
Xien saat ini tengah rebahan di kasur empuk Hello Kitty-nya. Seraya memandang langit-langit kamar, otaknya berputar kemana-mana.
"Kenapa aku malah merasa dilema? Aku jatuh cinta ke Kean, tapi aku juga jatuh cinta ke Vino. Kenapa juga aku ngerasa kalau mereka berdua sama-sama menyukai aku? Padahal nyatanya enggak! Kean suka sama kak Rizkha, dan Vino adalah pacarnya kak Rizkha. Kenyataannya, mereka berdua sukanya sama kak Rizkha! Bukan sama aku! Tapi kenapa yang gede rasa sekarang aku?"
Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas dalam kepalanya. "Kean sudah tahu gak sih kalau Vino itu pacarnya kak Rizkha? Apa jangan-jangan Kean belum tahu? Makanya dia anteng-anteng aja. Tapi kayaknya gak mungkin deh kalau enggak tahu, masa kak Rizkha gak terbuka sama sahabatnya, kan?"
Huuuhhh!!!
Xien memejamkan matanya. Xien lelah, benar-benar lelah! Semakin hari semakin rumit saja masalah cintanya.
Cukup lama Xien memejamkan matanya, hingga akhirnya ia kembali membuka mata. Saat itu, samar-samar ia melihat sosok yang sudah begitu jarang ditemuinya. Sosok itu berdiri di pintu kamar seraya menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan kebahagiaan di sana.
Buru-buru Xien bangun dari posisi rebahannya tadi. Ia tidak pernah melihat sosok itu hadir dengan sirat kebahagiaan seperti sekarang, selalu saja biasanya hadir dengan sirat kesedihan, dan kecemasan kalanya menatap Xien.
Setiap kali bertemu dengan sosok ini, Xien tak pernah bisa membuka mulutnya untuk menyuarakan segala pertanyaan yang ada di kepalanya. Mulutnya selalu saja bungkam!
Untuk pertama kalinya, sosok itu mendekati ke arah Xien, membuat tubuhnya kaku menunggu apa yang akan dilakukan oleh sosok itu.
Tanpa Xien duga, sosok itu justru tersenyum ke arahnya. Tangannya menyentuh puncak kepala Xien dan dengan lembut mengelusnya.
Sosok itu duduk di samping Xien seraya menggerakkan tangannya, membentuk kata isyarat yang dipahami oleh Xien.
"Tentukan pilihan kamu. Kamu tidak perlu khawatir untuk memilih siapa, kedua orang itu sama-sama baik. Mereka akan tetap menjaga kamu meskipun kamu memilih salah satu dari mereka. Mama senang karena kamu sudah menemukan orang-orang yang siap melindungi kamu selain nenek. Jaga diri kamu baik-baik, nak. Mama harus pergi, tapi mama akan selalu menjaga kamu. Mama tidak akan datang dalam mimpi kamu lagi. Maaf karena mama selalu membuat kamu ketakutan setelah bertemu dengan mama. Mama hanya ingin memberitahu kalau mama khawatir dengan keadaan kamu. Kalau kamu rindu dengan mama, perhatikan matahari tenggelam dari balkon kamu, mama pastikan saat itu mama bisa melihat kamu dengan sangat jelas, meskipun kamu tidak bisa melihat mama secara langsung."
Itulah kalimat yang bisa Xien terjemahkan dari sosok di hadapannya ini. Dan seperti yang kalian duga, sosok itu memang benar adalah mamanya Xien!
Sosok itu benar-benar ingin beranjak pergi, ia mulai bangkit dan berjalan menuju ke arah balkon Xien.
"Ma ..." suara itu berhasil keluar dari mulut Xien setelah sekian lama.
Sosok itu menoleh Xien.
"Terima kasih karena selalu jagain Xien. Xien sayang sama mama," katanya tulus diiringi dengan bulir bening yang sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
Sosok mamanya benar-benar tersenyum manis ke Xien. Tersenyum. Kemudian menghilang di balik balkon. Saat itulah, Xien juga terbangun dari mimpinya.
Huuuh!!! huuuhhh!!!
Xien menstabilkan detakan jantungnya. Mimpi yang selalu datang itu benar-benar datang lagi. Namun mimpi yang tadi sangat-sangat berbeda. Untuk pertama kalinya, dalam mimpinya itu mamanya menyampaikan sesuatu untuknya, bahkan pesan yang sangat berharga untuknya. Tak terasa, air matanya lagi-lagi membasahi pipinya, satu kalimat yang ia sesali. "Mama tidak akan datang dalam mimpi kamu lagi. Maaf karena mama selalu membuat kamu ketakutan."
Sungguh, Xien benar-benar menyesal, karena setiap kali mimpi tentang kedatangan mamanya yang menemuinya ia selalu saja ketakutan. Harusnya dia tidak ketakutan seperti ini. Harusnya ia senang karena melalui mimpi-mimpi inilah ia bisa bertemu dengan mamanya.
"Maafin Xien, ma," ucapnya dalam tangisan. "Harusnya Xien gak pernah takut kalau mama datang dalam mimpi Xien."
Malam ini, Xien benar-benar menangis, sepanjang malam ia hanya memikirkan tentang rasa bersalahnya itu.
-oOo-
"Sayang, ayo makan dulu!" teriak neneknya Xien dari luar kamar.
Xien yang semalaman suntuk menghabiskan waktu dengan menangis, kini terbangun dengan kondisi yang memprihatinkan. Kantung mata yang tebal, matanya merah, kepalanya pusing, benar-benar memalukan.
"Sayang?"
"Nenek tunggu di meja makan ya, sayang."
"Iya, nek."
Bukannya langsung beranjak dari kasur, tubuh Xien justru semakin enggan meninggalkan tempatnya rebahan itu, semacam ada gaya magnetik begitu kuat dari kasur yang membawa dirinya agar tetap rebahan. Tanpa sadar, mata Xien justru dipejamkan lagi, meski ia masih terjaga belum tidur sepenuhnya.
Baru saja ia memejamkan mata lagi, suara neneknya justru membangunkannya lagi. "Xienna, sayang, kamu masih tidur?"
"Enggak nek, Xien gak tidur, kok."
"Kamu gak sekolah, sayang?"
"Sekolah kok, bentar lagi, nek."
"Ini sudah jam sembilan lo, sayang," ucap neneknya dan secara tak sengaja, ia melihat raut wajah dari cucunya itu. Ia terkejut, sangat-sangat terkejut. Sama seperti keterkejutan Xien yang mendengar kata 'jam sembilan'.
__ADS_1
"Su ... Sudah jam sembilan, nek?!"
"Kamu kenapa, sayang?! Kenapa mata kamu sembab seperti ini?! Kamu menangis?!"
"Yah ... Nek, Xien telat!" pekiknya.
"Gak masalah sekarang kamu telat atau enggak. Yang jadi permasalahannya kamu kenapa, sayang? Apa yang terjadi sama kamu?"
Awalnya, Xien enggan untuk menceritakan tentang mimpinya itu, tapi bagaimana pun neneknya ini harus tahu. Siapa lagi tempat Xien untuk berbagi segala keluh kesah selain pada neneknya? Pada Vino? Hubungan mereka saja sudah begitu renggang.
Xien menceritakan tentang mimpinya kepada neneknya dengan sedetail mungkin, serinci mungkin, tanpa ada satu hal yang terlewat, bahkan tentang perasaannya sekarang pun diceritakannya. Ia tak tahan untuk tidak menangis, di pelukan neneknya, Xien menangis sejadi-jadinya.
"Sudah sayang, sudah ... Kamu gak perlu merasa bersalah, mama kamu pasti mengerti alasan kamu takut."
"Tapi seharusnya Xien gak takut, nek," beritahunya di sela sesegukan.
"Wajar kamu takut, karena selama ini yang kamu lihat itu sosok mama kamu yang menatap tanpa ekspresi, atau ekspresi yang menegangkan, bukan? Ditambah lagi kamu tahu kalau mama kamu sudah tidak ada. Tiba-tiba ditemui dengan ekspresi seperti itu, siapa yang tidak takut?"
"Xien merasa bersalah nek, Xien merasa jadi anak yanh durhaka. Kasihan mama, mama pasti sedih karena merasa bersalah sudah bikin aku takut."
"Justru mama kamu akan merasa sedih kalau lihat kamu seperti ini. Sudah ya, jangan nangis lagi, buktikan sama mama kamu kalau kamu memang baik-baik saja, seperti keinginan mama kamu."
"Tapi Xien benar-benar masih merasa bersalah, nek."
"Sudah, percaya sama nenek. Mama kamu akan merasa bahagia kalau kamu tidak menyalahkan diri kamu sendiri. Ya? Bisa ya, sayang."
Xien mengangguk dengan terpaksa, seraya air matanya dihapuskan oleh sang nenek.
"Nah gitu dong, cucu nenek harus semangat!!!"
"Makasih ya, nek."
-oOo-
Saranghae,
__ADS_1
Emahsukađź’•