
Btw, semoga feel nya di part ini dapat, ya :') Jadi bacanya pelan-pelan aja :') Dan jangan cuman dialognya aja yang dibaca, narasinya baca juga.
Happy Reading💕
-oOo-
Di atas motor Vino, Xien tak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya memilih untuk melingkarkan tangannya ke pinggang Vino dan bersandar di punggungnya
Sementara itu, Vino tak berani memulai pembicaraan, ia membiarkan Xien menenangkan diri terlebih dahulu. Rasa penasaran Vino memang sudah begitu besar untuk menanyakan alasan yang membuat Xien seperti ini, namun satu nama sudah disimpannya baik-baik, nama seseorang yang berani membuat Xien pertama kalinya menangis di SMA Samudera.
"Gue tahu Kean, ini semua salah gue. Gue yang berpendapat bahwa lo suka sama gue layaknya rasa suka gue ke lo. Tanpa gue tahu bahwa ada seseorang yang lain di sana. Seseorang yang nyatanya sudah lebih dulu berhasil mencuri hati lo."
"Lo akhir-akhir ini terlalu baik ke gue, sampai-sampai gue salah artiin kebaikan lo. Lo selama ini terlalu asik ke gue, sampai-sampai gue dengan senang hati menjadikan lo sebagai salah satu tempat ternyaman gue. Tapi seenggaknya kalau memang sikap baik dan asik lo itu murni dan lo gak ada niat buat bikin gue baper ke lo, lo jangan ngelakuin hal yang bikin gue berpendapat kalau lo suka sama gue."
“Lo gak perlu acak-acak rambut gue, lo gak perlu bilang gue princess, bahkan buat hal sepele barter pulpen, lo gak perlu lakuin itu karena gue bakal ngerasa jadi orang spesial buat lo. Lo juga gak perlu bilang bahwa lo disuruh nyari calon istri yang namanya berawalan 'X' kalau ternyata itu cuman guyonan semata buat bikin gue klepek-klepek, karena nyatanya kak Rizkha aja namanya gak berawalan 'X'."
"Lo ngerti gak sih cara kerja hati perempuan? Atau lo memang mau mempermainkan gue?"
Air mata Xien makin jatuh dengan deras. Ia benar-benar kecewa, mungkin bukan kepada Kean, entahlah, mungkin ia kecewa pada dirinya sendiri. Dia yang begitu mudah menerima kedekatannya dengan Kean selama ini dan menganggapnya sebagai perhatian spesial Kean untuknya. Hingga akhirnya tebak-tebakannya tentang Kean yang menyukainya justru menjadi boomerang tersendiri.
Vino dapat merasakan baju bagian punggungnya telah dibasahi oleh sesuatu yang hangat, air mata Xien. Ia tahu bahwa sepanjang perjalanan tadi Xien menangis.
Melihat sosok sahabat yang begitu ia cintai menangis seperti itu, tentu saja besar keinginan Vino untuk menanyakan perihal alasan yang membuat Xien seperti ini, ingin sekali ia memastikan bahwa memang benar satu nama yang ia pegang saat ini adalah orang yang membuat Xien menangis, ingin sekali ia memberi pelajaran pada siapa saja yang berani membuat Xien menangis seperti ini, namun hatinya justru menuntun logikanya untuk tidak terbawa emosi dan bisa berpikiran tenang.
"Xie, sudah sampai.” Alih-alih bertanya ‘mengapa?’ Vino hanya memberitahu saat sudah di depan rumah Xien.
Xien tahu mereka sudah sampai, tapi ia tak berniat untuk beranjak, entah kenapa Xien malah merasa berat untuk melepaskan pelukannya.
"Xie, ayo turun," pinta Vino ramah namun yang terjadi justru sebaliknya, Xien malah mengeratkan pelukan itu. Vino tersenyum tulus, dan Xien tak mengetahui itu. "Ya sudah kalau lo gak mau turun. Gue tunggu sampai lo udah ngerasa mendingan.”
Kurang apalagi coba, pengertian dan perhatiannya Vino?
Kira-kira 15 menit Xien berada di posisi itu, kini akhirnya ia mulai bergerak. Ia mulai melepaskan pelukannya, dan memberi jarak pada Vino. Vino yang merasa Xien sudah lebih baikan dari sebelumnya turun dari motor dan masih membiarkan Xien duduk di sana. Ia memperhatikan setiap sudut wajah Xien dengan seksama. Benar saja, mata Xien terlihat sembab karena menangis. Vino memang sering melihat Xien menangis, tapi tidak untuk masalah di sekolah yang membuatnya menangis. Bagi Vino masalah sekolah yang dialami Xien tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua masalahnya selama ini, mungkinkah alasan yang membuat Xien menangis saat ini begitu besar dan mengalahkan masalah-masalah Xien yang lainnnya?
Xien sadar jika sedari tadi Vino memperhatikannya, tapi tadi ia membiarkan saja, namun rupanya ia jengah juga ditatap terus-menerus seperti itu. "Jangan natap gue gitu, Vin. Gue udah terlihat kaya orang paling menyedihkan di dunia aja," ucapnya serak seraya menatap Vino.
Vino tak menghiraukan ucapan Xien barusan. "Lo kenapa, Xie? Cerita ke gue biar gue bisa bantu."
__ADS_1
Xien terdiam sebentar seperti memikirkan sesuatu, namun bukannya memberikan jawaban dan penjelasan, tiba-tiba saja ia turun dari motor dan langsung menghamburkan pelukannya ke Vino. Di sana Xien menangis sejadi-jadinya. Vino membalas pelukan Xien dengan erat. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Xien, berusaha menenangkannya.
Cukup lama Xien berada dalam pelukan dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Vino, hingga akhirnya ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Vino tanpa melepas pelukannya. "Vin?" panggil Xien dengan suara serak yang terdengar lemah.
Vino menatap Xien yang matanya masih mengalir deras bulir-bulir bening. Tak sadar tangannya dibawa untuk menghapus air mata itu.
"Lo selalu ada buat gue, kan?"
Vino menatap Xien dengan senyum yang setidaknya bisa menenangkan Xien. "Gue usahain, Xie."
"Lo selalu jagain gue, kan?"
Tangan Vino dibawa untuk mengelus pelan rambut Xien. "Gue selalu jaga lo, Xie, meski lewat doa sekalipun."
Meskipun dengan sulit, Xien menyunggingkan senyumannya ketika mendengar ucapan Vino barusan. Di detik selanjutnya Xien kemudian memilih untuk menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Vino, membuat seragam Vino lagi-lagi basah karena air matanya. Sementara Vino tidak keberatan dengan itu, yang penting ia bisa membuat Xien menjadi tenang dan merasa lebih baik, meskipun ia masih belum tahu apa alasan Xien seperti ini. Tanpa merubah posisinya, Xien mengucapkan suatu kalimat yang terdengar samar-samar namun berhasil membuat Vino menegang di tempat.
"Lo kenapa gak ngajakin gue pacaran aja, Vin?"
Pertanyaan Xien benar-benar berhasil membuat Vino menegang. Beberapa detik ia tak bereaksi apa-apa, ia bahkan tak mengacuhkan pertanyaan itu.
"Pertanyaan gue susah ya, Vin?" tanya Xien seraya mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Vino kemudian melepaskan pelukannya, dan memberi jarak pada Vino. "Ya sudah, gue masuk dulu. Thanks ya, Vin," katanya berterima kasih entah untuk hal apa.
Baru saja Xien memutar tubuhnya untuk masuk, kini jalannya dipotong cepat oleh Vino. Ia tak bisa membaca raut wajah Vino tentang apa yang akan dilakukannya. "Lo kenapa tiba-tiba kepengen gue ngajakin lo pacaran, Xie?"
"Kenapa?" desak Vino.
"Ka ... karena ... gu ... gue ngerasa cuman lo yang bisa ngerti gue," jawab Xien terbata-bata karena rasa gugupnya.
Vino menggeleng seraya tersenyum lembut. "Tapi lo gak suka gue, Xie."
"Gue suka lo!" tegas Xien spontan.
Jawaban Xien membuat Vino terkejut, namun sedetik kemudian ia tersenyum simpul. "Gak seperti rasa suka lo ke Kean tapinya," kekeh Vino seraya mengacak-acak rambut Xien, membuat gadis itu tertunduk seraya menggigit bibir.
"Lo tenang aja Xie, gue bakalan usahain selalu ada kapanpun lo butuh gue. Gue janji, gue bakal selalu jagain lo, meskipun gue kadang jaga lo cuman lewat doa. Gue tahu lo lagi punya masalah, tapi jangan gegabah mengambil keputusan seperti lo ngajakin gue pacaran kayak tadi, karena lo lagi dikuasai emosi sekarang. Gue gak mau ketika emosi lo sudah stabil, lo bakalan menyesal, karena belum menyelesaikan masalah yang ada lo udah bikin keputusan yang bisa aja ngundang masalah baru. Dan … lo harus tahu satu hal Xie," kata Vino seraya mengunci tatapan Xien. Ia menatap Xien dengan begitu dalam.
"Bagi gue, hubungan pacaran gak ada apa-apanya dibanding persahabatan," ucap Vino pada akhirnya.
Vino dapat melihat ekspresi bingung dari wajah Xien, untuk itulah ia meneruskan ucapannya. "Lo mungkin akan merasakan kedekatan yang menyenangkan dengan pacar lo, tapi dengan sahabat, kedekatan yang terjalin bukan cuman tentang senang-senang doang, bukan sekedar tentang menyelesaikan masalah dengan memutuskan hubungan kemudian bersikap seperti dua orang asing, tapi kedekatan lo sama sahabat begitu banyak mengajarkan arti kehidupan, salah satunya tentang pemecahan masalah bersama dan menguatkan hubungan, Xie."
__ADS_1
"Gue akui kalau kemungkinan buat seorang cewek dan cowok yang sahabatan buat gak pacaran itu kecil. Seperti kita sekarang. Tapi gue yakin, kita bisa saling membahagiakan satu sama lain, tapi bahagia dengan rasa berbeda, rasa persahabatan. Lo ngerti maksud gue, kan?" tanya Vino seraya tersenyum hangat di akhir kalimatnya.
Xien mengangguk cepat, "Iya, Vin,” jawabnya sambil menjauhkan diri dari Vino. “Udah ya, gue capek, gue perlu waktu sendiri."
Panjang lebar Vino menjelaskan, tapi respon dari Xien hanya seperti itu?
Dengan berat hati Vino mengangguk. "Iya, Xie, gue paham, tapi nanti lo cerita ke gue, ya! Lo belum cerita ke gue alasan lo kayak gini hari ini."
Xien berusaha untuk tersenyum manis, meskipun dengan begitu terpaksa. Tanpa mengucapkan kata lagi, Xien masuk ke rumahnya, meninggalkan Vino yang masih di luar.
BRAAAAKK!!!
Pintu kamar Xien terbanting dengan keras. Di kamarnya Xien langsung menangis sejadi-jadinya. Entah kenapa saat mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Vino malah membuat Xien merasakan sesak di ulu dadanya. Rasa sesak itu bahkan lebih kuat daripada rasa sesaknya karena Kean.
"Gue gak tahu alasan apa yang bikin gue pengen nangis karena ucapan lo, Vin! Tapi rasa gue pengen nangis, ya pengen aja rasanya," katanya sambil menangis dengan deras.
Di kamar ini, Xien bisa dengan leluasa menumpahkan tangisannya. Buru-buru Xien menatap dirinya yang nampak menyedihkan di depan cermin. Mata sembab, rambut acak-acakan, make up yang amburadul, dan seragam yang kusut benar-benar menjadikannya sebagai sosok yang patut dikasihani, namun lagi-lagi ia teringat akan sesuatu.
"Lo kenapa gak ngajakin gue pacaran aja, Vin?"
Saat itu juga tangisannya semakin pecah dalam kamar yang bernuansa Hello Kitty itu, benar-benar deras dan nyaring sekali. "Harusnya sekarang gue menangis karena gue mengingat kejadian romantis Kean dan kak Rizkha, bukan malah ingat hal konyol itu."
Ya, Xien menganggap ajakannya terhadap Vino tadi sebagai hal yang konyol, tanpa tahu bahwa Vino begitu mengharapkan kalimat yang diucapkannya tadi tulus dari hati Xien, bukan karena ia sedang dalam keadaan kalut. "Apa gue terlihat kayak orang bodoh di depan lo, Vin? Gue seakan-akan baru aja nembak lo, dan juga baru aja lo tolak mentah-mentah."
Sungguh, Xien menyesali pertanyaannya ke Vino tadi. Vino benar, dirinya memang sedang dikuasai emosi, sehingga untuk melampiaskan rasa kesalnya dengan Kean, ia menanyakan Vino tentang keinginan untuk menjadikannya pacar.
Sementara itu dari kamar seberang,
"Lo kenapa gak ngajakin gue pacaran aja, Vin?"
“Gue bakalan ngajak lo pacaran, Xie, kalau lo udah gak suka sama Kean lagi tapinya, melainkan suka sama gue. Tapi gue sudah terlanjur bilang kalau hubungan pacaran gak ada apa-apanya dibanding persahabatan,” Vino teringat kata-kata sok bijak yang ia sampaikan ke Xien beberapa menit yang lalu.
“Ah, kenapa gue harus bilang seperti itu ke Xien?”
-oOo-
Cuap-cuap Author:
Sampai jumpa di chapter selanjutnya, ya :)
__ADS_1
Saranghae,
Emahsuka💕