur perasaan lo. Tapi jujur, jauh sebelum gue ngasih komentar di kata-kata yang lo posting dulu, gue sudah suka sama lo. Gue tahu kalau hubungan lo sama Vino sangat dekat, jadi gue kira gue bisa mudah dapatin lo karena bunda Vino sahabatnya mama gue, tapi ternyata lo gak semudah itu di dapatkan, karena ada tembok yang begitu kuat lindungin lo, Vino. Dan lo ingatkan toko kue itu? Tante Melin itu mama gue, Xie.”
Di hari ini, bagi Xien banyak rahasia yang terungkap, namun mendadak Xien merasa ada yang salah, tiba-tiba ia tertawa dengan kencang.
“Kalian nge-prank gue, iya? Oh, atau kalian bilang gitu ke gue karena kalian gak mau gue pindah, secara besok gue bakalan ngasih surat keputusan gue ke bu Rita, kan?” katanya membuat ketiga orang di hadapannya menatap tak percaya pada jalan pikir Xien.
__ADS_1
“Mereka gak bohong, sayang.” Suara itu tiba-tiba mengagetkan Xien. Matanya membelalak sempurna, tak percaya dengan apa yang sekarang ada di hadapannya. “Semua yang mereka katakan memang benar, bukan karena kamu mau pindah sekolah. Dan sebenarnya yang nyuruh bu Rita buat ngasih tenggang waktu itu ya nenek, biar kamu bisa lihat kebenarannya sebelum kamu meninggalkan semua ini atau pun bertahan di sini.”
"Nenek, jangan bikin Xien nge-fly."
"Kamu gak percaya sama nenek? Sejak kapan cucu nenek gak percaya sama neneknya sendiri, sayang?"
Menyadari bahwa neneknya memang tidak berbohong, Xien langsung menangis sejadi-jadinya, ia tak menyangka akan sebuah rahasia yang terjadi di balik hidupnya. “Nenek kenapa gak ngomong dari dulu? Jadi nenek tahu kalau aku minta nenek balik itu bohong? Bukan karena aku mimpi lagi, tapi karena aku bertengkar sama Vino.”
Neneknya Xien langsung memeluk cucu kesayangannya itu. “Maafin nenek ya sayang.” Katanya membuat Xien menggeleng tegas.
“Harusnya aku yang minta maaf sama nenek, maaf karena sudah bohong sama nenek.”
“Nenek yang seharusnya minta maaf sama kamu, sayang,” kata neneknya seraya menghapus air mata yang terus saja mengalir pada pipi Xien. “Sudah ya, jangan nangis lagi. Kamu sedang dicintai, jadi kamu tidak semestinya menangis, kamu harusnya bahagia.”
Xien mengangguk, kemudian tatapannya beralih ke arah Rizkha. “Kak, maafin aku karena selama ini kupikir kakak egois mau embat Kean sama Vino sekaligus. Aku juga sudah mikir yang enggak-enggak ke kakak, padahal nyatanya kakak gak ada apa-apa sama mereka berdua.”
Rizkha memeluk Xien dengan erat. “Maafin aku juga ya, Xie. Maaf karena sudah bikin kamu sakit. Ini semua gara-gara mereka berdua, nih,” kata Rizkha seraya mendorong Vino juga Kean, membuat Xien terkekeh lucu.
“Sudah ah, hapus air matanya," ucap Rizkha ke Xien, membuat gadis itu langsung menyapu matanya. "Jadi, kamu pilih siapa antara mereka berdua? Mereka berdua siap kamu tolak, kok, Xie.”
Lagi-lagi Xien terkekeh. Sungguh, ia tidak menyangka akan mendapatkan genre hidup seperti ini.
“Andai kalian gak punya hati, mungkin aku akan milih kalian berdua,” kata Xien ke Vino dan Kean, kemudian ia terkekeh sendiri. “Tapi aku tahu, saat kita menjadi pilihan dari seseorang, pasti rasanya akan sangat bahagia jika diterima dan akan sangat sakit jika ditolak. Untuk itu, aku memutuskan untuk …”
Cukup lama Xien menggantung kata-katanya. Hingga akhirnya ...
“Tetap menjalin hubungan seperti ini dengan kalian bertiga, dengan catatan kak Rizkha sudah putus, ya!” lanjut Xien membuat semua yang ada disitu terkejut bukan main, tak terkecuali neneknya. Itu berarti, Xien tidak melakukan pilihan.
“Bisa ‘kan kita berempat sahabatan?” kata Xien yang membuat Rizkha mengangguk seraya tersenyum tulus. Sementara Vino dan Kean berusaha untuk tersenyum seraya mengangguk mengiyakan permintaan Xien.
“Aku harap untuk ke depannya, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah kita ini. Jujur, aku bahagia bisa dicintai oleh dua orang yang berhasil membuatku bingung, tapi aku tidak ingin memilih salah satu dari kalian, karena kita juga masih SMA, kan? Perjalanan kita masih panjang. Belum lagi nanti kalau sudah kuliah, kalau memang kita pacaran, kita bakalan LDR-an, yang satu nanti di JPOK, yang satu nanti di Bahasa Inggris, atau yang satu nanti di Akuntansi, belum lagi kalau beda negara.”
“Hati manusia itu mudah dibolak-balik, dan mungkin saja perasaan menggebu anak SMA seperti kita saat ini akan memudar seiring berjalannya waktu. Tapi aku harap, persahabatan kita akan selalu terjaga hingga nanti," kata Xien dengan matanya yang sudah berbinar.
Neneknya tahu bahwa ini adalah keputusan yang berat untuk Xien. Neneknya tahu seperti apa perasaan cucunya itu ke Vino, dan seperti apa perasaan cucunya itu ke Kean. "Kamu hebat, sayang,” kata neneknya seraya mengelus pelan puncak kepala Xien.
__ADS_1
“Eh, kita ‘kan sahabatan? Jadi supaya keren namanya apa ya?” tanya Vino tiba-tiba.
“Gimana kalau Can You See Me? Karena ini semua berawal dari kejadian kalian ini, yang tidak bisa melihat satu sama lain,” jawab Rizkha kemudian ia tertawa.
“Oke, deal. CAN YOU SEE ME!!!!!”
-oOo-
Seperti itulah akhir cerita ini, diakhiri dengan persahabatan, biarlah persahabatan tetap menempati posisi jauh di depan hubungan pacaran, seperti kata Vino dulu.
Tengkyuuu ...
Salam literasi ^_^
Good bye for:
Xienna Mulia
Revino Alaska
Rizkha Febriana
Keannu Ilham
**Terima kasih karena kalian sudah membaca cerita ini hingga akhir. Kalau lapak ini rame, aku akan up ceritaku yang lain di sini.
Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Saranghaaaaeeeee,
Emahsuka❤️❤️❤️❤️❤️💚💚💚💚💚❤️❤️❤️❤️❤️**