Can You See Me?

Can You See Me?
Sebelas | David Lambe!


__ADS_3

Balik lagi di hari Sabtu, jadwal wajib aku buat update CYSM?


Jadi, selamat membacađź’•


-oOo-


Pagi itu penampilan dari salah seorang atlet basket putri sekaligus futsal putri SMA Samudera tidak secerah biasanya. Dengan keadaan yang tidak fit karena tadi malam dilanda insomnia, ia benar-benar terlihat berbeda hari ini.


Di tengah perjalanan menuju sekolah, Xien berusaha mati-matian untuk tetap bersikap tenang, ia tidak ingin bersikap konyol lagi di depan Vino, dan harapannya saat ini hanya satu, "Semoga Vino gak bahas kejadian semalam."


"Kalau mau ke UKS kasih tahu gue," katanya Vino saat mereka sudah di parkiran.


"Gak perlu, Vin, gue bisa sendiri kok, udah ya ... gue mau ke toilet, byeee ..."


Baru beberapa langkah Xien menjauh dari Vino tiba-tiba saja ia mendengar suara yang tak asing.


"Hai, Revino!"


Xien kenal betul siapa pemilik suara itu. Dengan cepat Xien membalikkan badannya, dan akhirnya ia dapat melihat dengan jelas ada Dewi yang mendekat ke arah Vino. “Dewi?" batinnya kesal.


Kaki Xien yang tadi ingin beranjak ke toilet terhenti begitu saja. Kakinya seolah paham bahwa ia harus mendengarkan pembicaraan antara Vino dan Dewi untuk mengetahui hubungan yang terjalin antara kedua orang itu. Cukup lama Xien memperhatikan Vino dan Dewi yang berbincang-bincang di tempat yang menjadi titik awal motor Vino berhenti di SMA Samudera, hingga akhirnya Vino tak sengaja menoleh ke arah Xien, dan mendapati dirinya yang masih ada di sana.


Mata Xien melotot tajam, bak kepergok sedang menjadi seorang pencuri. Buru-buru dibaliknya badan dan segera menjauh dari sana.


Sementara Vino masih kebingungan kenapa Xien masih disana? Ia ingin mengejar dan menanyakan hal itu ke Xien, hanya saja alibi Xien yang ingin ke toilet membatalkannya. "Masa iya gue mau ikut Xien ke toilet? Dikira mesum nanti."


-oOo-


Kaki Xien yang sudah di depan pintu XII-MIPA 3 terasa berat untuk dilangkahkan. Ia tidak yakin bisa bertemu dan menghadapi Kean hari ini. Dengan dada yang berdegup kencang ia meyakinkan dirinya memasuki ruang kelasnya. Kean terlihat memainkan ponselnya, Xien yakin Kean sedang memainkan games online-nya.


"Xie, are you okay?"


Sial. Tak disangka-sangka Kean malah berbicara dengannya. Sekuat tenaga Xien berusaha untuk bersikap tenang. "Hm, seperti yang lo lihat," jawabnya tanpa menoleh ke arah Kean.


Kean tak yakin jika Xien baik-baik saja. "Lo mau gue antar ke UKS?" tawarnya.


Xien hanya menggeleng sebagai jawabannya untuk pertanyaan Kean, membuat Kean tak percaya dengannya.

__ADS_1


"Gue antar, Xie, nanti gue jagain lo di sana."


Dalam hatinya Xien terkekeh meremehkan Kean. Kenapa Kean bisa bersikap seperti itu ke dia? Padahal baru saja kemarin ia bermesraan di hadapan publik dengan Rizkha.


"Enggak, Kean," jawab Xien cepat, ia tidak ingin banyak mendengar suara Kean sekarang.


"Caelah Xie, sok-sokan nolak tawaran Kean. Kemarin aja nangis-nangis liat Kean ngasih kejutan buat cewek lain."


Xien memejamkan matanya mendengar suara itu menusuk pendengarannya. Xien yang memang dalam keadaan buruk dengan mudahnya terpancing emosi.


BRAAKK!!!


"Maksud lo apa, hah?!!!" Xien menggeprak mejanya seraya menatap orang yang tadi berbicara.


Orang itu masih terlihat santai di kursinya. "Santuy dong Mbak, gak usah ngegas, semua orang juga tahu kali gimana menyedihkannya lo kemarin waktu liat adegan Kean sama kak Rizkha."


"Vid!" tegur Kean dengan David yang merupakan teman sebangkunya.


"Lo kalau gak tahu permasalahannya gak usah ngomong macam-macam, ya! Dasar banci!" tunjuk Xien dengan orang itu.


“Mulutnya pedas amat sih, mbak!" kini suara David yang mulai meninggi.


"Mulut lo gak pernah diajarin buat ngerem ya, Xie?!" David sudah terpancing pula emosinya.


"Lagi ngomongin diri sendiri, Mas?" Xien balik bertanya ke David.


Baru saja David ingin membalas ucapannya Xien, namun tindakan itu dicegah oleh Kean yang justru membuat Xien makin muak dengan mereka berdua.


"Lo juga Kean, pasti sekarang lo lagi ngerasa di atas angin, kan? Lo pasti ngerasa kalau lo sudah berhasil mempermainkan gue. Setelah lo berhasil bikin gue ngerasa spesial buat lo, terus lo buang gue, gitu kan yang lo mau?" Xien terkekeh sebentar. "Kalau memang itu mau lo, lo mending jangan sok care deh sama gue."


"Tuh, lo kan yang--" ucapan David yang ingin menyambar kalimat yang baru Xien ucapkan dihentikan oleh Kean.


Kean berdiri, kemudian melangkahkan kakinya sedikit mendekat ke arah Xien. "Jadi lo selama ini ngerasa spesial, Xie?"


Sial. Pertanyaan Kean membuat Xien kicep sendiri, hatinya tertohok begitu dalam. Jadi Kean tidak sadar jika perlakuannya selama ini ke Xien sudah membuat Xien merasa spesial?


"Xie, ayo kita ke UKS," ajak Meira yang dari tadi tak berani mengeluarkan suara, berusaha untuk mengeluarkan Xien dari situasi ini.

__ADS_1


"Lo ngerasa spesial dengan perlakuan gue selama ini ke lo? Atas dasar apa lo jadi bisa menyimpulkan itu sendiri tanpa minta pendapat gue, Xie?"


Mata Xien memanas, ia terkejut bukan main saat Kean melontarkan kalimatnya barusan. Apalagi saat tak sengaja ia menatap ke arah David yang menatapnya dengan tatapan meremehkan. Kini Xien benar-benar merasa terpojok. Beberapa teman sekelasnya yang mulai berdatangan satu persatu memperhatikan kejadian itu.


"Ayo, Xie, ke UKS gue antar," pinta Meira yang sudah begitu tak tega melihat Xien terpojok, namun Xien tetap tak menggubrisnya.


Xien tidak boleh kalah dengan kedua lelaki di hadapannya ini, ia berusaha maju selangkah, sedikit mendekatkan dirinya ke Kean, menatap lekat ke dalam manik mata lelaki itu.


"Gue gak ada bilang kalau gue ngerasa spesial ya, Kean. Gue cuman bilang, kalau lo memang punya niat buat bikin gue ngerasa spesial terus setelahnya lo jatuhin gue, gue minta lo gak perlu bersikap sok peduli ke gue." Xien tersenyum simpul sekilas. "Tapi gue rasa orang-orang kayaknya sudah punya pikiran yang sama kayak David, deh. Pada mikir kalau kemarin gue nangis waktu ninggalin lo yang lagi bermesraan di depan publik sama kak Rizkha karena gue cemburu, karena gue sakit hati, tanpa kalian tahu apa alasan sebenarnya yang membuat gue kayak gitu."


"Kalian pikir gak ada kemungkinan yang lain selain gue cemburu? Kalian pikir gak ada hal yang bisa bikin gue nangis di waktu yang bersamaan dengan adegannya Kean?" ucap Xien nyaring agar semua yang ada di kelas mendengar. Ia menatap ke arah David sekilas, kemudian menatap ke Kean setelahnya.


"Yah, gue paham, karena memang sudah kodratnya manusia yang senang menyimpulkan sesuatu dari apa yang mereka lihat, tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Kini ia menoleh lagi ke arah David, menatap tajam lelaki itu. "Makasih loh mas David, sudah bikin mood gue berantakan sepagi ini," ucap Xien kemudian melenggang keluar.


"Sama-sama!" teriak David dengan tampang tak bersalahnya.


-oOo-


Xien hari ini benar-benar kesal dengan Kean. Bisa-bisanya Kean melontarkan pertanyaan seolah membenarkan pernyataan David dan ikut memojokkannya.


“Nanti lo bakalan tahu juga kok, dia bakalan jadi kakak yang paling lo kenal."


Tiba-tiba saja Xien teringat dengan ucapan Dewi. Ia terkekeh. "Pantas sih, Wi, kak Rizkha jadi kakak yang paling gue kenal, bahkan di pertemuan pertama aja gue sudah kenal, kenal banget!"


Sepertinya Xien merasa ada sesuatu yang aneh. "Kenapa lo bisa bertahan di panah, Wi? Bukannya lo juga suka sama Kean?" gumam Xien, namun setelahnya ia menggidikkan bahunya, masa bodoh dengan urusan Dewi.


"Sebenarnya antara Kean sama kak Rizkha ada hubungan apa, sih?"


Cukup lama Xien berpikir, hingga akhirnya ia mendapati satu nama yang terlintas dalam benak, "Meira!" angguknya mantap.


-oOo-


To be continueđź’•


Saranghae,

__ADS_1


Emahsukađź’•


__ADS_2