
"Saya mencintai Kinanti, Bu, Pak. Bahkan saya sudah bicara jujur pada Atika, dan dia mau mengerti. Dua hari lalu, saya pulang, dan Atika bersedia mundur dari pernikahan ini, sebab dia juga tidak memiliki rasa apapun terhadap saya," jawab Marvin dengan tegas.
Bak tombak yang dihujamkan tepat pada dada Bayu, sebagai seorang Ayah. Putrinya yang sangat ia sayangi, harus merasakan sama mencintainya dengan Marvin Bhaskara. Sebuah fakta yang terungkap, bahwa sebenarnya Kinan dan Marvin sama-sama mencintai. Keduanya hanya terhalang perjodohan Marvin dengan istrinya, Atika.
Baik Cici maupun Bayu sama diamnya. Keduanya bingung, masih terlalu syok dengan apa yang Marvin katakan.
"Jadi, Nak Marvin juga mencintai Kinan?" tanya Bayu menegaskan. Ia tak mau, mendengar setengah-setengah.
"Iya, Pak Bayu. Saya sangat mencintai Kinanti. Hanya saja, saya menolak Kinan sebab Mama dan Papa sudah menjodohkan saya dengan Atika. Sikap saya yang baik dan hangat padanya, tidak mungkin ada jika tidak ada cinta di hati saya untuk Kinan," jawab Marvin dengan mantapnya.
"Jika kalian sama-sama mencintai, bukan berarti kalian bisa saling memiliki, kan? Nak Marvin, dengar saya, sudah ada Atika yang menjadi istri kamu. Pernikahan tidak boleh dijadikan ajang permainan," kali ini suara Cici menimpali.
"Tetapi untuk bersama, saya dan Atika sama tersiksanya, Bu. Atika juga tidak tahan menjalin rumah tangga yang dingin tanpa rasa seperti ini. Jika dipaksakan bersama, rumah tangga ini tidak akan berhasil," jawab Marvin dengan mantap.
"Singkat saja, lalu, apa maksud lain kedatangan nak Marvin kemari?" tanya Bayu pada intinya. Sebenarnya, semenjak mendengar pengakuan Marvin yang katanya mencintai putrinya, Bayu berpikir jika Marvin datang untuk meminta Kinan.
"Saya mencintai Kinan, dan tolong beri saya izin untuk meminang putri Bapak, untuk saya nikahi selepas saya resmi menceraikan Atika. Selama lima tahun, saya cukup tersiksa karena selalu teringat akan Kinan, Pak. Dan sekarang saya yakin dengan hati yang mantap, kalau saya mencintai Kinanti," jawab Marvin tegas.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Bayu kemudian.
"Saya sadar sepenuhnya, Pak Bayu. Saya mengatakan ini atas kemauan saya, tanpa ada tekanan dari siapapun," jawab Marvin.
Cici merasakan hatinya seolah disentak dengan keras. Pantas saja selama ini Kinan tak pernah bisa menghindari bayangan Marvin. Rupanya Marvin juga serupa merasakan rasa yang sama dengan Kinan. Entah bagaimana caranya, keduanya seolah ditakdirkan untuk bersama.
__ADS_1
"Terus terang, saya tidak bisa memutuskan, nak Marvin. Jika kamu memang serius mencintai anak saya, dan Kinan juga mencintai kamu, saya nggak bisa menghalangi niat baik kalian. Akan tetapi, tolong bicarakan ini baik-baik pada istrimu sekali lagi, bicarakan juga pada kedua orang tua kamu. Jika istri nak Marvin di rumah juga tidak menghendaki perjodohan kalian, nak Marvin boleh datang lagi dan bicara pada Kinan. Dan lagi, semua keputusan ada di tangan Kinan, sebab dia dan kamu lah yang akan menjalani pernikahan," putus Bayu kemudian.
Dalam keruwetan hati Marvin, baru kali ini lah dirinya merasakan lega luar biasa. Izin dari Ayah Kinan sudah ia kantongi, tinggal hati Kinanti yang perlu ia raih dan ia yakinkan.
**
"Kinan, kamu di cari seseorang tuh, di belakang," sapa salah seorang teman kerja Kinan.
"Hah? Siapa?" tanya Kinan pada teman perempuan itu. Rekan seprofesi Kinan itu hanya menggidikkan bahu, "dimana dia?"
"Di belakang, di taman belakang Deket tempat parkir karyawan. Tuh dia lagi duduk di bangku panjang," tunjuk Teman Kinan itu, ke arah belakang.
"Ya udah, aku ke belakang dulu. Makasih ya, Jen?" ungkap Kinan yang diacungi jempol oleh temannya itu.
Kinan berjalan seorang diri ke belakang, sebab Tiara sakit hari ini. Begitu tiba di belakang bangunan supermarket tempat Kinan bekerja, Kinan hanya melihat punggung seorang laki-laki yang membelakanginya. Betapa hati Kinan kembali berdenyut nyeri, sebab punggung itu, sangat Kinan kenal.
"Mau apa nyari aku lagi?" tanya Kinan dengan suara dingin. Nadanya terdengar tak suka, namun cukup membuat Marvin tersenyum.
"Mau jemput kamu. Saya sudah meminta izin pada pak Bayu dan Ibu Cici untuk bicara sama kamu, Nan. Ayo, saya antar kamu pulang dan bicara di rumah kamu," ajak Marvin kemudian.
"Enggak terima kasih. Ayo ngomong di sini. Lagian aku bawa motor yang nggak mungkin aku tinggal disini," jawab Kinan.
Tanpa bicara lagi, Kinan segera duduk di kursi seberang Marvin. Posisi keduanya kini tengah berhadapan, saling menatap satu sama lain. Marvin yang menatap datar Kinan, sedang Kinanti menatap tak suka pada lelaki yang dulu sangat ia cintai itu.
__ADS_1
"Tadi pagi saya berkunjung ke rumah kamu, selepas kamu berangkat kerja," ungkap Marvin menjeda kalimatnya, "saya udah tau semua dari cerita Bapak kamu. Maaf. Beri saya kesempatan untuk menjelaskan."
"Dari tadi kamu udah aku kasih kesempatan. Kenapa nggak menjelaskan segera? Cepetan. Aku nggak punya waktu banyak buat orang nggak penting kayak kamu," jawab Kinan dengan suara ketus.
Marvin hanya diam, tersenyum senang dengan kemarahan Kinanti yang terlihat lebih mengemaskan. Astaga, Marvin baru menyadari akan hal ini.
"Se-nggak penting apa saya di mata kamu sekarang? Apa lima tahun berhasil membuat saya jadi nggak berarti lagi di mata kamu?" tanya Marvin dengan suara lembut.
Di tempatnya, Kinan tak menjawab. Gadis itu menatap datar Marvin sekilas, sebelum akhirnya membuang muka. Ia tengah menjaga dan membentengi hatinya, agar tak luluh begitu saja pada kata-kata Marvin.
Dulu, Kinan juga sering mendengar suara lembut lagi lirih Marvin. Sayangnya, dulu Kinan terlalu bodoh dan mudah hanyut dalam pesona Marvin. Sekarang, tidak akan ada lagi luluh dalam kamus Kinan.
"Nan, kamu mendengar saya?" tanya Marvin kemudian.
"Ya," jawab Kinan dengan singkat.
"Kamu masih mencintai saya?" tanya Marvin lagi, semakin menatap lekat Kinanti.
"Nggak. Jangan lagi bicarakan cinta. Karena cinta, aku nggak lagi punya harga diri di mata keluarga kamu. Karena cinta juga, aku menangis dibuatnya. Karena cinta juga, sampai sekarang bahkan aku trauma untuk dekat dengan lelaki manapun. Sekarang, jangan bahas masa lalu, karena nggak ada cinta yang menyakiti," ungkap Kinan sebagai jawaban.
"Saya datang untuk membahas tentang Cinta, Nan, tapi saya datang kembali sama kamu, karena saya juga mencintai kamu. Lima tahun hidup tanpa kamu, membuat saya sadar, kamu begitu berarti dalam hidup saya. Dan saya, pagi tadi ... sudah meminta restu orang tua kamu, untuk bisa meminang kamu," ungkap Marvin panjang lebar.
Rasanya Kinan tak bisa ....
__ADS_1
**