
Sepuluh hari berlalu semenjak kedatangan Marvin ke rumah Bayu. Suasana kini berbeda di rumah Bayu. Ada beberapa tetangga yang tengah datang ke rumah Bayu, dan Ibu-ibu yang juga datang untuk membantu memasak di dapur. Sebuah acara pernikahan akan segera di gelar secara sederhana.
Hari yang tak pernah di duga oleh Kinanti. Pernikahan sederhana akan segera di gelar. Bahkan yang lebih mencengangkan, Atika datang memberikan restunya semalam. Ini di luar nalar. Ada istri yang senang sekali, saat suaminya minta izin hendak menikah lagi. Kinanti ingat, bagaimana reaksi Tika saat itu.
Tetapi inilah kenyataannya Kinanti hanya bisa tersenyum. Dalam bayangan gadis itu, Atika tak jauh berbeda dengan orang tua Marvin yang arogan itu. Alih-alih arogan, yang ada Atika justru baik dan lembut, mudah bergaul juga ramah.
Setelah tiba di waktu sore seperti ini, Atika justru datang mengantar Marvin, untuk melakukan rangkaian ijab Qabul dengan Ayah Kinan, Bayu.
Kinan menunggu acara di mulai, duduk di kursi meja rias dengan balutan kebaya brokat putih dan jilbab putih serta jarik Prada emas. Gadis itu tampak cantik dan anggun, meski yang melekat pada tubuhnya, tidak terbilang mewah dan glamour.
Di tepi ranjang, Bayu duduk menatap putrinya yang cantik jelita itu. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dada lelaki paruh baya itu.
"Kamu sudah yakin dengan pilihan kamu ini, Nan? Sebelum telanjur jauh, Bapak hanya mengingatkan sebagai orang tua. Masih ada waktu beberapa menit untuk membatalkan semuanya, jika kamu tak mau dengan Marvin," ujar Bayu pada putrinya itu.
"Kinan sudah yakin, Pak. Doakan yang terbaik untuk kami. Kinan yakin Kinan bisa bahagia dengan Marvin. Lagi pula, kami sudah melangkah sejauh ini," jawab Kinan, "lagi pula, kamu saling mencintai, jadi tak ada salahnya, kan?" tanya Kinan.
"Nggak ada yang salah," Bayu tampak membuang napasnya kasar, pertanda lelah, "tetapi kamu tau apa konsekuensi menikah dengan nak Marvin. Bapak percaya dia orang baik, tapi tidak dengan keluarganya," sambung Bayu kemudian.
"Pelan tapi pasti, Kinan akan berusaha mengambil hati orang tua mas Marvin, Pak. Doakan saja. Kinan pasti bisa. Kinan hanya minta restu Bapak, agar semua tujuan Kinan di mudahkan. Kinan mohon sama Bapak," pinta Kinan.
Kedua tangan Kinanti terulur meraih tangan Bayu dan menggenggamnya. Bayu tersenyum penuh kebanggaan.
Sejak dulu, Kinan memang keras kepala. Apa yang gadis itu inginkan, selalu ia berjuang keras untuk mendapatkannya.
"Bapak selalu doakan kamu," ucap Bayu kemudian.
__ADS_1
Pintu kamar Kinanti diketuk dari luar, dan terbuka sebab Cici mengantar Atika yang ingin bertemu dengan mempelai wanita.
"Nan, ada mbak Atika, mau ngomong sebentar sama kamu," ucap Cici yang membuka pintu, lantas menutupnya, "Acara ijab akan di gelar sekitar dua puluh menit lagi jangan terlalu lama, ya, bicaranya?" ucap Cici seraya menatap Atika.
"Iya, Bu. Terima kasih sudah mengizinkan saya bicara dengan Kinan sebentar," jawab Tika. Cici hanya mengangguk, dan keluar bersama Bayu tanpa kata.
"Duduk, Mbak Tika," sapa Kinanti, mempersilahkan Atika agar duduk di kursi dekat jendela. Atika juga meletakkan kado kecil untuk Kinanti, diatas ranjang.
"Terima kasih, Kinan. Kamu cantik sekali. Pantesan Marvin gila selama lima tahun terakhir," ungkap Atika seraya terkekeh pelan.
Pandangan wanita itu beralih menatap ke sekeliling ruangan. Meski sempit, namun semua perabotan dalam kamar Kinan tampak tertata rapi dan bersih. Hiasan simpel berupa bunga hidup di ujung ranjang, membuat suasana kamar tampak lebih hidup.
"Mbak Tika bisa aja," balas Kinan dengan kikuk.
Kinanti menatap wanita itu, memandangnya dari ujung kaki hingga kepala. Raut bahagia tampak jelas tercetak pada wajah Atika. Tak hanya itu, Atika juga tampak cantik sempurna di usia yang terbilang matang. Cantik. Satu kata itulah yang pantas Kinan sematkan pada Atika.
"Mbak, apa kira-kira nanti keluarga mas Marvin akan nerima aku?" tanya Kinan pada Atika. Inilah yang mengganggu pikiran kinanti.
Atika terdiam, takut untuk menjanjikan keadaan mewah dan sebuah penerimaan Marvin. Sebagai menantu, Atika tahu betul bagaimana sikap arogansi keluarga Marvin. Mereka tak akan berlalu baik pada siapapun yang tidak ingin mereka terima.
"Semoga menerima. Biar gimana pun, kamu istri Marvin sekarang, wanita yang Marvin Bhaskara cintai, menggantikan posisiku yang tertekan jadi istri Marvin. Aku percaya, kamu wanita yang bisa dengan mudah mendapatkan hati orang tua Marvin. Pada dasarnya, mereka orang baik," jawab Atika kemudian.
Kinanti tersenyum, memiliki kekuatan baru untuk melawan ketakutannya akan keluarga Marvin yang dulu semena-mena terhadap dirinya.
"Nan, kamu harus dengar ini. Marvin sangat mencintai kamu. Bahkan kalau malam sering dia mengigau nama kamu," sambung Atika.
__ADS_1
"Apa, kalau malam mbak Atika tidur seranjang sama mas Marvin?" tanya Kinan, yang di jawab tawa oleh Atika.
"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Atika kemudian.
"Enggak. Kalau pun kalian seranjang, itu wajar dan hak kalian. Kan sudah halal," jawab Kinan, meski sejujurnya, hati Kinan tak enak juga membayangkan.
"Hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis, nggak lebih," ungkap Atika, "Aku pengen, dia juga pengen, ya jadilah kami berhubungan untuk memenuhi kebutuhan biologis saja. Selebihnya, nggak ada perasaan. Itupun, kami jarang melakukannya. Jangan khawatir," jawab Atika dengan gamblangnya.
Kinan mengerjapkan matanya beberapa kali. Gadis itu tidak tahu lagi dengan sepasang suami istri yang mau bercerai itu. Mereka aneh.
"Bagaimana mungkin, melakukan hubungan begituan, tapi tanpa ada perasaan cinta?" tanya Kinan tak habis pikir.
Atika ingin sekali meledakkan tawa, andai saja tidak banyak orang di luar kamar Kinanti.
"Suatu saat kamu akan mengerti, Kinan. Sudah waktunya kamu dan Marvin sama-sama bahagia setelah sekian lama kalian berpisah. Kamu benar-benar wanita satu-satunya yang bisa membuat Marvin tertawa. Ya udah, aku keluar dulu. Selamat sekali lagi buat kamu dan Marvin," ucap Tika seraya bangkit dan berlalu pergi.
Di dalam kamar, Kinanti terdiam seraya menghadap cermin di meja rias. Wajahnya tak seperti wajah dirinya sehari-hari. Polesan make up dari tenaga rias pilihan Atika, berhasil membuat Kinan tampak cantik layaknya wanita Jawa tulen.
"Aku yakin apapun yang terjadi ke depannya, orang tua kamu pasti bisa nerima aku suatu saat nanti, Mas Marvin," ujar Kinan bermonolog seorang diri.
Pernikahan yang di gelar ini, semata karena demi kebahagiaan Marvin dan Kinan. Tak ada salahnya bagi Kinan, untuk mereka agar mengejar kebahagiaan dengan bersatu menjadi sepasang suami istri.
Kinan sudah yakin dengan pernikahan ini.
**
__ADS_1