
Sebuah rumah tangga yang terjalin atas dasar cinta, tidak selalu akan merasa bahagia. Hidup memang kerap kali mengutamakan cinta sebagai dasar keluarga, namun tidak menjamin bahwa cinta saja, cukup untuk membuat sebuah rumah tangga yang penuh bahagia.
Seperti pernikahan Kinanti dan Marvin. Keduanya memang saling mencintai, namun badai tak henti-hentinya akan terus menerjang cinta mereka. Tak ada yang salah dari mereka. Hanya saja, orang tua Marvin akan selalu memusuhi Kinan dan akan menghalalkan segala cara, agar Kinan tidak betah mempertahankan rumah tangganya dengan Marvin.
Pagi ini, Marvin sudah bersiap hendak bekerja di perusahaan keluarganya. Lelaki itu sudah siap dengan setelan celana dark grey dan kemeja soft grey. Tak lupa, dasi yang bertengger pada kerah lehernya, membuat Marvin semakin gagah. Jas yang serupa warna dengan celana pria itu, juga membuat Marvin tampak lebih berwibawa.
Usianya sudah tiga puluh lima tahun, namun ia belum juga memiliki buah hati. Sebulan lebih menikahi Kinanti, ia harap sebentar lagi akan ada kabar gembira mengenai kehamilan Kinan.
"Mas, kamu ganteng," kata Kinan tanpa malu lagi. Wanita itu tak pernah berhenti memuja dan memuji suaminya dengan kalimat manis. Nyatanya, hati Kinan sudah terpaut sangat erat pada lelakinya itu.
"Kamu yakin, kalau saya ganteng? Tapi saya udah om-om, Nan," ujar Marvin menimpali.
"Nggak apa-apa sudah om-om. Yang penting ganteng," sahut wanita itu, membuat Marvin terkekeh di tempatnya.
Keduanya lantas berpelukan, kembali mendeklarasikan rasa sayang yang sudah tersimpan sejak lama. Entahlah, Kinanti benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya yang saat ini.
"Nan, selama saya bekerja nanti, tolong jangan banyak bicara dengan Mama, terlebih dengan Papa ataupun Dewi. Aku nggak mau, mereka menindas kamu. Lakukan hal secukupnya saja di luar kamar. Maaf, kalau aku membuat kamu harus terkurung di dalam kamar selama saya bekerja. Saya khawatir kamu dikatai ataupun di hina oleh Mama," ujar Marvin kemudian.
"Iya, Mas. Maaf, kalau aku bikin kamu khawatir. Nggak apa-apa, perlahan aku akan bisa mengambil dan meluluhkan hati Mama," ujar Kinan kemudian.
"Makasih banyak, kamu sudah nurut sama saya," ungkap Marvin kemudian.
Kinan mengangguk, seraya melepas kepergian suaminya untuk pergi ke kantor.
"Jangan banyak pikiran supaya kamu cepat hamil. Saya sudah tidak sabar ingin mendengar kabar baiknya, dengan kamu segera hamil anak saya. Jangan terlalu lelah. Kalau kamu bisa di dalam kamar, ambil ponsel dan belanja online sepuas kamu, nanti biar saya yang membayar semua tagihannya. Kalau saya pulang sore, nanti malam kita ke bidan segera untuk konsultasi kehamilan," pesan Marvin panjang lebar.
__ADS_1
Tak lupa, Marvin juga mengecup lembut kening istrinya, rutinitas yang ia lakukan setiap pagi selama mereka menikah.
Perempuan mana yang tidak terhanyut oleh kelembutan yang seperti ini?
"Iya, Mas. Aku nggak akan banyak tingkah di rumah," jawab Kinan tersenyum ceria.
Marvin pergi, meninggalkan Kinan yang tampak cantik dengan setelan dress berwarna tosca. Senang hati wanita itu, membuatnya siap menyambut pagi hari yang cerah. Tak peduli bagaimana pun keluarga Marvin memperlakukan dirinya, Kinan akan tetap maju unjuk diri.
Setibanya di lantai bawah, Kinan tidak mendapati siapapun di dalam rumah. Suasana rumah tampak lengang, hanya menyisakan mbok Sri dan salah satu pembantu lain, yang Kinan tidak tahu siapa namanya.
"Mbok, kok sepi, ya? Pada kemana?" tanya Kinan ramah, dan mbok Sri menatap Kinan sebelum akhirnya ia menunduk. Rasanya Kinan tak nyaman, sebab semua orang di rumah ini, termasuk pembantu, menjaga jarak dengan dirinya.
"Bapak sudah keluar, Non. Kalau Ibu sama non Dewi, ada di taman belakang," jawab mbok Sri. Sejujurnya, entah mengapa sejak dulu Mbok Sri terkesan tidak begitu suka pada Kinanti. Namun melihat Kinan sepertinya di musuhi di rumah ini, Mbok Sri jadi iba.
Hal ini membuat mbok Sri tentu memiliki rasa penasaran, tentang bagaimana Kinan sebenarnya. Ingin mengenal Kinan lebih jauh.
Sebagai wanita yang datang ke rumah Bhaskara, dengan latar belakang dari keluarga miskin, Kinan cukup tahu diri, dan tak ingin datang dengan santainya, ongkang-ongkang kaki dan menikmati seluruh fasilitas mewah di rumah ini, tanpa melakukan pekerjaan rumah. Menantu yang tak di kehendaki itu, akhirnya sadar, ia perlu melakukan banyak hal di rumah ini.
"Nggak usah, Non. pekerjaan di rumah ini banyak, dan sudah ada bagiannya masing-masing. Semua pekerja rumah, sudah ada jatah untuk pembantu masing-masing. Lebih baik Non Kinan istirahat saja," jawab mbok Sri yang tak ingin membuat masalah.
Marvin mungkin akan menyalahkan dirinya, jika dirinya membiarkan Kinan melakukan tugas pembantu, bila melihat Kinan melakukan pekerjaan rumah.
"Nggak apa-apa, mbok," kata Kinan yang segera melihat ke arah dapur, "itu sepertinya ada yang di masak. Biar Kinanti bantu," sambungnya lagi.
Kinan segera berlalu, menuju ke dapur dan masuk tanpa banyak bicara. Dua pembantu lain yang ada di dapur, tentu terkejut akan kedatangan Kinan.
__ADS_1
"Biar Kinan bantu, Mbok," kata Kinan, menatap dua orang pembantu yang menunduk padanya.
"Sebaiknya jangan, Non. Lebih baik Non Kinan kembali ke kamar," mbok Sri berkata sedikit tegas.
"Tapi saya bosan di dalam kamar terus, Mbok. Nggak apa-apa. Lagi pula Kinan menantu di rumah ini. Nira Kinan bantu-bantu di sini," jawabnya keras kepala.
"Tapi, Non .... " mbok Sri tak jadi melanjutkan kalimatnya, sebab suara Dewi dari ujung dapur menghentikannya.
"Biarkan saja, mbk Sri, Bi Nung dan Bi Yem, Biarkan wanita itu melakukan tugasnya di rumah ini. Wanita murahan dan nggak tau malu yang sebagai menantu, sudah sepantasnya dia bantu-bantu dan nggak nganggur. Biarkan saja dia melakukan tugas pembantu, dan nggak datang sekadar numpang saja," ujar Dewi dengan pedasnya.
Kinanti tersenyum, tanpa marah sedikitpun. Senyum terbit di bibirnya. Ia sudah menduga, dirinya akan di perlakukan dengan kejam di rumah ini. Mentalnya sudah siap. Hanya saja, ia tidak tahu betul, seberapa kejam keluarga suaminya itu.
"Sekalian, biar dia beres-beres. Suruh nyetrika setelah masak, juga dia harus membersihkan seluruh rumah ini. Datang dan hanya numpang di rumah ini, sudah sepantasnya dia bantu-bantu pekerjaan rumah. Orang miskin memang seharusnya datang dengan tahu diri. Ayo semua bubar, biar menantuku yang melakukan semuanya," senyum picik Rindi mulai terbit.
Tentu sua pembantu pergi satu persatu, menyisakan Kinan, Dewi dan Rindi di dalam dapur.
"Rasakan, ini baru permulaan, Kinan. Kamu akan rasakan sendiri, kalau menjadi menantu Bhaskara, tak seindah yang kamu pikir. Cinta Marvin saja nggak cukup untuk membuat kamu ada di rumah ini. Saya jijik lihat wanita rendah kayak kamu!" ujar Rindi yang berlalu pergi.
Dan Kinan terkejut bukan main, ketika Dewi melewati dirinya seraya mendorong Kinan hingga Kinan jatuh ke belakang.
"Dasar payah. Miskin-miskin kok nekat. Kalau nggak demi harta dan fasilitas mewah, mustahil kamu mau berjuang. Kalau sampai kamu membuat kakakku terluka, aku sendiri yang akan bunuh kamu!" kata Dewi dan ikut berlalu pergi.
Kinan hanya bisa mengelus dada, seraya bersimpuh di lantai.
Ipar dan mertua, nyatanya tak sebaik yang orang-orang katakan.
__ADS_1
**