
Xienna Mulia's POV--------------------
"Xie, nanti habis pulang gue bantu adik kelas bu-"
"Bantu apalagi sih, Vin?" tanyaku.
"Bantu persiapan OSN."
Jujur saja, aku tidak suka Vino harus membantu adik-adik kelas itu, alasan saja mau ikut olimpiade, padahal mereka ingin diajari Vino, biar bisa kecentilan sana sini sama Vino. "Serah lo!"
Saat ini aku berniat untuk segera beranjak meninggalkan Vino yang masih ada di atas motornya, tapi Vino menggenggam erat lenganku, ia menahanku agar tidak segera beranjak kemana-mana. Aku tidak tahu, setiap kali Vino menyentuhku, jauh dari lubuk hatiku ada perasaan bergetar di sana.
Apa aku jatuh cinta dengan Vino? Tapi aku yakin tidak, ini hanya perasaan biasa saja. Aku yakin kalau aku tidak jatuh cinta dengan Vino, karena aku hanya jatuh cinta dengan Kean, si lelaki yang tidak pernah melihat keberadaanku.
"Lo gak izinin gue?"
Aku ingin menolak permintaan Vino barusan tapi aku tidak punya hak apa-apa. “Izinin kok,” kataku berusaha tersenyum lembut. "Vin, lo kapan mulai pedekate ke kak Rizkha?"
Vino menghentikan langkah kakinya, kemudian memutar tubuhnya 90 derajat untuk menghadap ke arahku. "Lo maunya kapan?"
"Lebih cepat lebih baik!" jawabku bersemangat.
"Gue kok ngerasa bakalan jadi orang jahat ya, Xie," kata Vino lesu. "Lo mau punya sahabat penjahat?"
Kenapa Vino lagi-lagi mengatakan bahwa ia berat untuk melakukan pendekatan agar bisa jadian dengan kak Rizkha, sih? Apa susahnya kan bikin Rizkha jatuh cinta, lebay amat pakai kata penjahat penjahat segala.
"Halah, bacod lo, Vin. Kalau gak mau harusnya lo gak usah janji ke gue!"
"Xie, mau kemana?" tanya Vino dengan sedikit berteriak saat aku melangkahkan kaki menjauhinya dengan tidak mengambil rute menuju ke kelas.
"BODO, VIN!"
-oOo-
Huh!
Aku tidak tahu apakah aku sanggup menghadapi teman sekelasku setelah kejadian memalukan yang disebabkan oleh Meira. Ya, setelah Meira menandaiku dalam komentarnya di postingan kak Rizkha, membuat teman-teman sekelasku ikut berkomentar di sana, sampai-sampai kak Rizkha menonaktifkan komentar pada postingannya. Sumpah! Mukaku tidak tercipta dengan tingkat ketebalan yang tinggi, jadi aku bisa saja kehilangan muka saat orang-orang akan menggoda atau menertawaiku nanti. Apa aku putar balik saja? Bolos sendirian, tanpa Vino. Ah, tapi kalau Vino tahu pasti aku akan jengah lagi mendengarkan celotehannya. Toh, kalau aku gak hadapin situasi kelas saat ini, nanti juga bakalan dihadapin, 'kan?
"Ya tuhaaaaannn …”
Aku mulai melangkahkan kaki memasuki ruangan kelasku dengan harap-harap cemas. Baru saja aku masuk suara-suara yang membuat telingaku panas mulai menyeruak masuk di pendengaranku.
"Cihuuuuyyy ..."
"Ciyeee ... Xien datang ..."
"Tidur nyenyak dong ya malam tadi, Xie."
Oh, aku tahu suara dari kalimat terakhir itu, David! Lelaki yang satu itu memang memiliki kelainan, mulutnya lemes banget melebihi perempuan! Aku tidak ingin menanggapi ucapan mereka, aku takut jika aku ambil suara, aku akan membuat diriku sendiri makin terjebak dalam rasa malu. Saat aku mengambil kursi untuk duduk, ku lirik sekilas ada Kean yang sudah stay di kursinya, ia selalu lebih dulu datang dibanding aku. Tapi tunggu, kenapa aku merasa jika Kean memperhatikanku? Apa Kean juga akan menggodaku seperti teman yang lainnya?
"Xie?"
Sial. Sekarang apalagi?
__ADS_1
"Xie, lo budeg? Dipanggil Kean tuh!"
Gak salah dengar? Kenapa Meira tiba-tiba menyebalkan seperti ini? Aku curiga kalau Meira sudah terkena virusnya David. Aku melirikkan mata ke arah Meira sekilas, memperlihatkan bahwa aku sedang tidak suka dengan moment sekarang ini.
"Apa?" tanyaku ketus ke Kean tanpa memperhatikannya.
"Kalau ngomong lihat lawan bicara lo kali, Xie."
"Ciyeeeeee ..." tiba-tiba saja teman sekelasku bersorak ketika mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Kean.
Aku terpaksa memutar badanku 180 derajat untuk menghadap Kean. "Apa?" Ku lihat Kean terkekeh melihat reaksiku, sial!
"Lo malu?"
"Ya iyalah, siapa yang gak malu, Kean? Ini semua gara-gara lo Mei!” kataku seraya menatap sinis ke Meira, namun ia tak bereaksi apa-apa.
Ucapanku ternyata dianggap lelucon oleh teman sekelasku yang menyaksikan. Sementara itu ku dengar Kean berdehem sejenak, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Lo gak usah malu, Xie, kan bukan lo duluan yang lakuin hal itu?”
Tiba-tiba Kean menggeser bangkunya ke belakang dan berdiri tegap menghadap pada teman sekelasku yang lain.
"PERHATIAN SEMUANYA! Gue cuman mau ngasih tahu kalian semua, kalau Xien gak ada hubungannya sama kejadian kemarin. Kejadian kemarin murni karena Meira. Jadi, kalian jangan godain Xien, dia gak tahu apa-apa," jelas Kean.
"Ooooohhh ... So sweet banget sih lo, Kean. Andai aja David kayak lo, ya, makin cinta deh gue."
Sontak saja aku menatap Meira yang saat itu sedang menutup mulutnya karena keceplosan. Seisi kelas pun mendadak ricuh karena ucapan Meira. Meira dan David yang sedang terciduk tidak bisa berkata-kata selain menundukkan kepalanya sambil mendengar godaan dari teman sekelasku.
Sekarang topik pembicaraan tidak lagi tentang aku dan Kean, tapi tentang Meira dan David. Tapi sayang, saat itu bu Carreline masuk, jadi pertanyaan yang begitu banyak ada di kepalaku tidak bisa dengan segera ku tanyakan ke Meira.
-oOo-
"Lo mau kemana, Mei?" tanyaku saat melihat Meira yang begitu tergesa-gesa memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Gue mau balik," jawabnya singkat.
Awalnya ku kira Meira berkata seperti itu karena tidak kuat dengan godaan teman-teman sekelas terhadapnya, ternyata dugaanku salah besar.
"Rentenir itu datang lagi, Xie!" beritahunya.
DEG! Dadaku rasanya berhenti berdetak saat itu juga.
"Gue ikut, Mei."
Meira menggeleng. "Gak usah, Xie. Lo di sini aja, gak apa-apa."
"Enggak! Pokoknya gue harus ikut, oke?"
"Serah lo. Gue duluan!" Meira segera berlari secepat mungkin, sedangkan aku masih sibuk membereskan buku-bukuku.
"Ky, gue sama Meira izin balik dulu, ada yang perlu kita urus," izinku ke Wiky yang saat itu sedang memperhatikan kami yang tergesa-gesa. Sebelumnya, tidak lupa untuk aku memberitahu Vino melalui pesan.
"Gue ke rumah Meira, lo kalau pulang duluan aja, Vin."
"Gue tunggu, Xie, di parkiran nanti.
__ADS_1
"Gak usah, Vin, udah ya, gue sibuk."
-oOo-
Saat kakiku sudah sampai di rumah Meira, para rentenir itu sudah tidak ada lagi, tapi yang aku lihat saat itu Meira sedang menangis di pelukan ibunya. Dengan hati-hati aku mendekati mereka. "Meira?"
"Xie." Meira langsung memelukku dengan begitu erat. Ku balas pelukannya juga dengan erat, aku mencoba untuk menenangkannya.
"Sudah, Mei ... Lo tenang ya ... Jangan nangis lagi," kataku sambil mengusap-usap punggung Meira.
"Mei, minum dul-" Suara yang terpotong itu seperti suara dari seseorang yang ku kenali.
"David?" kataku saat melihat siapa yang baru saja keluar dari rumah Meira. "David, lo?"
"Kita bicara di dalam rumah aja ya, Xie, gak enak dilihat tetangga kalau di luar gini," ajak Meira denganku.
Aku mengangguk saja menuruti apa maunya.
Meira menceritakan panjang lebar tentang bagaimana kondisi keluarganya saat ini. Ya, meskipun aku tahu ceritanya dulu sampai tentang kedatangan si rentenir. Namun sekarang aku tahu kalau keluarga David sudah melunasi semua hutang keluarga Meira hari ini, dan itulah penyebab Meira ku lihat menangis saat aku mengunjungi rumahnya tadi, karena menangis bahagia.
Awalnya ku pikir, hubungan Meira dan David salah satu pengganti untuk pelunasan hutang itu. Namun rupanya aku salah besar, Meira dan David ternyata sudah lama berteman, sejak mereka SMP. Ya, meskipun David mulutnya lemeskan ya? Ternyata dia adalah lelaki yang peduli juga. Dan di hari ini, aku melihat ada sosok yang berbeda dari David yang belum pernah ku lihat selama satu kelas dengannya.
"Tapi tetap aja, mulut lo lemes kayak cewek!" kataku mengatai David membuat Meira terkekeh.
"Tapi lo harus tahu kalau gue masih doyan cewek daripada gosip."
"Ya ... Ya ... Untung aja si Meira mau, kalau enggak gue bakalan perang terus sama lo, tahu!"
"Hahahaa ... kalian tuh udah kayak anjing sama kucing, tahu?" kata Meira.
Aku senang melihatnya bisa tertawa tulus seperti ini, sudah begitu lama tawanya dijadikan untuk menutupi kesedihannya.
"Iya emang Mei, pacar lo ini anjingnya."
Perkataanku membuat David melotot, "Enak aja, lo tuh yang anjing!"
"Elo!"
"LO!"
"ELO!"
"Isssshhh ... Apaan sih, udah aku ralat aja, kucing sama tikus, oke?"
-oOo-
Jangan lupa vote + komentar, okey?
Karena tanpa masukan dari kalian aku bakalan tetap stuck di sini-sini aja.
Saranghae,
Emahsuka💕
__ADS_1